Proses dan Prinsip-Prinsip Pembelajaran Model Manajemen Mutu Terpadu

3

April 29, 2009 by kamalfuadi


I. Pendahuluan

Pendidikan merupakan faktor utama dalam pembentukkan pribadi manusia. Pendidikan merupakan kegiatan universal yang ada dalam kehidupan manusia. Di manapun di dunia terdapat masyarakat, disanalah terdapat pendidikan. Meskipun pendidikan merupakan suatu gejala yang umum dalam setiap kehidupan masyarakat, namun perbedaan filsafat dan pandangan hidup yang dianut oleh masing-masing bangsa atau masyarakat menyebabkan adanya perbedaan penyelenggaraan termasuk perbedaan sistem pendidikan[1].

Pendidikan merupakan suatu proses yang dinamis. Hal ini dimengerti karena pendidikan harus selalu disesuaikan dengan semangat zaman agar selalu sesuai dengan tuntutan zaman yang selalu mengalami perkembangan[2]. Reformasi pendidikan merupakan respon – baik secara proaktif maupun reaktif – sekaligus suatu keniscayaan terhadap perkembangan tuntutan global sebagai suatu upaya untuk mengadaptasikan sistem pendidikan yang mampu mengembangkan sumber daya manusia untuk memenuhi tuntutan zaman yang sedang berkembang. Melalui reformasi pendidikan, pendidikan harus berwawasan masa depan yang memberikan jaminan bagi perwujudan hak-hak azasi manusia untuk mengembangkan seluruh potensi dan prestasinya secara optimal guna kesejahteraan hidup di masa depan.

Undang – undang sisdiknas tahun 2003 menyatakan pendidikan nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat, dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta  didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahlak, sehat beriman, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab[3].

Salah satu aspek penting dalam pendidikan adalah proses pembelajaran. Aspek ini seringkali memang menjadi fokus penting dalam pendidikan. Bahkan pendidikan, walaupun memiliki makna yang luas, lebih cenderung dimaknai sebagai proses pembelajaran an sich. Namun demikian, pembelajaran yang selama ini sudah dan sedang dilakukan, belum menyentuh substansi serta harapan yang ingin dicapai. Pembelajaran yang dilakukan hanya merupakan pembelajaran asal-asalan yang tidak mempunyai dasar pijakan yang kuat, sehingga pembelajaran tidak memenuhi harapan stake holder pendidikan karena dipandang tidak memiliki mutu yang baik dan menghasilkan output dengan mutu yang tidak baik pula. Dalam konteks inilah, Manajemen Mutu Terpadu (MMT) memiliki signifikansi implementasi dalam ranah pembelajaran.

II. Tentang Pembelajaran

a) Definisi Pembelajaran

Interaksi antarmanusia dapat terjadi dalam berbagai segi kehidupan di belahan bumi, baik dibidang pendidikan,ekonomi, sosial, politik budaya, dan sebagainya. Interaksi di bidang pendidikan dapat diwujudkan melalui interaksi siswa dengan siswa, siswa dengan guru, siswa dengan masyarakat , guru dengan guru, guru dengan masyarakat disekitar lingkungannya.

Apabila dicermati proses interaksi siswa dapat dibina dan merupakan bagian dari proses pembelajaran, seperti yang dikemukakan oleh Corey (1986 ) dalam Syaiful Sagala dikatakan bahwa[4] :

“ Pembelajaran adalah suatu proses dimana lingkungan seseorang secara sengaja dikelola untuk memungkinkan ia turut serta dalam tingkah laku tertentu dalam kondisi- kondisi khusus atau menghasilkan respons terhadap situasi tertentu.”

Selanjutnya Syaiful Sagala , menyatakan bahwa pembelajaran mempunyai dua karakteristik, yaitu[5] :

Pertama, dalam proses pembelajaran melibatkan proses berfikir. Kedua , dalam proses pembelajaran membangun suasana dialogis dan proses Tanya jawab terus menerus yang diarahkan untuk memperbaiki dan meningkatkan kemampuan berfikir siswa , yang pada gilirannya kemampuan berfikir itu dapat membantu siswa untuk memperoleh pengetahuan yang mereka konstruksi sendiri. “

Dari uraian diatas, proses pembelajaran yang baik dapat dilakukan oleh siswa baik didalam maupun diluar kelas, dan dengan karakteristik yang dimiliki oleh siswa diharapkan mereka mampu berinteraksi dan bersosialisasi dengan teman- temannya secara baik dan bijak.

Dengan intensitas yang tinggi serta kontinuitas belajar secara berkesinambungan diharapkan proses interaksi sosial sesama teman dapat tercipta dengan baik dan pada gilirannya mereka saling menghargai dan menghormati satu sama lain walaupun dalam perjalanannya mereka saling berbeda pendapat yang pada akhirnya mereka saling menumbuhkan sikap demokratis antar sesama.

b) Pergeseran Paradigma Pembelajaran

Paradigma metodologi pendidikan saat ini disadari atau tidak telah mengalami suatu pergeseran dari behaviorisme ke konstruktivisme yang menuntut guru dilapangan harus mempunyai syarat dan kompetensi untuk dapat melakukan suatu perubahan dalam melaksanakan proses pembelajaran dikelas. Guru dituntut lebih kreatif, inovatif serta menempatkan siswa tidak hanya sebagai objek belajar tetapi juga sebagai subjek belajar dan pada akhirnya bermuara pada proses pembelajaran yang menyenangkan, bergembira, dan demokratis yang menghargai setiap pendapat sehingga pada akhirnya substansi pembelajaran benar-benar dihayati[6].

Sebelumnya, paradigma pembelajaran yang berkembang merupakan paradigma yang memandang pembelajaran sebagai transformasi pengetahuan an sich. Dalam istilah lain, pembelajaran yang terpusat pada guru (teacher centered). Oleh karena guru yang menjadi pusat segalanya, maka merupakan hal yang lumrah saja jika murid-murid kemudian mengidentifikasikan diri seperti gurunya sebagai prototipe manusia ideal yang harus ditiru dan digugu, harus diteladani dalam semua hal. Freire menyebut pendidikan semacam itu menciptakan “nekrofili” dan bukannya melahirkan “biofili”[7].

Implikasinya lebih jauh adalah bahwa pada saatnya nanti murid-murid akan benar-benar menjadikan diri mereka sebagai duplikasi guru mereka dulu, dan pada saat itulah akan lahir lagi generasi baru manusia-manusia penindas. Jeka diantara mereka ada yang menjadi guru atau pendidik, maka daur penindasan segera dimulai dalam dunia pendidikan, dan demikian terjadi seterusnya. Sistem pendidikan, karena itu, menjadi sarana terbaik untuk memelihara keberlangsungan status-quo sepanjang masa, bukan menjadi kekuatan penggugah (subversive force) ke arah perubahan dan pembaharuan. Bagi Freire, sistem pendidikan sebaliknya justru harus menjadi kekuatan penyadar dan pembebas umat manusia. Sistem pendidikan mapan selama ini telah menjadikan anak-didik sebagai manusia-manusia yang terasing dan tercerabut (disinherited masses) dari realita dirinya sendiri dan realitas dunia sekitarnya, karena ia telah mendidik mereka menjadi ada dalam artian menjadi seperti yang berarti menjadi seperti orang lain, bukan menjadi dirinya sendiri[8].

Dalam bidang pembelajaran, filsafat konstruktivisme sangat mempengaruhi profesi guru sebagai pengajar dan pendidik. Filsafat konstruktivisme secara kuat mengubah paradigma pembelajaran baik bagi siswa maupun guru. Secara singkat, siswa hanya dapat mengerti bila mereka sendiri belajar dan membangun pengetahuan mereka (konstruksi). Maka tugas guru bukan lagi sebagai pentransfer pengetahuan dari otaknya kepada otak siswa. Tugas guru berubah menjadi lebih sebagai fasilitator yang membantu agar siswa sendiri belajar dan menekuni bahan. Maka ada perubahan paradigma dalam pembelajaran, dari model guru aktif dan siswa pasif, menajadi siswa aktif belajar dan guru sebagai fasilitator yang membantu[9].

