Bank Sampah Nurul Hikmah Tuwel Bojong Tegal


Di tengah masyarakat baik di kota maupun di desa, jamak ditemukan mereka yang membuang sampah sembarangan seperti di kebun belakang rumah, tanah pekarangan yang tidak dipakai, dan yang paling sering di kali atau sungai. Perilaku membuang sampah sembarangan tersebut telah membudaya dan biasanya sulit untuk diubah. Sampah yang dibuang sembarangan terus menumpuk. Di kemudian hari, sampah akhirnya menjadi persoalan. Masyarakat kemudian cenderung menyalahkan satu sama lain. Sampah menjadi persoalan tak terpecahkan.

Persoalan serupa juga terjadi di Dukuh Tere Tuwel Kecamatan Bojong Kabupaten Tegal. Warga terbiasa membuang sampah di kebun dan kali jika tidak membakarnya. Berangkat dari adanya kesadaran bahwa sampah adalah persoalan dan perlunya pengelolaan sampah, warga Dukuh Tere berinisiatif untuk mengelola sampah dengan mendirikan Bank Sampah Nurul Hikmah pada akhir tahun 2013. Continue reading

Babak Baru KNPI Tegal


Kepengurusan baru Dewan Pengurus Daerah (DPD) Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Tegal 2015-2018 telah resmi dilantik pada Rabu, 16 September 2015. Di bawah komando Ketua Umum Syamsul Falah, kepengurusan KNPI ini adalah kepengurusan dengan wajah baru. Tampuk kepemimpinan KNPI yang sebelumnya berada di tangan birokrat kini beralih ke tangan non birokrat.

Wajah baru ini bukan hanya ada di tingkatan pimpinan. Kepengurusan KNPI didominasi oleh pemuda-pemuda yang secara usia berada di bawah 30 tahun. Usia definitif pemuda sesuai Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2009 tentang Kepemudaan.

Peralihan kepemimpinan pemuda dari birokrat ke non birokrat dan wajah-wajah muda yang mengisi kepengurusan merupakan komposisi yang digadang-gadang mampu menjadi harapan baru masa depan pembangunan kepemudaan di Kabupaten Tegal.  Continue reading

Wajah Tegal dalam Kartu Pos


image1 (1) image1

Pada Juni 2015 terbit buku berjudul “Kota di Djawa Tempo Doeloe” karya Olivier Johannes Raap yang diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia (KPG).  Kelahiran buku ini didasari oleh koleksi kartu pos pribadi milik Olivier pada periode1900-1950. Pada 2013 telah terbit 2 buku berjudul “Pekerdja di Djawa TempoDoeloe” dan “Soeka Doeka di Djawa Tempoe Doeloe” yang juga menggunakan kartu pos sebagai media dokumentasi.

Kartu-kartu pos milik Olivier didapatkan dari berbagai sumber. Ada yang didapatkan dari hasil tukar menukar dengan kolektor lain, pasar loak, toko barang bekas, pasar buku, bursa filateli, lelang internet, dan pedagang khusus. Buku setebal 340 halaman ini menampilkan sebanyak 277 kartu pos koleksi Olivier akan mengajak pembaca pada sejarah 44 kota di Jawa. Kartu pos yang ditampilkan dalam buku disertai dengan penjelasan singkat foto.

Salah satu kota yang disebutkan dalam buku ini adalah Tegal. Dalam buku ini Tegal ditampilkan sebanyak 3 kali. Lokasi di Tegal yang disebutkan dalam buku ini yaitu Benteng Tegal, Pasar Sore, dan Kantor Tol. Secara berurutan ketiga lokasi tersebut, sebagaimana ditulis Olivier, adalah sebagai berikut: Continue reading

Komunitas Literasi Tiga Surau


Tiga Surau adalah nama dari komunitas literasi yang pendiriannya diinisasi oleh pemuda Desa Tuwel pada 20 November 2012. Komunitas ini beralamat di Mushalla Nurus Shobah lantai 1 Dukuh Tere Tuwel Kecamatan Bojong Kabupaten Tegal. Aktivitas literasi Tiga Surau diwujudkan melalui pendirian Taman Baca Masyarakat (TBM) bernama Tiga Surau. Remaja dan pemuda di Tuwel ingin agar aktivitas belajar masyarakat tidak berhenti saat sudah lulus dari sekolah. Pemuda yang bergiat di TBM Tiga Surau yakin bahwa selama ini bukan minat baca masyarakat yang rendah, namun akses untuk mendapatkan buku masih sulit. Untuk itulah TBM Tiga Surau hadir agar masyarakat dapat mengakses buku-buku dan bahan bacaan lain sebagai salah satu sumber belajar.

