Pendidikan dan Transformasi Sosial


Potret dunia pendidikan semakin lama semakin menampakkan wajah buram bak akar pohon yang berkelindan tanpa arah dan tujuan yang jelas. Beberapa usaha inovatif yang dilakukan dalam dunia pendidikan seakan bukan tawaran-tawaran solutif bagi problematika yang semakin kompleks. Output yang dihasilkan dunia pendidikan seringkali tidak mampu – untuk tidak dikatakan gagal – menerjemahkan teori-teori dan konsep-konsep ke dalam tataran praksis. Pengejewantahan teori-teori yang telah “ditelan” objek sekaligus subjek pendidikan ke dalam ranah praksis (seharusnya) bukan hal yang taken for granted. Dengan usaha inilah, pendidikan baru dikatakan memanusiakan kemanusiaan manusia.

Pendidikan untuk transformasi sosial merupakan mainstream aliran pendidikan berhaluan Freirean (Paulo Freire). Aliran pendidikan ini menggugat kemapanan pendidikan yang dianggap stagnan tanpa memberikan arti dan perubahan yang signifikan bagi realitas yang dihadapi manusia. Kita bisa menengok kembali ada masa tahun 70-an, dimana kampanye untuk meruntuhkan kemapanan sekolah digembor-gemborkan secara masif oleh Ivan Illich lewat buku fenomenal Deschooling Society (1971, dalam bahasa Indonesia buku ini diterjemahkan menjadi Bebaskan Masyarakat dari Belenggu Sekolah). Masih dalam kritik yang senada, sahabat Illich, yaitu Everett Reimer, juga mempunyai buku yang menggugat hal yang sama. Buku yang berjudul School is Dead; Alternative in Education (1971) seakan melengkapi dan mengamini tesis-tesis bahwa sekolah telah mengalami kemandegan dalam mentransformasikan kehidupan sosial. Alih-alih transformasi sosial, untuk menerjemahkan teori ke dalam realitaspun agaknya sulit bagi sekolah untuk melakukannya.

Walaupun keluarga Deschooling mempunyai alur pemikiran yang logis, namun mereka sering menadapat kritik yang menyatakan bahwa mereka telah terjebak dalam pikiran yang logis tapi penuh kontradiksi, inkonsisten dan tidak realistis. Ivan dan Reimer memang mampu menelanjangi kebobrokan sistem pendidikan yang dilaksanakan sekolah, namun merekapun tidak mampu menawarkan solusi yang realistis atas hal itu. Gagasan learnig webs dalam Deschooling Society akhirnya harus menjadi kelembagaan formal juga apabila dipraktekkan dalam masyarakat. Hal inilah yang kemudian menyebabkan tesis Illich kontraproduktif dengan hal-hal yang berhasil ia telanjangi habis-habisan.

Berbeda halnya dengan keluarga Deschooling, Paulo Freire menawarkan alternatif yang cukup realistis. Dengan memposisikan pendidikan sebagai media pembebasan, Freire menegaskan bahwa sudah selayaknya manusia mempunyai dinamika dalam dirinya, sehingga transformasi sosial akan menjadi tujuan baginya setelah menjalani proses yang bernama pendidikan. Untuk merealisasikan hal ini, maka manusia jangan hanya memiliki kesadaran magis, pun kesadaran naif. Kedua kesadaran tersebut hanya menjadikan manusia bersikap fatalistik. Sehingga manusia harus memiliki kesadaran kritis yang bisa membangkitkan semangatnya untuk merubah realitas yang ada.

Pendidikan untuk transformasi sosial memang bukan tawaran yang teoretis, namun benar-benar menjamah tataran praksis. Seringkali kita mendengar bahwa output-output pendidikan tidak mampu hidup dalam masyarakat, hatta mengubah kebobrokan realitas. Padahal mereka telah menghabiskan waktu mereka di bangku sekolah dan bangku kuliah. Alih-alih melakukan perubahan terhadap realitas, untuk beradaptasi dengan realitas – dalam istilah Freire, sikap ini merupakan sikap hewan – merekapun kadang tidak mampu. Tesis-tesis Illich, Reimer, dan Freire – walaupun secara aksiologi berbeda – merupakan gugatan yang (seharusnya) kita dengungkan juga pada masa sekarang ini. Dengan menyadari tugas mengubah realitas, maka diharapkan juga output pendidikan akan mampu menyadari tugas yang sebenarnya. Sehingga tugas mereka bukan hanya menghabiskan waktu dengan sia-sia di bangku kuliah. Namun lebih dari itu, output pendidikan (seharusnya) menyadari peran yang akan diembannya pasca mengenyam pendidikan dan kembali ke masyarakat.

Satu hal yang patut menjadi catatan adalah bahwa kecenderungan untuk berfikir pragmatis. Output pendidikan seringkali hanya memikirkan nasib sendiri untuk mencari pekerjaan untuk penghidupannya dan dengan serta merta melupakan nasib sesama. Walaupun hal ini juga bukan kesalahan individu an sich, namun ketika ditarik dalam skup yang lebih luas, maka kesalahan juga terletak pada kehidupan politik dan ekonomi yang sudah semakin tidak menentu. Sehingga, dengan kata lain, negara juga bertanggung jawab akan hal ini. Dengan memakai logika ini, sudah selayaknya negara mempunyai political will yang penuh demi transformasi sosial yang didambakan seluruh stake holder masyarakat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s