Kita yakin pada saat ini banyak guru yang telah melaksanakan teori konstruktivisme dalam pembelajaran di kelas tetapi volumenya masih terbatas, karena kenyataan dilapangan kita masih banyak menjumpai guru yang dalam mengajar masih terkesan hanya melaksanakan kewajiban. Ia tidak memerlukan strategi, metode dalam mengajar, baginya yang penting bagaimana sebuah peristiwa pembelajaran dapat berlangsung.

Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar dimana pengajar masih memegang peran yang sangat dominan, pengajar banyak ceramah (telling method) dan kurang membantu pengembangan aktivitas murid. Praktek pembalajaran masih didominasi teori belajar asosiasi dan behavioristik. Yang ditandai dengan konsepsi bahwa pikiran terbentuk oleh asosiasi stimulus-respon, belajar merupakan akumulasi butiran atomistik pengetahuan, belajar melalui urutan yang ketat, setiap tujuan pembelajaran dinyatakan secara eksplisit, test-teach-test sebagai pola umum jaminan belajar, tes isomorfis dengan belajar, dan motivasi didasarkan reinforcement positif tiap tahapan belajar[10].

Dari uraian diatas, tidak dipungkiri bahwa dilapangan masih banyak guru yang masih melakukan cara seperti pendapat diatas, dan diakui bahwa banyaka faktor penyebabnya sehingga kita akan melihat akibat yang timbul pada peserta didik, kita akan sering menjumpai siswa belajar hanya untuk memenuhi kewajiban pula, masuk kelas tanpa persiapan, siswa merasa terkekang, membenci guru karena tidak suka gaya mengajarnya, bolos, tidak mengerjakan tugas yang diberikan guru, takut berhadapan dengan mata pelajaran tertentu, merasa tersisihkan karena tidak dihargai pendapatnya, hak mereka merasa dipenjara , terkekang sehingga berdampak pada hilangnya motivasi belajar, suasan belajar menjadi monoton, dan akhirnya kualitas pun menjadi pertanyaan.

Dari permasalahan yang ada , sekolah dalam hal ini kepala sekolah, guru dan stake holders mempunyai tanggung jawab terhadap peningkatan mutu pembelajaran di sekolah terutama guru sebagai ujung tombak dilapangan (di kelas) karena bersentuhan langsung dengan siswa dalam proses pembelajaran .

c) Implementasi dan Prinsip-prinsip Manajemen Mutu Terpadu dalam Proses Pembelajaran

Total Quality Management (TQM) merupakan suatu pendekatan dalam menjalankan usaha yang mencoba untuk memaksimumkan daya saing organisasi melalui perbaikan terus menerus atas produk, jasa, tenaga kerja, proses dan lingkungannya. Untuk mencapai usaha tersebut digunakan sepuluh unsur utama TQM, yaitu fokus pada pelanggan, obsesi terhadap qualities, pendekatan ilmiah, komitmen jangka panjang, kerjasama tim, perbaikan kerkesinambungan, pendidikan dan latihan, kebebasan terkendali, kesatuan tujuan, dan ketertiban serta pemberdayaan karyawan Ada empat prinsip utama dalam TQM, yaitu : kepuasan pelanggan, respek terhadap setiap orang, manajemen berdasarkan fakta, dan perbaikan berkesinambungan[11].

Edward Sallis (1993), sebagaimana dikutip Syafaruddin menyatakan bahwa Management is a philosophy and a methodology which assists institutions to manage change and to set their own agendas for dealing with the plethora of new external pressures. Pendapat ini menekankan pengertian bahwa manajemen mutu terpadu merupakan suatu filsafat dan metodologi yang membantu berbagai institusi, terutama industri, dalam mengelola perubahan dan menyusun agenda masing-masing untuk menanggapi tekanan-tekanan faktor eksternal[12].

Pengertian mengenai TQM bisa dibagi ke dalam dua aspek. Aspek pertama menguraikan TQM sebagai sebuah pendekatan dalam menjalankan usaha yang berupaya memaksimumkan daya saing melalui penyempurnaan secara terus menerus atas produk, jasa, manusia, proses, dan lingkungan organisasi. Aspek kedua menyangkut cara mencapainya dan berkaitan dengan sepuluh karakteristik TQM yang terdiri atas : (a) focus pada pelanggan (internal & eksternal), (b) berorientasi pada kualitas, (c) menggunakan pendekatan ilmiah, (d) memiliki komitmen jangka panjang, (e) kerja sama tim, (f) menyempurnakan kualitas secara berkesinambungan, (g) pendidikan dan pelatihan, (h) menerapkan kebebasan yang terkendali, (i) memiliki kesatuan tujuan, (j) melibatkan dan memberdayakan karyawan[13].

Mutu (quality) adalah sebuah filsosofi dan metodologi, tentang (ukuran) dan tingkat baik buruk suatu benda, yang membantu institusi untuk merencanakan perubahan dan mengatur agenda rancangan spesifikasi sebuah produk barang dan jasa sesuai dengan fungsi dan penggunannya agenda dalam menghadapi tekanan-tekanan eksternal yang berlebihan.

Peningkatan mutu pembelajaran adalah suatu proses yang sistematis yang terus menerus meningkatkan kualitas proses belajar mengajar dan faktor-faktor yang berkaitan dengan itu, dengan tujuan agar target sekolah (pendidikan) dapat dicapai dengan lebih efektif dan efisien. Peningkatan mutu berkaitan dengan target yang harus dicapai, proses untuk mencapai dan faktor-faktor yang terkait. Dalam peningkatan mutu ada dua aspek yang perlu mendapat perhatian, yakni aspek kualitas hasil dan aspek proses mencapai hasil tersebut. Birmingham City Council menyatakan bahwa peningkatan mutu sejatinya adalah: Quality development is essentially a process. It is a strategy, a way of working that facilitates changes and supports development. Quality development makes a difference to learning and teaching by providing the stimulus and practical support for colleagues to build monitoring and evaluation to their work[14].

Proses peningkatan mutu berakar dari ruang kelas. Guru mengatur pembelajaran, dan peningkatan harus melibatkan guru dalam prosesnya. Ilustrasi di bawah ini menggambarkan bagaimana guru bertindak dalam peningkatan mutu di raung kelas dan bagaimana guru berinteraksi dengan stake holders pendidikan di luar kelas.

ACT PLAN

CHECK DO

Proses Dinamis Pembelajaran

K

NEGARA

MASYARAKAT

SEKOLAH

KELAS

Fokus Pengembangan Sekolah

Teori Manajemen Mutu Terpadu (MMT) atau yang lebih dikenal dengan Total Quality Management.(TQM) akhir-akhir ini banyak diadopsi dan digunakan oleh dunia pendidikan dan teori ini dianggap sangat tepat dalam dunia pendidikan saat ini. Dalam konteks MMT, pendidikan memiliki arti[15]:

· Pendidikan adalah industri jasa atau industri pelayanan yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan-pelanggannya.

· Pendidikan mempunyai pelanggan

· Pelanggan pendidikan mempunyai harapan dan kebutuhan

· Pendidikan direncanakan untuk bisa memenuhi kebutuhan dan harapan pelanggan.

· Pendidikan yang bermutu adalah pendidikan yang dapat memenuhi atau melebihi kebutuhan dan harapan pelanggannya.

TQM yang diterapkan dalam pendidikan mempunyai arti filosofi perbaikan terus menerus di mana lembaga pendidikan menyediakan seperangkat sarana atau alat untuk memenuhi bahkan melampaui kebutuhan, keinginan, dan harapan pelanggan saat ini dan di masa mendatang[16]. Lembaga pendidikan yang menerapkan TQM memandang kualitas dari sudut pandang pelanggan. Alasannya karena pelangganlah sebagai pihak terakhir yang menilai kualitas dan tanpa pelanggan maka suatu organisasi tidak akan ada. Dalam hal ini, kualitas didefinisikan sebagai memuaskan pelanggan, melebihi kebutuhan dan keinginannya[17].

