Menuju Peradaban Buku, Membangun Kualitas Bangsa

Leave a comment

December 31, 2007 by kamalfuadi


Ketika mesin cetak pertama kali ditemukan Johannes Gutenberg, barangkali ia tidak pernah membayangkan hasil ciptaannya akan sangat memiliki pengaruh terhadap perkembangan buku seperti sekarang ini. Penemuan mesin cetak tersebut telah merubah penyebaran infromasi yang nantinya juga menjadi salah satu faktor terjadinya Renaissans dalam peradaban Barat. Sebuah buku yang dicetak, diperbanyak dan disebarluaskan memiliki kekuatan yang luar biasa dalam membangun paradigma, opini, menyebarkan gagasan-gagasan baru, serta mencitrakan sesuatu.

 

Dengan buku, orang dapat mengembangkan pemikiran-pemikiran yang lebih maju dan kompleks. Dengan buku, orang dapat membaca setiap gagasan yang ditawarkan. Dengan buku, orang akan lebih leluasa melakukan analisis logis kritis terhadap setiap wacana, kejadian, dan gagasan yang dipasarkan ke publik. Bahkan perdebatanpun bisa dilakukan melalui buku. Dalam sejarah, banyak sekali terjadi pertarungan wacana melalui buku. Kita ingat bagaimana seorang Al Ghazali, melalui buku yang ditulisnya Tahafut al Falasifah, memperdebatkan masalah filsafat dengan Ibnu Rusyd, melalui buku yang ditulisnya Tahafut at Tahafut. Dan akhirnya dengan buku pula, peradaban-peradaban di dunia ini menyongsong perhelatan kemajuan.

 

Agama-agama besar di dunia ini layak disebut sebagai agama buku. Hal ini disebabkan karena mereka mendasarkan identitas-identitas religius mereka kepada buku (baca: kitab suci). Begitu banyak bangsa, etnis, serta golongan yang menyatu dalam suatu komunitas iman karena kitab-kitab suci ini. Dari hal inilah mengapa kita dapat mengatakan betapa buku memiliki kekuatan.

 

Peradaban Islam sendiri, juga berasal dari peradaban buku. Tidak dapat dielakkan lagi bagaimana ilmu-ilmu lain berkembang hanya dari sebuah kitab suci yang bernama Al Quran. Dalam Al Quran terdapat teks-teks yang membangkitkan umatnya untuk selalu menelaah ayat-ayat Tuhan yang tersurat dan tersirat. Telaah-telaah yang mendalam tersebut akhirnya melahirkan berbagai pemikiran-pemikiran. Ketika menengok sejarah, dapat kita ketahui bagaimana para pemikir Islam menuangkan gagasan-gagasannya dalam buku-buku. Buku-buku ini dihasilkan melalui tetesan keringat bahkan darah yang disebabkan oleh despotisme rezim. Usaha keras mengembangkan peradaban lewat buku ini bahkan dilakukan ketika mereka dipenjarakan karena, lagi-lagi, despotisme rezim yang sangat tidak toleran terhadap segala jenis perbedaan.

 

Buku merupakan sebuah benda mati yang mempunyai kekuatan. Dan karena hal inilah, kemudian vandalisme rezim berusaha memberangus setiap gagasan-gagasan dalam buku yang dianggap bertantangan – untuk tidak mengatakan melawan – kebijakan rezim. Di Indonesia sendiri, kejadian seperti ini telah beruang kali terjadi. Buku-buku almarhum Pramoedya Ananta Toer misalnya, selama beberapa dekade dilarang keras untuk diedarkan di tengah-tengah masyarakat hanya karena perbedaan perspektif mengenai sejarah.