Sejak didirikan TBM Tiga Surau telah memiliki anggota terdaftar sebanyak 272 orang yang terdiri dari anak-anak hingga dewasa. Mereka biasa berkunjung ke TBM Tiga Surau pada saat hari dan jam buka TBM Tiga Surau yaitu Jum’at siang pukul 14.00-17.00 dan Minggu pagi pukul 09.00-14.00. Pada saat jam operasional, jumlah pengunjung TBM biasanya mencapai 15-20 orang. Koleksi buku TBM Tiga Surau sendiri hingga kini mencapai 1500an buku dengan tema dan judul yang beragam.

Tiga Surau, TegalLayaknya perpustakaan pada umumnya, TBM Tiga Surau melayani peminjaman buku dengan cuma-cuma alias gratis. Namun denda tetap dikenakan jika terlambat mengembalikan agar peminjam disiplin dalam mengembalikan buku.. Agar dapat menarik masyarakat untuk gemar membaca, TBM Tiga Surau mengadakan kegiatan lain selain peminjaman buku, misalnya lomba-lomba untuk anak-anak, pelatihan-pelatihan untuk remaja dan pemuda, dan pemutaran film-film edukasi setiap sebulan sekali.

TBM Tiga Surau sendiri telah dikunjungi oleh tamu dari berbagai kalangan. Mulai dari komunitas mahasiswa yang berasal dari Tegal dan luar Tegal, Bupati Tegal Ki Enthus Susmono, hingga beberapa artis dan tokoh nasional seperti Fadly vokalis band PADI, Anji eks vokalis DRIVE, Baron, KH. Cholil Nafis, Ph.D (PBNU), dan Zastrouw El Ngatawi (LESBUMI PBNU).

Email              : tigasurau@yahoo.com

Facebook         : Taman Baca Masyarakat Tiga-Surau

Twitter            : @tigasurau

Path                : TBM Tiga Surau

Instagram        : tamanbaca3surau

Tumblr             : www.tigasurau.tumblr.com

Blog                 : www.komunitastigasurau.blogspot.com

HP                    : 087730808740/081381875587 (WA available)

Artikel ini dimuat di Info Tegal

Menggagas Gerakan Literasi Warga


Studi dan survei mengenai tingkat literasi dan minat membaca di Indonesia telah beberapa kali dilakukan. Studi dan survei tersebut hampir selalu menunjukkan hasil yang sama, memosisikan Indonesia dalam peringkat rendah.

Dalam rilis hasil survei terakhir Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS) tahun 2011, disebutkan bahwa Indonesia menempati posisi 41 dari 45 negara. Laporan studi Programme for International Student Assessment (PISA) 2012 menyatakan bahwa peringkat pendidikan Indonesia, terutama di bidang matematika, sains, dan membaca berada pada urutan ke-64 dari 65 negara. Statistik UNESCO tahun 2012 menyebutkan bahwa indeks minat baca di Indonesia baru mencapai 0,001. Artinya, setiap 1.000 penduduk, hanya 1 orang saja yang memiliki minat baca. Angka UNDP juga mengejutkan bahwa angka melek huruf orang dewasa di Indonesia hanya 65,5 persen saja. Sedangkan Malaysia sudah 86,4 persen.