Salah satu contoh penerapan model MMT di kelas adalah mengubah fokus kelas dengan menata ulang bangku di kelas. Dalam kelas yang menekankan pembelajaran terpusat pada siswa (student centered), siswa berpartisipasi dalam mengelola semua fungsi kelas. Dalam gambar di bawah ini, bisa dibandingkan antara kelas dengan menggunakan model MMT dan kelas yang masih menggunakan model tradisional[18].

DERETAN MEJA MURID

PAPAN TULIS

MEJA GURU

PERALATAN

L

E

M

A

R

I

BU

K

U

TEMPAT DISKUSI KELOMPOK KECIL

TEMPAT

PERALATAN

KERJA

MEJA

GURU

PAPAN

TULIS

TEMPAT DISKUSI

KELOMPOK BESAR

TEMPAT BACA

LEMARI BUKU

Kelas Tradisional

Kelas MMT

Terdapat asumsi bahwa manajemen kelas yang baik merupakan hasil dari usaha sadar atas peranan guru untuk mengintegrasikan manajemen interaksi (belajar mengajar) dengan perencanaan interaksi pengajaran. Perpaduan ini seringkali menghasilkan persoalan dalam masalah disiplin. Interaksi belajar mengajar dan manajemen pada hakekatnya tidak terpisah, tetapi lebih merupakan dua komponen utama yang harus dibangun satu dengan lainnya jika menginginkan tercapainya kelas yang harmonis[19].

Semua tindakan yang dilakukan di sekolah diarahkan kepada pencapaian visi, misi dan tujuan sekolah yang direncanakan bersama. Perencanaan strategis diperlukan kerjasama antara kepala sekolah dan guru-guru demi perbaikan yang berkelanjutan. Pengambilan keputusan oleh kepala sekolah bersama dengan guru-guru akan memperkuat manajemen sekolah yang diharapkan. Penerapan TQM, dalam hal ini, akan memberikan kerangka penyempurnaan dalam hal strategi perbaikan sekolah, percepatan pembelajaran (accelerated learning), manajemen, pemberdayaan guru, pendidikan berbasis hasil, efektivitas lembaga, pendidikan berbasis masyarakat, dan pembelajaran yang berbasis pada murid yang semuanya akan dapat memberdayakan pendidikan[20]. Dalam penerapan MMT di kelas, Margono menyatakan, ada beberapa prinsip yang harus diperhatikan[21]:

· Bertekad menjadi guru bermutu

Menjadi bermutu itu harus dengan niat dan dilanjutkan dengan melakukan usaha yang nyata ke arah itu. Untuk menjadi guru yang baik/bermutu perlu kesadaran, niat dan usaha

· Adopsi filosofi mutu

Pengajaran di kelas yang bermutu adalah yang dapat memenuhi kebutuhan dan harapan murid. Kebutuhan murid adalah dapat belajar sesuatu yang baru dan berguna bagi masa depan dirinya. Harapannya adalah dapat belajar secara jelas dan relatif dengan mudah. Pengajaran di kelas yang bermutu adalah yang secara keseluruhan memberi kepuasan kepada murid. Kepuasannya bisa berasal dari :

(1) Tujuan pengajaran yang bisa dimengerti berupa kompetensi tertentu, dan yang berkaitan dengan tujuan dirinya sendiri.

(2) Materi pelajaran yang sesuai dengan tujuan pengajaran.

(3) Pengalaman belajar yang menyenangkan yang meliputi suasana lingkungan kelas yang kondusif untuk belajar, PBM yang efektif dan efisien, dan Pengarahan belajar yang jelas.

(4) Dapat mentransfer (memanfaatkan) hasil belajarnya, sehingga murid dapat merasakan kemanfaatan belajar.

· Fokus pada pelanggan

Perhatian pengajar harus selalu dipusatkan pada kebutuhan dan harapan para murid. Tugas utama pengajar adalah memenuhi dan memuaskan kebutuh-an dan harapan (yang masuk akal) para murid. Untuk ini pengajar harus dapat :

(1) mengetahui ciri-ciri muridnya.

(2) mengidentifikasi dan menganalisa kebutuhan dan harapan murid.

· Semangat kerja-kelompok

Hasil pemikiran dan kerja kelompok selalu lebih baik dari hasil orang seorang. Ada tiga macam kelompok untuk mutu kelas :

(1) Kelompok pengajar dalam satu bidang stud

(2) Guru dan murid dalam satu kelas

(3) Murid belajar secara berkelompok.

Kelompok Pengajar harus bekerjasama menyusun strategi untuk bisa membelajarkan murid secara efektif dan efisien. Satu atau dua pengajar saja yang “mengajar” secara baik tidaklah cukup. Semua pengajar seharusnya bekerjasama agar semuanya dapat menjadi pengajar yang baik. Kelompok Pengajar-Murid : Pengajar dan muridnya harus bisa bekerja sebagai tim yang efektif untuk mencapai tujuan belajar-mengajar. Pengajar dan murid mempunya tujuan yang sama dari proses belajar-mengajar. Pengajar ingin menjadi pengajar yang baik, dan murid ingin belajar secara efektif. Pengajar tidak bisa dikatakan sebagai pengajar yang baik bila muridya tidak bisa belajar dengan baik. Sebaliknya murid akan sulit belajar dengan baik bila pengajarnya tidak baik.

Sebagai anggota kelompok atau tim mereka harus kenal satu sama lain secara baik melalui interaksi yang sering dan intensif, yang kemudian akan menghasilkan adanya Proses Belajar-Mengajar yang efektif dan efisien.

Murid Belajar secara Berkelompok :

(1) Bagi kebanyakan orang belajar sendiri terasa lebih berat dari pada belajar secara bersama dalam kelompok.

(2) Belajar dalam kelompok bisa saling memotivasi, saling membantu dan saling mengoreksi kalau ada yang salah belajar.

(3) Tugas kelompok perlu diberikan oleh dosen agar mendo-rong untuk belajar berkelompok.

(4) Kelompok jangan terlalu besar agar masing-masing murid mendapat bagian tugas.

(5) Hasil belajar secara berkelompok ternyata lebih baik

· Kepemimpinan yang membantu.

Belajar itu tidak mudah, apalagi kalau harus belajar sendiri. Karena itu ada guru atau pengajar yang bertugas memoti-vasi, mengarahkan dan mempermudah serta mempercepat proses belajar orang-orang yang akan belajar. Dalam kelas pengajar berfungsi sebagai pemimpin. Dialah yang diharapkan mempengaruhi perilaku belajar dari para murid. Oleh karena itu dia harus memiliki kepemimpinan.

· Komitmen pada mutu.

Harus ada kesadaran dan keyakinan akan perlunya mutu pendidikan; dan karenanya perlu ada tekat dan rasa keterikatan yang kuat untuk menjaga dan mening-katkan mutu pendidikan/pengajaran secara berkelan-jutan.

· Perbaikan mutu berkelanjutan

Tekad untuk meningkatkan mutu pendidikan/pengajaran harus dibuktikan dengan adanya usaha-usaha nyata memperbaiki mutu. Tidak hanya sekali memperbaiki dan selesai, tetapi sedikit demi sedikit secara terus-menerus.

· Terus belajar sambil bekerja.

Mengajar di kelas jangan dilihat sebagai pekerjaan rutin yang sama saja dari waktu ke waktu. Ini bisa membosankan. Sebaliknya bila kerja mengajar itu dilihat sebagai pelajaran yang harus dicermati, maka selain akan selalu menarik juga akan menggugah pengajar untuk mencari dan mencoba prosedur-prosedur lain yang sekiranya akan lebih efektif dan lebih baik mutunya.