 

Buku merupakan sarana bagi manusia untuk belajar. Berbagai macam ilmu telah direkam dalam buku. Bermacam peristiwa yang terjadi di sekitar manusia telah “terpahat” dalam buku. Orang yang membaca buku, berarti dia telah berniat untuk menambah wawasan dan memperkaya perspektif. Dengan membaca buku pula, orang akan mengenal beberapa wilayah-wilayah baru yang belum pernah diketahuinya. Buku memberikan jalan bagi manusia untuk beraktifitas secara kreatif. Orang-orang bisa menulis gagasannya dalam sebuah buku bisa jadi karena terinspirasi dari gagasan orang lain yang dituangkan dalam sebuah buku juga. Membaca dan menulis buku merupakan tradisi ilmiah yang (seharusnya) perlu untuk terus dilestarikan. Tradisi ilmiah ini merupakan salah satu faktor yang mendukung terjadinya kemajuan.

 

Namun sungguh sangat ironis ketika kita melihat kondisi yang terjadi di Indonesia, tradisi melek baca belum merupakan tradisi yang telah merata di kalangan masyarakat. Dari data yang ada, diperoleh keterangan bahwa dari sekitar 20 ribu SD inti, semuanya telah memiliki perpustakaan. Jumlah yang sangat kecil jika dibandingkan dengan jumlah SD di Indonesia yang secara keseluruhan mencapai 170 ribu SD. (Republika, 4 Februari 2007).

 

Dari Dana Alokasi Khusus (DAK) yang diberikan pemerintah kepada beberapa sekolah, 40 persen diantaranya memang dinstruksikan untuk membangun perpustakaan sekolah. Dana ini belum termasuk APBNP (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan) 2006 untuk 1.000 sekolah yang semuanya difokuskan untuk pembangunan perpustakaan sekolah. Praktis, hingga 2007, diperkirakan ada sekitar 54.180 SD yang sudah memiliki perpustakaan. (Republika, 4 Februari 2007). Lagi-lagi, jumlah yang sangat kecil dibandingkan dengan seluruh jumlah SD di Indonesia. Padahal, menumbuhkan kecintaan terhadap buku sejak kecil sangat berguna bagi perkembangan anak.

 

Ilustrasi mengenai kondisi perpustakaan Sekolah Dasar di Indonesia tersebut merupakan suatu kondisi yang perlu mendapatkan penanganan yang serius. Tentunya sangat menggembirakan ketika anggaran nasional untuk pendidikan naik menjadi sebesar 20% dari anggaran nasional. Semoga naiknya anggaran pendidikan tersebut akan membawa angin segar bagi kondisi pendidikan Indonesia dan tentu saja, nantinya akan semakin menambah jumlah sekolah yang memiliki perpustakaan.

 

Permasalahan mengenai minat baca merupakan masalah yang selalu membelit dunia perbukuan. Perpustakaan sebagai tempat untuk belajar belum sepenuhnya bisa menumbuhkan minat baca masyarakat. Padahal tidak dikenakan biaya sepeserpun untuk sekedar membaca buku di perpustakaan. Permasalahan lain yang selalu dikaitkan oleh masyarakat mengenai perbukuan adalah mahalnya harga buku yang dijual di pasaran. Masyarakat selalu mengeluh mengenai mahalnya harga buku yang kemudian melemahkan, bahkan melumpuhkan, minat baca masyarakat. Namun sebaliknya, para penerbit buku menyatakan bahwa masayarakat mempunyai minat baca yang sangat minim. Sejatinya, masalah dalam dunia perbukuan merupakan lingkaran setan yang tidak terselesaikan.

 

Namun ketika melihat kenyataan lain di sekitar kita, banyak sekali orang berlalu lalang ke mal dan menghabiskan banyak uang untuk berbelanja yang menghambur-hamburkan saja (bukan berbelanja barang-barang pokok). Banyak anak-anak muda yang menghabiskan banyak waktunya untuk sekedar nongkrong di sekitar mal. Banyak orang-orang yang berlalu lalang ke mal, berpakaian rapi, menenteng handphone keluaran terbaru, namun buku bukanlah pilihan bagi orang-orang yang mempunyai kelebihan uang. Alih-alih membangun peradaban melalui buku, menumbuhkan minat baca saja sangat sulit. Akankah kita selalu berada dalam lingkaran setan perbukuan?Lalu bagaimana wajah peradaban Indonesia?.               

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: