Menghayati (Kembali) Adzan


Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Bukhari, Rasulullah pernah bersabda “ Jika kalian mendengar panggilan ( adzan ), maka jawablah seperti apa yang dikatakan

Dalam kehidupan kita sebagai seorang muslim, lima kali dalam sehari semalam terdengar di telinga kita panggilan untuk menunaikan shalat wajib ( baca : adzan ) yang dilantunkan oleh muadzin. Dalam adzan terdapat kalimat-kalimat yang bisa membuat kita terbuai dan benar-benar mengakui akan keberadaan Allah.

Ada kalimat takbir yang membuat kita sadar dan selalu mengingat kemahabe-saran Allah sebagai Sang Pencipta (Al Khaliq). Setelah menyadari kebesaran-Nya, kita kemudian diajak menghayati dua kalimat syahadat yang mengindikasikan bahwa tiada dzat yang pantas disembah melainkan Allah, Tuhan semesta alam. Begitu seterusnya, kalimat-kalimat beri-kutnya mengajak kita untuk takluk dengan perwujudan menjalankan shalat serta  me-raih kemenangan dan kebahagiaan hakiki melalui media yang bernama shalat. Syair-syair adzan yang indah ini kemudian dilanjutkan dengan takbir dan ditutup dengan kalimat tauhid.

Seringkali kalimat-kalimat indah nan mulia dalam adzan ini tidak lagi diindahkan oleh sebagian orang Islam. Bahkan ketika adzan, tidak lagi seperti yang ada pada zaman Rasulullah,  dikumandangkan dengan lantang melalui speakerphone, masih banyak yang “tidak” mendengarnya, seolah tak ada yang masuk ke telinga. Adzan dibiarkan berlalu begitu saja tanpa kemudian dihayati dan kemudian dijawab sebagaimana apa yang diperintahkan Rasulullah SAW. Semestinya sebagai muslim yang selalu mengharap rahmat Allah, sesegera mungkin menghentikan segala aktifitas yang sedang dijalani untuk meresapi kalimat-kalimat adzan kemudian menjawabnya sesuai dengan tuntunan Rasulullah.

Rasulullah secara spesifik memaparkan dalam salah satu riwayat an Nasai me-ngenai pahala bagi orang yang menjawab adzan. Ketika Bilal telah selesai me-ngumandangkan adzan, Rasulullah bersab-da: “Barang siapa yang mengatakan (men-jawab) seperti ini ( adzan ) dengan yakin maka dia masuk surga”.

Ketika melakukan aktifitas dan rutinitas sehari-hari, kita seringkali melupakan Tuhan. Apresiasi dalam bentuk menghayati dan menjawab lantunan syair-syair dalam adzan bisa mengingatkan kita kembali akan keberadaanNya.

Bagi orang-orang workaholic , adzan mungkin menjadi satu gangguan, namun bila direnungi adzan bisa menjadi suatu warning untuk beristirahat, karena dalam bekerja dibutuhkan waktu barang 5-10 menit untuk melepas kepenatan.

 Jika kita senang menghayati dan melan-tunkan lagu-lagu kalem lagi lembut seperti salah satu lagu Josh Groban yang berjudul You Raise Me Up, ataupun lagu Dealovanya Once yang baru-baru ini sering diputar di radio, mengapa kita tidak berusaha meng-apresiasi kedalaman dan keindahan makna yang terkandung dalam adzan? Jika adzan benar-benar kita nikmati sebagai “suguhan lezat” bagi jiwa kita yang kering, diresapi dan dihayati maknanya sebagai salah satu bentuk dzikir kita kepada Allah, maka kita telah berusaha menghadirkan DiriNya yang selalu mengawasi  diri kita, sehingga kon-sep ihsan yang telah kita pelajari sedikit demi sedikit dapat terealisasi.[]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s