· Alat dan teknik untuk meningkatkan mutu (terukur)

Data dan fakta yang ada dapat disajikan dengan berbagai alat dan teknik untuk bisa dianalisa dan disimpulkan. Teknik untuk menyajikan hasil olahan data :

(1) Flowchart

(2) Tabel

(3) Gantt Chart

(4) Histogram

(5) Matrik

(6) Brainstorming

(7) Diagram tulang ikan

(8) Diagram Pareto

(9) Medan Gaya

(10) Afinitas

(11) Check Sheet

· Cegah adanya cacat kerja

· Pengakuan dan penghargaan pada usaha perbaikan mutu.

Bagi pengajar, murid atau pegawai yang telah berusaha memperbaiki mutu pendidikan/pengajaran perlu diberi pengakuan dan penghargaan agar semua yang bersangkutan dengan pendidikan/pengajaran itu terdorong untuk terus melakukan usaha-usaha perbaikan. Pengakuan dan penghargaan itu harus berdampak memotivasi.

· Perbaikan pada prosedur kerja.

Pengajaran dan pendidikan yang bermutu bukan hasil karya orang secara individual, tetapi hasil kerjasama beberapa orang yang bekerjasama. Orang-orang yang bekerjasama itu mungkin berbeda status dan fungsi-nya. Karena itu perlu ditingkatkan prosedur-prosedur yang menghasilkan kerjasama antar fungsi itu

· Struktur yang mengundang partisipasi

Struktur adalah cara pengaturan yang mantap, yang memungkinkan sebanyak mungkin orang untuk berpartisipasi memperbaiki proses belajar-mengajar.

III. Kesimpulan

Paradigma pembelajaran yang telah usang harus segera diganti. Paradigma pembelajaran terpusat pada guru (teacher centered) terbukti bukan paradigma pembelajaran yang memberdayakan dan meningkatkan mutu pendidikan. Paradigma pembelajaran harus digeser menuju paradigma pembelajaran terpusat pada murid (student centered) dengan didukung manajemen yang menganut pola Manajemen Mutu Terpadu (MMT). Teori belajar yang dianut harus berpindah dari teori belajar behaviorisme menuju teori belajar kognitif dan konstruktif.

Selain itu, kepemimpinan kepala sekolah dan kreatifitas guru yang professional, inovatif, kreatif, merupakan salah satu tolok ukur dalam Peningkatan mutu pembelajaran di sekolah ,karena kedua elemen ini merupakan figur yang bersentuhan langsung dengan proses pembelajaran. Kedua elemen ini juga merupakan figur sentral yang dapat memberikan kepercayaan kepada masyarakat (orang tua ) siswa, kepuasan masyarakat akan terlihat dari output dan outcome yang dilakukan pada setiap periode.

Jika pelayanan yang baik kepada masyarakat dilakukan, maka mereka tidak akan secara sadar dan secara otomatis akan membantu segala kebutuhan yang di inginkan oleh pihak sekolah, sehingga dengan demikian maka tidak akan sulit bagi pihak sekolah untuk meningkatkan mutu pembelajaran dan mutu pendidikan di sekolah. Pendidikan dan pembelajaran tidak akan bertambah baik mutunya bila guru-guru tidak ingin dan berusaha menjadi guru yang bermutu. Mutu pendidikan akan meningkat bila prinsip MMT tersebut di atas diperhatikan dan dilaksanakan secara berkelanjutan dalam institusi dibawah pimpinan yang committed dan konsisten pada mutu. Standar mutu pendidikan tidak statis. Setiap kali ditetapkan standar mutu pendidikan yang dapat dicapai dengan kemampuan yang ada. Tingkatkan standar mutu secara berkelanjutan seiring dengan meningkatnya kemampuan institusi. Mutu pendidikan akan menentukan mutu bangsa di masa depan.

IV. Daftar Pustaka

Arcaro, Jerome S., Pendidikan Berbasis Mutu; Prinsip-prinsip Perumusan dan Tata Langkah Penerapan, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007.

Ety Rochaety,dkk, Sistem Informasi Manajemen Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara, 2006.

Fakih, Mansour et. Al., Pendidikan Popular; Membangun Kesadaran Kritis, Yogyakarta: ReadBook, 2000.

Freire, Paulo, Pendidikan Kaum Tertindas, Jakarta: LP3ES, 1987.

Fromm, Erich, The Heart of Man, Routledge & Keegan, NY, 1966.

Hoy, Charles, et. All., Improving Quality in Education, New York: Falmer Press, 2000

Margono, Slamet, Penerapan Prinsip-prinsip Manajemen Mutu Terpadu dalam Pengajaran di Kelas, Materi Lokakarya Pembelajaran Bermutu di Perguruan Tinggi, Institut Pertanian Bogor.

Nasution, MN, Manajemen Mutu Terpadu, Jakarta: Ghalia Indonesia, 2000.

Nurkolis, Manajemen Berbasis Sekolah; Teori, Model, dan Aplikasi, Jakarta: Grasindo, 2003.

Purwanto, Ngalim, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2004, Cet. XVI.

Sagala, Syaiful, Manajemen Berbasis Sekolah &Masyarakat. Bandung : Alfabeta, 2003.

Suparno, Paul, Guru Demokratis di Era Reformasi, Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana Indonesia, 2004.

Susilo, Muhammad Joko, Pembodohan Siswa Tersistematis, Yogyakarta: Pinus, 2007.

Syafaruddin, Manajemen Mutu Terpadu dalam Pendidikan; Konsep, Startegi, dan Aplikasi, Jakarta: Grasindo, 2002.

Tilaar, H.A.R., dalam pengantar untuk buku Kekuasaan dan Pendidikan; Suatu Tinjauan dari Perspektif Studi Kultural, Magelang: IndonesiaTera, 2003.

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional.


[1] Ngalim Purwanto, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2004, Cet. XVI, hal. 35.

[2] Pendidikan menurut Tilaar merupakan bagian dari kebudayaan. Kebudayaan dan pendidikan merupakan satu kesatuan eksistensial. Proses-proses yang terjadi dalam pendidikan, merupakan bagian dari proses pembudayaan. Dengan demikian, lanjut Tilaar, proses pendidikan hanya dapat diketahui apabila ditempatkan dalam lingkungan kebudayaan suatu masyarakat. Disinilah, Tilaar sangat menekankan adanya studi kultural dalam kaitannya dengan pendidikan. Lihat H.A.R. Tilaar dalam pengantar untuk buku Kekuasaan dan Pendidikan; Suatu Tinjauan dari Perspektif Studi Kultural, Magelang: IndonesiaTera, 2003.

[3] Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional

[4] Syaiful Sagala, Manajemen Berbasis Sekolah &Masyarakat. Bandung : Alfabeta, 2003, hal. 61.

[5] Syaiful Sagala, Manajemen Berbasis Sekolah &Masyarakat, hal. 63.

[6] Dalam bahasa Freirean, paradigma pembelajaran yang selama ini dilakukan merupakan konsep pendidikan yang menerapkan gaya bank (banking system of education). Konsep ini menyatakan bahwa murid, dalam proses pembelajaran, diperlakukan tak ubahnya seperti bejana kosong yang harus selalu diisi dengan pengetahuan-pengetahuan yang dibawa oleh guru. Konsep ini dikritik habis-habisan oleh tokoh pendidikan Paulo Freire dalam bukunya Pendidikan Kaum Tertindas, Terjemahan dari buku Pedagogy of The Oppressed, Jakarta: LP3ES, 1987. Lihat juga Mansour Fakih et. Al., Pendidikan Popular; Membangun Kesadaran Kritis, Yogyakarta: ReadBook, 2000, hal. 26-47.

[7] Istilah ini berasal dari ahli psikoanalisa kontemporer Erich Fromm. “Nekrofili” adalah rasa kecintaan pada segala yang tidak memiliki jiwa kehidupan. “Biofili” sebaliknya adalah kecintaan pada segala yang memiliki jiwa kehidupan, yang maknawiah lihat Erich From, The Heart of Man, Routledge & Keegan, NY, 1966.

[8] Mansour Fakih et. Al., Pendidikan Popular; Membangun Kesadaran Kritis, hal. 43.

[9]Paul Suparno, Guru Demokratis di Era Reformasi, Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana Indonesia, 2004., hal. 3.

[10]Muhammad Joko Susilo, Pembodohan Siswa Tersistematis, Yogyakarta: Pinus, 2007., hal. 228-229. Dalam buku ini, penulis mengharuskan adanya pergeseran paradigma pembelajaran menuju paradigma pembelajaran kognitif dan konstruktivistik.

[11] MN Nasution, Manajemen Mutu Terpadu, Jakarta: Ghalia Indonesia, 2000, hal. 28-34.

[12] Syafaruddin, Manajemen Mutu Terpadu dalam Pendidikan; Konsep, Startegi, dan Aplikasi, Jakarta: Grasindo, 2002, hal. 28-29.

[13] Ety Rochaety,dkk, Sistem Informasi Manajemen Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara, 2006, hal. 97.

[14] Charles Hoy, et. All., Improving Quality in Education, New York: Falmer Press, 2000, hal. 50.

[15] Margono Slamet, Penerapan Prinsip-prinsip MMT dalam Pengajaran di Kelas, Materi Lokakarya Pembelajaran Bermutu di Perguruan Tinggi, Institut Pertanian Bogor.

[16] Nurkolis, Manajemen Berbasis Sekolah; Teori, Model, dan Aplikasi, Jakarta: Grasindo, 2003, hal. 79.

[17] Nurkolis, Manajemen Berbasis Sekolah; Teori, Model, dan Aplikasi, hal. 79.

[18] Jerome S. Arcaro, Pendidikan Berbasis Mutu; Prinsip-prinsip Perumusan dan Tata Langkah Penerapan, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007, Cet. IV., hal. 47-51.

[19] Syafaruddin, Manajemen Mutu Terpadu dalam Pendidikan; Konsep, Startegi, dan Aplikasi,hal. 102. Guru yang mampu melaksanakan pengajaran dan manajemen, akan mampu melaksanakan tindakan manajemen kelas secara efektif. Manajemen dan pengajaran merupakan dua entitas yang sejatinya tidak boleh untuk dipisahkan oleh guru. Keduanya perlu dipadukan untuk mencapai efektivitas pengajaran oleh guru.

[20] Syafaruddin, Manajemen Mutu Terpadu dalam Pendidikan; Konsep, Startegi, dan Aplikasi,hal. 104.

[21] Margono Slamet, Penerapan Prinsip-prinsip MMT dalam Pengajaran di Kelas.

3 thoughts on “Proses dan Prinsip-Prinsip Pembelajaran Model Manajemen Mutu Terpadu

  1. TOTALLY QUALITY MANAGEMENT (TQM)
    (MERUPAKAN PENGENDALIAN TIM)

    Kapan Seharusnya Human Resources Development (HRD) Menggunakan Pendekatan Tim?
    Indikasi pentingnya HRD dalam kerja tim, yaitu berdasarkan data dari firma Penantang (Gray dan Christmas) yang mencatat bahwa ada 44% pemain tim yang seringkali mencetak angka tertinggi kedua, sedangkan yang bertahan sebanyak 22% yang menghasilkan tujuh kandidat.
    Kerja tim merupakan lingkungan TQM yang berfokus pada pelanggan (Bab 2) dan berlangsung dalam pengembangan proses yang berkelanjutan (Bab 4). Kerja tim dapat dilihat pada contoh-contoh berikut:
    • Kolaborasi persaingan antara dua departemen
    • Kerjasama antara kesatuan dengan manajemen
    • Usaha gabungan antara organisasi dengan pemasoknya
    • Interaksi untuk mempelajari kebutuhan pelanggan
    • Koordinasi visi pada level eksekutif
    • Pooling sumber daya – sumber daya antara du departemen untuk mencapai apa yang tidak bisa dilakukan sendiri
    • Perjanjian yang saling menguntungkan antara manajemen dengan pekerja
    • Aksi kombinasi antara lini dengan staf
    • Partisipasi dalam membuat keputusan oleh tiap orang
    • Aksi koordinasi dalam tim yang berbeda jalur untuk memperbaiki proses
    • Sinergi di dalam organisasi
    Kerja tim merupakan hasil dari visi yang dibagi, sebuah dedikasi pada pelanggan, dan pemahaman yang jelas tentang bagaimana sistem dan proses bekerjasama dan berbagi komitmen untuk perbaikan.
    Model belajar; hidup; dan memimpin dapat diperluas meliputi: mendengarkan dan membiarkan. Mendengarkan artinya bersungguh-sungguh mendengarkan apa yang disampaikan oleh pekerja baik secara tersurat maupun tersirat. Sedangkan membiarkan artinya mengizinkan; membolehkan; memberi wewenang; memberdayakan. Pembiaran tersebut untuk membuat pekerja menjadi: kreatif; berinovasi; bereksperimen; memberi saran; melaksanakan; memantau; dan mempertimbangkan. Memberdayakan pekerja artinya menghentikan diamnya mereka.
    Tiga hal yang dapat terjadi pada pekerja agar merasa diberdayakan. Maka Anda harus:
    • Mendidik
    • Membuat bisa
    • Menyemangati
    Untuk sukses, tim HRD harus diberdayakan. Kepemimpinan departemen harus menciptakan suasana pemberdayaan yang berkembang.. Dalam hal ini agak sulit, karena adanya rantai hirarki perintah dan piramida kekuasaan yang kaku dimana sangat kuat dalam banyak organisasi. Sehingga seluruh pekerja atas ke bawah diprogramkan secara total untuk kesuksesan rencana kerja. Pemimpin HRD dan para manajer perlu memaksa dirinya sendiri untuk mendobrak paradigma lama dan menciptakan yang baru. Sebenarnya, usaha TQM akan menjadi pemberdayaan pekerja dan kerja tim.
    Para pemimpin, para bos, dan para supervisor tidak dapat menahan dirinya sendiri dari:
    • Banyak bertanya kepada tim
    • Memberitahukan mereka dimana mencari jawaban
    • Tidak menerima jawaban sebelum bukti diberikan
    • Mendorong tim untuk membuat kecurigaan mereka
    • Melaksanakan perubahan dan mengharapkan tim mendukung mereka
    • Selalu mencari kesalahan dan menyuruh tim kembali ke sedia kala
    • Rekomendasi yang berbelit-belit (”Ide bagus, tetapi sudahlah…”)
    • Mengharapkan bukti-bukti
    Untuk sukses tim perlu memiliki bukti-bukti yang dapat digunakan, yang jelas, serta wewenang; tanggung jawab; dan sumber yang saling menguntungkan diketahui. Informasi harus disiapkan untuk tim sebagai data. Sebagai tambahan, tim perlu mengakses orang yang tepat.
    Pemain utama juga diidentifikasi dan meliputi: pemimpin tim, anggota tim, fasilitator, peserta, pemilik kegiatan, dan atau manajer yang bertanggung jawab dalam tim. Perjanjian ditulis dalam dokumen yang ditandatangani dan diberi tanggal oleh manajemen. Contoh sederhana akan dijelaskan dalam Bab 7.
    Setelah tim memahami dengan jelas dan memiliki bukti, maka pemimpin harus menyampaikan kerelaannya untuk membiarkan hal tersebut terjadi dan mengambil risiko. Apabila timnya telah sepakat; mengikuti proses metodolgi yang dikembangkan; serta telah menetapkan datanya, maka adanya kesempatan yang cukup baik dan memungkinkan mencapai target (siapa yang dituju dari seluruh proses) yang dapat diperkirakan.
    Bahkan, apabila rekomendasi yang dibuat tidak sebaik yang dibuat oleh bos, maka perhitungannya menjadi lebih besar. Sehingga ide tim akan dapat diterima; ditanggapi; dan dapat dilaksanakan serta berhasil. Dalam hal ini, tim akan bertanggung jawab dan berpeluang melakukan perbaikan.
    Perhitungan jangka panjang adalah luar biasa karena tim mengetahui bahwa mereka didengarkan dan mereka yakin akan didengarkan lagi.
    Antara pekerja dengan pemimpin meyakini sepenuhnya bahwa perlu dan mungkin diadakannya perbaikan. Setiap departemen HRD percaya bahwa hal itu memperbaiki secara substansi. Jadi ditegaskan bahwa:
    • Orang takut manajemen akan menolak rekomendasi mereka
    • Manajer takut orang akan membuat rekomendasi yang tidak dapat dilaksanakan mereka atau harus ditolak
    Ketakutan yang sama ini menghalangi pemberdayaan. Ketakutan ini nyata dan berdasarkan kurangnya kepercayaan antara manajemen dengan orang-orangnya. Kurangnya kepercayaan ini membentuk banyak pengalaman dalam periode waktu yang penting. Apabila kerja tim dan pemberdayaan berlangsung, maka kepercayaan harus dibangun.
    Langkah pertama harus berasal dari manajemen. Orang-orang harus percaya bahwa manajemen benar-benar ingin mengembangkan prosesnya, dimana manajemen akan mendukung rekomendasi-rekomendasi, sehingga walaupun berisiko, manajemen mempercayai mereka.
    Ketika tim dihadapkan pada tanggung jawab besar yang tak terduga, maka tim kerja perlu diajar. Mereka perlu diajar untuk bekerjasama sebagai partner dalam pengembangan proses mendengarkan; belajar; hidup; memimpin; dan membiarkan.
    Apabila Anda yakin bahwa perlu membangun kepercayaan dan mengurangi ketakutan dalam departemen HRD, maka Anda dapat menganjurkan setiap orang dalam departemen membaca Menghilangkan Ketakutan dari Tempat Kerja karangan Kathleen D.Ryan dan Daniel R. Oestrich. Ikutilah hal ini melalui diskusi departemen. Anda dapat memanfaatkan pemimpin diskusi apabila anda yakin bahwa banyak yang dapat dipedomani.

    Merintis Kerja Tim HRD
    Departemen HRD dapat memberlakukan budaya pengendalian tim. Apa yang terjadi di masa lalu, untuk apa orang mengejar imbalan, bagaimana mereka berusaha mendapatkan imbalan, dan bagaimana kerja mereka akan mempengaruhi kinerja departemen yang lebih berorientasi tim. Ide-ide di Bab 7 akan membantu Anda memulai.
    Anda juga perlu memikirkan cara melibatkan seseorang dari luar untuk membantu Anda sebagai intervensi pembentukan tim.
    Anda perlu berpikir untuk membangun tim melalui berbagai cara. Tentunya tim yang sangat penting yang dapat Anda bangun adalah dengan pelanggan internal Anda, yang memberikan layanan pelatihan; bahan; atau bimbingan kependidikan lain.
    Anda perlu berpikir tentang tim bentukan yang mirip dengan pikiran para pemasok, seperti: cafetaria; staf fasilitas; dan seni grafik. Anda juga memikirkan tenatng para pemasok seperti: hotel; pemandu tamu; dan perusahaan percetakan. Buatlah pelanggan favorite Anda sendiri dan lihat perubahan layanannya. Anda akan siap memimpin kelompok kerja dalam pengembangan proses.
    Anda dapat memulai dengan beberapa langkah untuk menciptakan budaya tim dengan beberapa hal mudah:
    • Kelompok orang-orang menurut tugasnya masing-masing yang berbeda potensi pelatihannya
    • Apabila Anda belum melakukan, mulailah menjadwal pertemuan staf reguler
    • Apabila Anda sudah mengatur pertemuan staf reguler, pertimbangkan waktu yang singkat sehingga mereka bisa bertukar informasi
    • Lakukan pergantian peranan kepemimpinan dalam pertemuan staf Anda
    • Rencanakan pertemuan insiden setiap Rabu pada jam 11.45 siang untuk memberitahukan tentang perkembangan organisasi
    • Saling mengemangati satu sama lain agar saling memahami dan bekerja tim
    • Lengkapi audit informasi.Di mana orang – orang dapat memperoleh informasi untuk membuat keputusan?
    • Identifikasikan enam cara yang dapat mengurangi ketakutan.Berbagilah dengan bos Anda
    • Apabila Anda sudah memiliki tim yang siap dalam departemen Anda, lakukan pertemuan.Nilailah sendiri tentang perilaku dan komunikasi Anda.
    Setiap keputusan tidak dibuat oleh tim.Anda tidak perlu mencapai kesepakatan apapun.Akan tertapi,tim yang solid akan mengembangkan kemampuan tiap orang dalam membuat keputusan karena adanya komunikasi yang memberikan input yang lebih baik.
    Motto dari salah satu klien kita adalah ”Orang yang bahagia,menghasilkan produk yang membahagiakan pelanggan”.Ketika Anda menyusun rencana yang Anda lihat itu, Anda merasakannya.Anda baru mengetahui adanya pelaksanaaan kerja tim.

    BAB VII (CHAPTER 7)
    TQM MERUPAKAN SEBUAH TRANSFORMASI

    Bagaimana Kita Melakukan yang di Sana dari Sini?