Hasil studi dan survei tersebut masih belum ditambah dengan hasil studi lain seperti Human Development Index (HDI) dan Trends in International Mathematic and Science Study (TIMSS) yang secara tidak langsung juga dapat mendukung temuan mengenai rendahnya tingkat literasi dan minat membaca di Indonesia. Apakah memang benar tingkat literasi dan minat membaca di Indonesia sedemikian rendah?. Continue reading

Sisi Lain Istana Presiden Gus Dur*


*Dimuat dalam rubrik RESENSI Harian Koran Madura edisi Jum’at, 11 Februari 2015

Presiden Keempat Republik Indonesia, KH. Abdurrahman Wahid atau yang biasa dipanggil Gus Dur ibarat sumur yang tak pernah kering. Banyak hal yang dapat ditimba dari pribadi yang dikenal penuh kontroversi dari mulai guyonan khas Gus Dur hingga pemikiran beliau tentang keIslaman dan keIndonesiaan. Banyaknya hal yang menarik dari Gus Dur telah menarik minat banyak orang untuk menuliskannya dalam bentuk buku utuh maupun tulisan-tulisan pendek yang kemudian dikumpulkan dalam sebuah buku.

Buku karya Priyo Sambadha ini adalah salah satunya. Ditulis oleh seorang mantan staf kepresidenan yang hampir setiap hari intens berinteraksi langsung dengan Gus Dur semasa di istana kepresidenan, buku ini menyuguhkan cerita-cerita lucu dan unik yang mungkin selama ini tidak banyak diketahui orang. Pada saat Gus Dur menjadi Presiden, Priyo sudah 14 tahun bekerja di istana.

Sejak Gus Dur dilantik sebagai presiden, kehadiran beliau beserta keluarga di istana, sebagaimana dituturkan penulis, telah memberikan warna yang sama sekali berbeda jika dibandingkan dengan presiden sebelumnya. Penulis yang telah bertugas di istana sejak era Presiden Soeharto ini lebih banyak membandingkan kehidupan keseharian Presiden Gus Dur dengan Presiden Soeharto. Secara umum, penulis berpandangan bahwa banyak peraturan atau kebiasaan yang secara signifikan berubah di lingkungan istana presiden. Continue reading

Ivan Illich dan Deschooling Society (Part 3)


“Ivan Illich dan Deschooling Society” (Part 3)

4 hari yang lalu saat masih di Makassar ada seseorang yang saya tidak kenal mengirim pesan via inbox di salah satu media sosial. Dia berasal dari Yogyakarta. Dia berujar bahwa adiknya yang saat ini sedang menyelesaikan penulisan skripsi membutuhkan terjemahan buku “Deschooling Society” (1971) karya Ivan Illich yang diterjemahkan oleh A. Sonny Keraf dan diterbitkan oleh Yayasan Obor Indonesia dengan judul “Bebaskan Masyarakat dari Belenggu Sekolah”. Dia berinisiatif menghubungi saya setelah membaca salah satu tulisan di blog saya.

Saya sampaikan bahwa buku tersebut saya dapatkan tahun 2006 dari penerbit Obor dan saat ini sudah susah mendapatkannya karena sudah tidak (atau mungkin belum) diterbitkan lagi. Saat ada perhelatan Jakarta Book Fair, kalau tidak salah, saya mendapati buku ini terpajang di stand penerbit Obor.

Mendapati respon saya, dia langsung menghubungi Obor. Pihak Obor menyampaikan bahwa buku Ivan Illich sudah tidak ada dan belum diterbitkan ulang.

Akhinya saya sampaikan jika memang benar-benar membutuhkan buku tersebut bisa saya bantu untuk memfotokopikan.

Semalam kopian buku “Deschooling Society” saya ambil di tempat fotokopi. Tadi pagi buku saya kirim ke sebuah alamat di Surabaya Jawa Timur.

Menjelang Dzuhur HP saya berbunyi. Ada salah seorang teman mengirim BBM. Dia berniat mengirimkan 1 dus buku untuk didonasikan ke Taman Baca Masyarakat (TBM) Tiga Surau. Tidak lama setelah itu saya mendapati pesan di inbox salah satu media sosial. Si pengirim yang saya tidak kenal menulis pesan bahwa dia akan mendonasikan beberapa buku untuk TBM Tiga Surau.

Alhamdulillah 😊

View on Path