Beberapa waktu lalu saya kembali dikecewakan oleh simbol. Simbol yang sebelumnya dikejar-kejar dengan berbagai macam upaya dan, tentunya, menyedot banyak sumber daya yang ada. Simbol ini kemudian dipasang sebagai identitas diri. Simbol ini, katanya, akan semakin membuat yang dilekati simbol menjadi semakin dikenal, semakin marketable di pasaran karena konsumen peminat yang dilekati simbol akan selalu melihat simbol baru yang dipajang ini. Apalagi simbol ini tidak saja diakui secara nasional, namun juga secara internasional. Siapapun yang mengerti mengenai simbol ini tentunya akan berdecak kagum mengetahui simbol ini.
Simbol ini memang bukan sembarang simbol. Simbol ini mengidentifikasikan diri sebagai yang terbaik dan yang terbaru. Yang akan dibayangkan orang dari simbol ini adalah kedisipilinan, kerapian, keteraturan, ketepatan dan hal-hal baik lainnya yang menjadi identitas dari simbol ini. Memang baik kelihatannya simbol ini. Karena hampir semua yang baik melekat pada simbol ini. Pada saat promosipun simbol ini akan menjadi garda depan dalam melakukan aksi-aksi persuasif agar orang-orang tertarik.
Simbol, sesuai dengan fungsinya, harusnya memang menjadi identitas melekat yang sekaligus menjiwai diri yang dilekati simbol. Segala kebaikan yang menjadi karakteristik simbol (harusnya) dimiliki oleh diri yang dilekati simbol. Bukan malah sebaliknya, simbol baik tapi yang dilekati simbol tidak baik. Atau sebaliknya, simbol tidak baik tapi yang dilekati simbol baik. Idealnya simbol baik yang dilekati simbol juga baik.
Memang menjadi hal yang mungkin sulit untuk mencapai sesuatu yang dianggap ideal. Namun setidaknya ada rambu-rambu atau batas minimal sehingga sesuatu dapat dikatakan ideal atau setidaknya mendekati keidealan. Pun dengan simbol yang dilekatkan pada diri. Saya sendiri kemudian mempertanyakan keberadaan simbol yang kali ini memang mengecewakan saya. Orang-orang yang termasuk ke dalam stakeholder diri pemilik simbol sudah sedemikian rupa mengupayakan pencapaian simbol ini. Dan setelah simbol yang dikehendaki diraih mereka malah tidak memiliki jiwa dan budaya yang seharusnya mereka miliki. Nampaknya mereka terlalu berbangga diri dengan pencapaian simbol yang dijadikan brand image dalam menjual komoditas mereka.
Seharusnya jauh sebelum simbol mereka dapatkan, terlebih dahulu mereka harus membudayakan aktivitas-aktivitas positif seperti kedisiplinan, keteraturan dan hal-hal lain yang mengkonstruksikan jalan menuju pencapaian simbol, sehingga ada atau tidak adanya simbol bukan menjadi hal yang utama. Ketika simbol diraih maka hal tersebut tidak lebih dari hasil pembudayaan aktivitas-aktivitas positif. Bukan simbol semu tanpa ruh, simbol tanpa esensi yang lahir dari adanya logika pasar. Logika yang kemudian menjadikan mereka dituntut untuk mendapatkan simbol dengan memoles hal-hal sifatnya tidak esensial, hal-hal yang cuma ada di permukaan tanpa menyentuh kedalaman dari aktivitas yang mereka lakukan.
Dari sini kemudian timbul mental yang tidak berdasarkan budaya. Mental-mental yang juga hanyalah simbol. Yang tampak bagus di permukaan namun sebenarnya sangat dangkal. Mereka berbangga dengan simbol tanpa kemudian berusaha membudayakan dalam diri mereka apa yang sebenarnya menjadi esensi dari simbol itu. Seharusnya mereka malu karena ternyata simbol yang mereka dapatkan dengan susah payah tidak berbanding lurus dengan perilaku mereka. Sampai sekarang saya selalu ingin mengatakan “bedebah dengan simbol”.
Tulisan ini didedikasikan untuk orang-orang bangga dengan jabatn dan hampir-hampir tidak lagi menghargai untuk apa sebenarnya jabatan yang mereka dapatkan itu.





Para pecinta game PC tentunya mengenal dengan baik game laris keluaran Microsoft yang memiliki awalan nama Age of. Terdapat banyak varian dari game bergenre strategi ini. Ada Age of Empire-The Rise of The Rome, Age of Empire-The Age of The King, Age of Empire-The Conquerors, Age of Mithology dan beberapa varian lainnya. Ada lagi game PC bernama Counter Strike dengan juga beberapa variannya yang sampai saat ini masih memiliki banyak penggemar.
Di sekitar kita sekarang ini banyak logo-logo bertuliskan WIFI dan area hotspot yang bertebaran. Di sekitar kita juga, di TV, majalah, koran dan beberapa media lain juga bertebaran akses cepat dunia supranatural. HP yang kita pergunakan bisa menjadi penyambung baik ke dunia internet atau ke dunia supranatural. Tinggal cari opsi go to URL dan ketik alamat yang akan kita tuju. Atau ketik REG (spasi) bla…bla…bla… dan kirim ke nomor yang telah disediakan. Tinggal dipilih.
Saya sudah tidak sabar menunggu kedatangan autobots di Bumi. Mudah-mudahan filmnya tidak mengecewakan. Hidup Autobots, hancurkan Decepticons.
AIR YANG BEBERAPA WAKTU LALU DIPEREBUTKAN PULUHAN RIBU ORANG HINGGA MEMAKAN KORBAN. SEANDAINYA PRAKTEK PENGOBATAN PONARI DIBUKA LAGI, NISCAYA ANTREAN AKAN MAKIN PANJANG.