    Bab ini berfokus pada usaha TQM yang dilakukan dalam departemen TQM. Bab 9 akan berfokus pada usaha TQM yang memulai dalam organisasi yang menyeluruh serta peranan Anda dalam tugas tersebut.Salah satu langkah-langkah pertama yang harus dipertimbangkan Anda adalah melakukan survei.
    Anda harus melakukan survei sendiri berdasarkan sebuah model.Anda perlu menentukan kebutuhan apa yang perlu diukur dalam departemen Anda.Surveinya meliputi sembilan kategori kesiapan, yang meliputi:pengakuan; keahlian manajemen atau kepemimpinan; komitmen pada perubahan, aturan organisasi, komunikasi, kerja tim, kesiapan perbaikan kualitas, kepuasan kerja, dan kreativitas/inovasi.
    Pengakuan mengukur keefektifan sistem imbalan dan pengakuan dalam departemen. Anda harus memperhatikan hal ini sebelum melakukan TQM. Sedangkan keahlian manajemen/kepemimpinan mengukur banyak hal dari kemampuan manajer untuk menciptakan visi dan mendorong perubahan dari hari ke hari melalui pembinaan dan masukan pekerja untuk membuat keputusan.
    Komitmen pada perubahan mengukur kerelaan departemen untuk melakukan perubahan, mengembangkan proses dan melakukan bisnis saat ini.
    Aturan organisasi mengukur bagaimana segala sesuatu sesuai dengan: visi, perencanaan strategis, dan sasaran-sasaran. TQM menghendaki setiap orang berpusat pada tujuan. Sedangkan komunikasi mengukur secara tepat apa Anda dapat membayangkan: bagaiman kita mendengarkan, menukar informasi, dan memberikan umpan balik.
    Kerja tim mengukur bagaimana kerja departemen dalam mencapai tujuan dan sasaran-sasaran dan melaksanakan kerja. Sedangkan, kesiapan perbaikan kualitas mengukur kebutuhan intenal departemen seperti kebutuhan eksternal pada departemen lain sebagai pelanggan/pemasok.
    Kepuasan kerja mengukur pemenuh kebutuhan dari pekerjaan yang dilakukan. Sedangkan, kreativitas/inovasi mengukur penerimaan dan semangat pekerja untuk mengambil risiko dan menciptakan ide baru.
    Data yang akurat diperlukan dalam survei. Oleh karena itu, para pekerja harus meluangkan waktu untuk melengkapi surveinya. Cara terbaik untuk mencapai semuanya ini adalah mengarahkan setiap orang pada suatu waktu, sekitar 45 menit untuk survei sehingga mereka melengkapi surveinya, dan lengkapi survei dalam sebuah kotak atau amplop.
    Secara ideal, survei harus dilakukan saat setiap orang dalam departemen Anda menyadari adanya transisi, walaupun pelaksanaan aktual dan pelatihannya belum terjadi. Survei ini memberikan data pokok. Selanjutnya abaikan survei dan lupakan untuk sementara. Anda harus menunggu sekurang-kurangnya 18 sampai dengan 24 bulan setelah pelaksanaan dimulai untuk mengulangi survei Anda. Berikan kembali hasil survei segera kepada para pekerja setelah survei dilengkapi.
    Departemen pelatihan Anda akan berfungsi sangat efektif apabila setiap orang berfokus pada visi tunggal dan mengarah pada tujuan umum.Akan tetapi tujuan tersebut tidak dapat dirancang dalam kondisi yang vakum. Departemen pelatihan tidak akan bisa sukses secara total apabila melakukan sendiri. Rencana departemen Anda harus berdasarkan pendekatan sistem.
    Ada beberapa hal yang berkaitan dengan konsistensi perusahaan adalah:
    1. Alasan yang memaksa, yaitu kekuatan di belakang pelaksanaan TQM, misalnya: diskusi dengan pihak manajemen (berkaitan dengan kritikan yang muncul)
    2. Visi, yaitu tujuan yang akaan dicapai oleh organisasi, seperti apa organisasi yang diinginkan(berkaitan dengan rancangan kerja dalam membuat keputusan)
    3. Kewajiban strategis, yaitu tujuan yang dapat dicapai melalui target yang dapat diukur oleh organisasi, yang menggambarkan mengapa Anda berbisnis
    4. Perencanaan srategis, yaitu bagaimana upaya organisasi untuk mencapai kewajiban strategis.
    Para manajer senior departemen pertama harus mengklarifikasi mengapa merintis usaha TQM. Apa alasan yang memaksa? Bertahan? Memperbaiki kualitas? Persaingan? Permintaan pelanggan internal? Harus melakukannya? Inisiatif pemimpin perusahaan? Informasi ini berguna untuk memahami mengapa departemen ingin melakukan seluruh usaha TQM.
    Para pekerja harus memiliki visi dalam melaksanakan kerja sehari-hari demi menghasilkan keputusan yang lebih baik yang tidak membutuhkan pengawasan. Visi mendorong model ”Biarkan” dengan mendengarkan, belajar, hidup, memimpin, dan membiarkan.
    Apabila Anda ingin mencapai visi Anda, Anda harus mempertimbangkan beberapa pedoman atau petunjuk baru seperti:
    1. dibuat dalam keadaan yang berlangsung, seolah-olah Anda siap melakukan visi, walaupun anda tahu bahwa hal itu menjadi harapan yang tidak pernah tercapai
    2. memungkinkan keterlibatan
    3. tujuannya singkat, maksimal dua kalimat
    4. mendorong setiap orang dalam departemen seperti pelanggan; pemasok; dan pemegang saham lainnya
    5. menyenangkan dan memberi semangat… bahkan mungkin memberi inspirasi
    Apabila Anda ingin kreatif dalam mengembangkan visi, maka ikuti beberapa saran berikut untuk menggambarkan visi Anda ke depan:
    Surati editor publikasi industri Surati teman
    Dialog antara dua pekerja Berita TV/Radio
    Cetakan Press dari tahun 2000 Menulis cerita pendek
    Memo dari Presiden Direktur Menulis puisi
    Poster masa depan perusahaan Perumpamaan
    Penghargaan khusus Industri Koreografi tarian
    Menulis dan menyanyi lagu Membuat bunyi
    Diagram alur proses Melakukan percakapan
    Menulis iklan radio Membuat nama pekerjaan baru
    Menyiapkan Ra-Ker CEO 1 Minggu (2000)
    Mengembangkan struktur organisasi baru

