RSS

Category Archives: kontemplasi

Mengembalikan Bagian yang Hilang

Pendidikan mengalami kesenjangan antara apa yang dipelajari dengan apa yang kemudian dihadapi. Pun sebaliknya, apa yang dihadapi dengan apa yang kemudian dipelajari di sekolah dan kampus. Pendidikan kehilangan bagian penting yang selama ini dicari, yaitu diri kita sendiri. Pikiran sempit mengenai aktivitas pendidikan yang hanya dilaksanakan di sekolah dan kampus menjadikan kita picik menghadapi kehidupan. Praktik-praktik culas dalam kehidupan berbangsa dan bernegara tidak akan terjadi jika kita menjadikan seluruh aktivitas dalam kehidupan kita sebagai aktivitas pendidikan. Dengan kata lain, diri kita perlu menyatu dengan dunia pendidikan.

Pendidikan merupakan ranah yang digadang-gadang mampu menopang perwujudan pembangunan negara dan pencerdasan bangsa yang termaktub dalam konstitusi negara. Harapan yang diemban dunia pendidikan hingga saat ini masih merupakan harapan besar yang seringkali belum – untuk tidak mengatakan tidak- kunjung terwujud. Berbagai permasalahan yang melilit dunia pendidikan Indonesia seolah-olah menutupi pencapaian-pencapaian aktivitas pendidikan yang selama ini telah dan sedang diselenggarakan. Pendidikan Indonesia disebut-sebut telah kehilangan karakter dan tercerabut dari akar. Walau demikian, masyarakat Indonesia masih menaruh harapan besar kepada dunia pendidikan yang karut marut dipenuhi kompleksitas permasalahan. Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on November 11, 2010 in kontemplasi

 

Tags: , ,

Menghayati (Kembali) Adzan

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Bukhari, Rasulullah pernah bersabda “ Jika kalian mendengar panggilan ( adzan ), maka jawablah seperti apa yang dikatakan

Dalam kehidupan kita sebagai seorang muslim, lima kali dalam sehari semalam terdengar di telinga kita panggilan untuk menunaikan shalat wajib ( baca : adzan ) yang dilantunkan oleh muadzin. Dalam adzan terdapat kalimat-kalimat yang bisa membuat kita terbuai dan benar-benar mengakui akan keberadaan Allah.

Ada kalimat takbir yang membuat kita sadar dan selalu mengingat kemahabe-saran Allah sebagai Sang Pencipta (Al Khaliq). Setelah menyadari kebesaran-Nya, kita kemudian diajak menghayati dua kalimat syahadat yang mengindikasikan bahwa tiada dzat yang pantas disembah melainkan Allah, Tuhan semesta alam. Begitu seterusnya, kalimat-kalimat beri-kutnya mengajak kita untuk takluk dengan perwujudan menjalankan shalat serta  me-raih kemenangan dan kebahagiaan hakiki melalui media yang bernama shalat. Syair-syair adzan yang indah ini kemudian dilanjutkan dengan takbir dan ditutup dengan kalimat tauhid.

Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on December 31, 2007 in kontemplasi

 

MANUSIA DAN ”POST” SYNDROME

Manusia adalah makhluk yang diciptakan dalam keadaan lemah, Demikian Tuhan mengatakan dalam Al Quran. Manusia penuh kelemahan-kelemahan yang seringkali tidak mau disadari oleh manusia itu sendiri. Manusia sering berlagak punya kuasa penuh atas sesuatu. Manusia sering paling merasa lebih dari makhluk lainnya. Bahkan, sebelum kita membandingkan manusia dengan makhluk lainnya, manusia sering merasa lebih dari manusia lainnya. Makhluk yang sama-sama bernama manusia. Manusia sering merasa lebih mempunyai kekuatan atas manusia lainnya. Manusia, bagi yang laki-laki, sering merasa paling ganteng diantara yang lain. Manusia, bagi yang perempuan, sering merasa paling cantik di tengah-tengah komunitas perempuan lainnya.

 

Padahal jauh di kedalaman hati manusia, ada kecemasan akan hilangnya kekuatan yang dimilikinya. Ada kegalauan yang tak tampak dan tak pernah terucap dari mulut manusia. Rasa gelisah yang terendap dalam-dalam ini merupakan rasa takut akan sesuatu ( sesuatu ini bisa berupa apapun ) yang suatu saat bisa hilang dari pandangannya. Sesuatu yang ada dalam genggaman manusia bisa saja lepas dari cengkeraman erat tangannya. Itulah yang disebut sebagai “post” syndrome, suatu ketakutan akan “setelah” ( post dalam bahasa inggris ), yaitu setelah manusia tidak punya apa-apa, setelah manusia tak bisa berbuat apa-apa, setelah kehilangan apa saja yang dipunyainya manusia tak bisa berbuat apa-apa. Manusia selalu memikirkan hal ini. Manusia selalu merenungi dirinya ketika “setelah”. Memikirkan nasibnya setelah tidak punya kuasa.

Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on December 31, 2007 in kontemplasi

 
 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.