    Peringatan terakhir, ingatlah bahwa pandangan setiap orang tidak dapat disatukan. Apa yang penting bagi seseorang, belum tentu bagi organisasi, sehingga diperlukan usaha kolaboratif yang nyata.
    Misi organisasi diartikan sebagai hal yang mendukung organisasi karena kewajiban strategis departemen berasal dari perencanaan strategis organisasi, sehingga TQM menjadi cara melakukan sesuatu daripada hal lainnya.
    Perencanaan strategis menagtur kerja visi. Hal ini adalah kritik untuk keberhasilan TQM yang berfokus pada energi; sumber daya; dan usaha untuk mencapai seluruh tujuan organisasi yaitu kewajiban strategis.
    TQM dengan perencanaan strategis memiliki hubungan yang menarik, dimana perencanaan strategis memfasilitasi secara teratur pelaksanaan sistem TQM yang pada waktu bersamaan TQM menjadi cara melakukan hal-hal daripada hal lainnya. Selain itu, aspek-aspek budaya TQM mendorong proses perencanaan strategis, yaitu: berfokus pelanggan; menekankan kualitas; berfokus proses; berdasarkan bukti; mengendalikan tim; memperkuat kemampuan organisasi, departemen, atau kelompok dalam budaya TQM yang mendorong perencanaan strategis berikutnya.
    Pengembangan perencanaan strategis harus diinisiatifkan oleh manajer senior dengan keterlibatan; partisipasi; input; dan umpan balik dari semua level manajemen secara penuh. Perencanaan strategis harus dipantau dan dikembangkan sebagai tujuan strategis atau alat untuk mencapainya.
    Ada beberapa usaha pengembangan visi departemen HRD yang berkelanjutan, yaitu:
    1. Pernyataan misi perusahaan, dimana mengakui nilai pekerja dan semangat setiap orang yang terlibat dalam proses pengembangan yang memungkinkan kita menggapai harapan pelanggan
    2. Pernyataan departemen HRD, dimana mengantisipasi dan menempatkan isu-isu untuk menciptakan lingkungan yang suportif bagi setipa orang untuk mengembangkan potensinya
    3. Visi departemen HRD, dimana didasarkan pada harapan pelanggan.
    Ingatlah, TQM yang bekerja sangat efektif, dimulai dari atas, karena diasumsikan bahwa keseluruhan organisasi merintis usaha TQM, yang tentunya mengikuti model yang sama; metodologi pengembangan proses yang sama; membangun struktur yang sama; menggunakan terminologi yang sama; dan lainnya yang berkesesuaian.
    Perencanaan pelaksanaan TQM memiliki beberapa elemen dengan nama generik, yaitu sebagai berikut:
    1. Komite penyelenggara, dirancang untuk memulai usaha dan bertanggung jawab untuk melaksanakan perubahan budaya serta mengarahkan usaha pengembangan proses
    2. Tim aksi, memperhatikan dan mengidentifikasi kebutuhan serta melakukan perencanaan strategis, juga memilih cara dalam berproses, dimana ditentukan oleh: perintisan; deskripsi proses; memperhatikan kebutuhan pelanggan; menganalisis data (bukti); mempengaruhi departemen dan kerja; adanya kandidat tim; tanggung jawab fasilitator; dan sanksi
    3. Pelatihan dan pendukung, dimana dukungan tim terbesar berasal dari fasilitator, karena fasilitator sangat dekat dengan pemimpin tim dalam mencapai kesuksesan tim mereka, juga didukung oleh manajemen melalui bimbingan dan peringatan serta petunjuk, dan yang terpenting dukungan dalam bentuk uang dan waktu
    4. Komunikasi, diutamakan dengan membangun jaringan komunikasi yang baik dengan pihak manajemen melalui: pertemuan staf; penjelasan operasi; dan diskusi satu demi satu, dalam hal ini diskusi harus serius
    5. Imbalan dan pengakuan, dalam hal ini organisasi perlu menentukan implikasi TQM apa yang harus ada dalam organisasi, serta sistem imbalan dan pengakuan apa yang sangat diperlukan (misalnya: menagkui dan menghargai kesuksesan tim).
    Jangan melakukan tugas sendirian. Bangunlah tim atau gunakan beberapa mekanisme lain untuk bertanya pada pekerja dalam departemen Anda demi kesuksesan departemen Anda.
    Tindakan yang harus dilakukan oleh seorang manajer untuk mendukung dan membina tim (memperhatikan adanya keterkaitan antara dukungan dengan keterlibatan serta antara pembinaan dengan campur tangan) adalah:
    1. Menyediakan data yang diperlukan, tetapi jangan menambah kualifikasi subjectif
    2. Terbuka pada manajer lain jika perlu, tetapi jangan mencampuri sebelum diminta oleh tim
    3. Mendukung anggota tim dalam bekerja, tetapi jangan mudah menerima seseorang yang tidak senang dan iri
    4. Tetap menginformasikan dan terus memajukan, tetapi jangan terlalu dekat
    5. Berilah bantuan dan pertolongan yang diperlukan, tetapi jangan terlihat mencampuri
    6. Menyemangati tim, tetapi jangan menekan mereka
    7. Yakin, tetapi jangan menolaknya
    8. Mengakui, tetapi memastikan bahwa usaha tersebut tepat bagi tim
    9. Memberi solusi, jangan menunggu
    Hal tersebut di atas memang sulit, khususnya menjalin hubungan berdasarkan beberapa saran itu. Memang tidak ada yang mengatakannya mudah, apalagi setiap orang berbeda persepsi. Saran terbaik adalah mempertahankan komunikasi yang terbuka.
    Komunikasi adalah alasan utama untuk kesuksesan atau kegagalan usaha TQM. Oleh karena itu beberapa jenis pertanyaan yang membutuhkan kesadaran berikut ini akan membantu Anda belajar (belajar dari kesadaran):
    Tanyalah Pelanggan Anda tentang:
    • Berapa lama kami mencapai harapan Anda?
    • Berapa lama kami tidak mencapai harapan Anda?
    • Apa pendapat Anda tentang pelayanan atau produk yang harus kami kembangkan?
    • Cantumkan beberapa cara yang kami dapat bantu untuk mengembangkan diri Anda!
    • Kritik apa yang paling penting menurut Anda yang kami dapat penuhi?
    • Apa yang harus kami lakukan untuk mempengaruhi Anda?
    • Apa yang dapat kami lakukan atau upayakan untuk memenuhi kebutuhan Anda?
    Tanyalah pekerja Anda tentang:
    • Apa Anda secara khusus mengharapkan perbaikan kualitas?
    • Bagaimana Anda menjelaskan usaha perbaikan kualitas kepada orang lain?
    • Bagaimana kita dapat melibatkan setiap orang?
    • Bagaimana Anda ingin dilibatkan?
    • Apa Anda bersedia melihat yang kita lakukan?
    • Apa yang dikatakan para pelanggan tentang kita?
    • Apa yang dikatakan para pemasok tentang kita?
    • Bagaimana sebaiknya proses kerja di lingkungan Anda? Bagaimana Anda mengetahuinya?
    • Siapa pelanggan internal Anda? Apa yang diharapkan mereka dari Anda?
    • Dapatkah Anda dan kolega Anda menghasilkan kerja yang berkualitas setiap hari? Mengapa atau mengapa tidak?
    • Keahlian apa yang Anda butuhkan untuk membantu pekerjaan Anda?
    Tanyalah Departemen atau Organisasi lain yang memberi masukan tentang Kualitas:
    • Apa langkah yang sangat bernilai yang Anda ambil untuk merintis usaha kualitas Anda?
    • Bagaimana meyakinkan bahwa Anda dapat mendukung usaha?
    • Apa yang Anda usahakan untuk mencapai melalui usaha perbaikan kualitas?
    • Berapa lama Anda berusaha dalam tahun pertama? Melakukan apa?
    • Apa tantangan utama yang Anda hadapi ketika melakukan usaha perbaikan kualitas?
    • Apa visi dalam departemen dan organisasi Anda?
    • Apa kesulitan terbesar bagi Anda dalam usaha ini?
    • Apa komitmen yang penting dalam usaha ini agar sukses?
    • Apa saran yang sangat bernilai yang dapat Anda berikan kepada saya?
    Sebuah tindakan yang bijaksana untuk melibatkan departemen pelatihan dalam proses pelaksanaan. Anda akan memerlukan pedoman dari organisasi. Anda dapat menjalin komunikasi yang mengajak orang-orang untuk membuat metode pelaksanaan yang berguna bagi departemen. Tunjukkan pada setiap orang melalui lembar 1.1 yang tampak pada hal berikutnya. Setelah penjelasan singkat tentang tujuan kegiatan, mintalah mereka untuk melengkapi lembar berikut untuk mengidentifikasi beberapa kritikan pelaksanaan TQM mengenai ”Metode untuk menghindari” dan mencakup rencana pelaksanaan departemen. Apabila Anda memiliki departemen kecil (kurang dari 22 orang) lakukan diskusi secara menyeluruh dan cantumkan metode untuk menghindari seperti yang ditampakkan pada lembar 1.1. Lakukan yang sama pula pada ”Metode yang mencakup”. Apabila Anda memiliki departemen yang besar, anda dapat membentuk beberapa sesi atau memilih orang yang berbeda untuk memberikan masukan.
    Kegiatan ini melakukan beberapa hal. Pertama, memperbaiki salah persepsi dari orang-orang. Kedua, memberi Anda kesempatan untuk menjelaskan apa yang telah ditetapkan oleh level eksekutif. Ketiga, memberikan kesempatan pada setiap orang untuk ikut serta dalam proses, yang mana dapat melibatkan mereka. Keempat, memperhatikan masalah potensial dalam rencana pelaksanaan.
    Apa yang ingin Anda dengar? Pada tahap awal Anda dapat mendengar tentang menghindari: banyaknya makalah; birokrasi; tuntutan informasi; membuat terlena dan tidak dapat melakukan sesuatu; menjauhi manajer cabang; kereligiusan; menganggap tiap orang sama. Sedangkan, pada tahap kedua Anda dapat mendengar tentang mencakup: banyak keterlibatan; membiarkan orang tahu tentang kegagalan yang biasa saja; jadwal yang realistis; komitmen dan partisipasi manajemen puncak; model proses; contoh dan cerita kesuksesan; memisahkan cara melakukan segala sesuatu; banyaknya pelatihan; mengikuti perubahan menurut caranya; menikmati kegiatan(hal itu menjadi petunjuk awal yang baik).

    Metode Pelaksanaan dalam Departemen Pelatihan
    Menghindari Hal-Hal Ini Mencakup hal-hal Ini

    Lembar 1.1 Menggunakan Kertas kerja Metode Pelaksanaan untuk mengetahui keterlibatan dalam departemen Anda

  2. anwar S kurniawan says:

    Setelah kita lama menyelenggarakan model pendidikan, muncul kemuian ide reati untuk meningkatkan kualitas pendidikan dengan beraneka ragam pemikiran / konsep sampai dengan hari ini yg dikenal dengan KTSP. Tapi masih belum ada upaya untuk membangun kristalisasi moralitas pada personal karakter peserta pendidikan. Hal ini telah melahirkan generasi yg cerdas tapi tdk memiliki kepekaan terhadap etika dan estetika.

  3. kamalfuadi says:

    setuju mas, pendidikan karakter lebih penting dan harus menjadi prioritas, gagasan pendidikan karakter Ibu Ratna Megawangi tampaknya harus dijadikan prototype pendidikan di Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Penumpang

April 2009
M T W T F S S
« Mar   May »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Nyasar

  • 123,563 hits

Traffic

free counters
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 27 other followers

%d bloggers like this: