Sekolah Sebagai Rumah Kedua

3

December 31, 2007 by kamalfuadi


Masa depan, keunggulan, serta kemajuan suatu bangsa ditentukan oleh keunggulan Sumber Daya Manusia (SDM) yang dimilikinya, disamping Sumber Daya Alam (SDA). Secara kualitatif, SDM yang dimiliki suatu bangsa, secara signifikan diharapkan dapat melakukan pembangunan secara berkesinambungan dengan mengelola sumber daya (resources) yang ada demi kepentingan dan kesejahteraan bersama. Pendidikan, diyakini sebagian besar masyarakat sebagai salah satu media penentu kemajuan bangsa. Kemajuan yang dikehendaki melalui pendidikan ini barangkali hanya akan menjadi utopia belaka, tatkala teorisasi-teorisasi pendidikan yang dihasilkan tidak bisa diejawantahkan serta dibarengi ke dalam praksis nyata. Sehingga berbagai upaya dilakukan demi realisasi teori-teori pendidikan tersebut, diantaranya dengan mendirikan sekolah.

Setiap manusia pada hakekatnya mempunyai daya belajar dan membutuhkan pengajaran ( baca : pendidikan ). Maka pendidikan bukan otoritas sekolah saja dalam pelaksanannya, yang kemudian disebut sebagai pendidikan formal. Namun pendidikan juga bisa dilaksanakan dalam keluarga, masyarakat, dan lingkungan pendidikan lainnya, yang kemudian disebut sebagai pendidikan informal.

Sampai saat ini, mengutip pendapat Ivan Illich, proses pendidikan yang masih ada di sekolah masih dianggap sebagai inisiasi ritual bagi mereka yang ingin meraih kesuksesan dalam hidup. Realitas yang ada dalam masyarakat menunjukkan bahwa sebagian besar orang tua berusaha make a trust kepada anak-anaknya untuk masih sekolah, dengan harapan bahwa anak-anak made in sekolah ini bisa memberikan manfaat, minimal bagi diri sendiri, dalam bentuk kesuksesan hidup dan kesurvivean ketika menghadapi berbagai tantangan dalam hidup ini.

Akan tetapi, ternyata fakta di lapangan berbicara bahwa hasil dari proses pendidikan yang diharapkan dari sekolah justru menunjukkan kenyataan yang paradoksal dengan kenyataan. Output sekolah belum mampu memberikan kontribusi nyata ketika eksistensi dan perannya digugat serta ditarik dalam skup yang lebih luas dalam mengentaskan berbagai persoalan bangsa. Alih-alih berharap dengan harapan tinggi, kenyataan yang sangat ironis justru kita dapatkan ketika melihat banyak perilaku-perilaku yang seharusnya tidak pantas dilakukan oleh anak-anak yang telah banyak mendapatkan pendidikan ini. Yang kemudian menjadi pertanyaan adalah “apakah ada yang salah dengan ruang proses pendidikan yang bernama sekolah ini?”.

Kelahiran dan Tugas Sekolah

Pada mulanya, dalam corak masyarakat yang masih sederhana, dimana masing-masing keluarga masih bisa memenuhi kebutuhan hidup sendiri, segala kebutuhan hidup mengenai makanan, pakaian, dan tempat tinggal atau yang lazim disebut sandang, pangan, dan papan ditangani sendiri oleh masing-masing anggota keluarga secara gotong royong. Demikian pula pendidikan yang diberikan kepada anak-anak pada umumnya merupakan kelanjutan adat istiadat yang mereka terima dari nenek moyang yang merupakan tradisi statis yang hampir tidak berubah-ubah. Di samping itu diajarkan pula sesuatu yang lazimnya dilakukan oleh orang tua dalam keluarga tersebut. Dengan kata lain, kehidupan generasi-generasi selanjutnya adalah seperti yang diajarkan oleh orang-orang tua sebelumnya.

Dalam lingkungan keluarga, pendidikan yang sejak semula dianggap sebagai kebutuhan dasar (basic needs) ini dapat secara langsung ditangani oleh orang tua dengan menyempatkan waktu memberikan pendidikan dalam bentuk-bentuk pengajaran-pengajaran yang menyangkut aspek kognitifitas dan pembentukan sikap serta perilaku (mental attitude) yang menekankan afektifitas. Bahkan anak-anakpun bisa dengan mudah mencontoh segala perilaku dan aktifitas yang dilakukan oleh orang tua mereka, dikarenakan kedekatan dan pergaulan intens yang terjadi diantara orang tua (pendidik) dan anak-anak (yang dididik).

Kehidupan masyarakat lambat laun mengalami perubahan dalam segala aspeknya. Perubahan dari masyarakat agraris ke masyarakat industri, kemajuan teknologi komunikasi, informasi dan transportasi telah membuat dunia bagaikan desa global (global village) tanpa batas. Berbagai perubahan ini menuntut adanya kebutuhan akan kemampuan dan spesialisasi dalam masing-masing bidang. Hal ini menyebabkan para orang tua yang sebelumnya bisa mencurahkan perhatian dan pikirannya untuk mendidik dan membimbing anak-anaknya, tidak lagi bisa menjalankan tugas ini, tugas mendidik ini kemudian diserahkan kepada sekolah. Hal ini juga karena tugas orang tua sudah sangat berat dan membutuhkan bantuan.

Pendidikan dalam sekolah merupakan kelanjutan dari pendidikan yang telah dilakukan orang tua di rumah. Pendidikan dalam keluarga ini merupakan fundamen dari pendidikan anak selanjutnya, baik di sekolah maupun masyarakat. Comenius pernah menyatakan bahwa tingkatan pendidikan awal dalam keluarga disebutnya sebagai scola materna (sekolah Ibu). Keluarga, dalam hal pendidikan ini tetap bertanggung jawab dan mengontrol pendidikan anak-anak, baik dalam keluarga sendiri maupun sekolah. Guru di sekolah hanya menerima sebagian tanggung jawab pendidikan yang diberikan keluarga.

Sekolah Adalah Rumah Kedua

Sekolah dalam beberapa waktu memang dirasakan telah mampu memberikan hasil yang diharapkan oleh para orang tua. Indikator yang bisa dilihat adalah dengan adanya beberapa lulusan sekolah yang bisa memberikan kontribusi nyata dalam pembangunan bangsa. Namun lambat laun sekolah juga tidak mampu lagi berbuat apa-apa ketika perannya dipertanyakan. Ketika harapan-harapan akan adanya generasi-generasi penerus yang bisa dihasilkan sekolah demi kepentingan bangsa, sekolah seolah tidak bisa memenuhinya. Sekolah disinyalir telah mengalami kemandulan dan stagnasi dalam menghasilkan sesuatu yang berguna demi kesejahteraan bangsa. Realitas yang sering kita lihat di sekitar kita menunjukkan bahwa yang sering muncul dari sekolah adalah generasi-generasi yang jauh dari nilai-nilai pedagogis yang diajarkan di sekolah. Perilaku-perilaku yang ditunjukkan mereka seringkali adalah perilaku kontraproduktif budaya pedagogis sekolah. Tawuran antar pelajar dan seks bebas seolah telah menjadi budaya yang lazim dilakukan oleh pelajar kita.

Menurut hemat penulis, masalah-masalah mengenai sekolah yang muncul di sekitar kita menunjukkan bahwa sekolah seolah telah keluar dari relnya sebagai tempat untuk membuat peserta didik merasa dirinya punya arti dan nilai bagi masyarakatnya. Perilaku-perilaku menyimpang yang telah disebutkan diatas mengindikasikan bahwa pengelolaan sekolah selama ini telah tercerabut dari ruh-ruh pendidikan yang berusaha membuat manusia benar-benar menjadi manusia. Fungsi sekolah sebagai institusi yang membantu keluarga dalam membantu keluarga dalam mendidik anak-anak tidak lagi diperhatikan oleh para pengelola sekolah (guru).

Memang kalau diperhatikan secara seksama, praktek pendidikan dalam sekolah tidak lagi sesuai dengan harapan orang tua. Para pengelola sekolah seolah hanya menjeluskan tugas/memenuhi kewajibannya sebagai orang yang berprofesi menjadi pengajar untuk mengajar serta memberikan materi kepada anak-anak. Sekolah tidak lagi mendidik, melainkan mengajar an sich. Makna pendidikan dalam sekolah telah direduksi hanya dalam bentuk pengajaran materi. Alih-alih berharap mendapatkan materi yang memuaskan, banyak orang-orang yang semakin tidak percaya bahwa sekolah bisa membuat mereka pintar. Dalam sebuah blog di internet yang ditemukan penulis menyatakan bahwa si pembuat blog seakan membuang waktu ketika berada si sekolah. Baginya lebih baik meluangkan waktu untuk lebih banyak membaca sendiri.

Paul Suparno, seorang pendidik di Yogyakarta, menyatakan bahwa banyak sekali siswa-siswi yang dianiaya di sekolah. Pendidikan yang diselenggarakan bukan lagi mengajar tapi menghajar. Cara mengajarnyapun mempunyai irama agenda : seramah, catat, ulangan, ceramah, catat, ulangan. Filosofi dan praktek pendidikan baginya telah kehilangan orientasi, karena yang dinomorsatukan adalah informasi yang dihafalkan untuk menjawab objective test, serta tes-tes lainnya.

Pendidikan di sekolah sudah selayaknya difokuskan pada pembentukan perilaku-perilaku anak didik. Hal inilah yang sekarang ini, menurut hemat penulis kurang diperhatikan oleh para guru dan pengelola sekolah. Anak didik seharusnya merasakan sentuhan orang tua mereka di sekolah. Anak didik juga merasakan dirinya seakan berada di rumah sendiri. Sehingga mereka akan menyatakan bahwa sekolah adalah tempat yang nyaman dan membuat mereka betah.

Seharusnya sekolah, yang merupakan “perpanjangan tangan” dari rumah (baca : keluarga) berfungsi sebagai rumah kedua bagi anak-anak setelah keluarga. Sungguh sangat disayangkan ketika orang tua sudah membangun pondasi yang tersusun baik bagi anak-anak mereka, yaitu pada saat orang tua masih punya waktu untuk mendidik, namun tugas ini tidak dilanjutkan dengan baik oleh sekolah. Padahal orang tua sudah menyerahkan tanggung jawab ini kepada sekolah.

3 thoughts on “Sekolah Sebagai Rumah Kedua

  1. Good…Good…Salut dengan Anda

  2. jugiter.com says:

    hmm.. sekolah sebagai rumah kedua.. itu bagus juga..tp saya dulu ga ky gitu..

  3. (Dikutip dari: Harian RADAR Banjarmasin, Jum’at 2 Mei 2008)

    Strategi Pendidikan Milenium III
    (Tengkulak Ilmu: Rabunnya Intelektual Ilmiah)
    Oleh: Qinimain Zain

    FEELING IS BELIEVING. MANUSIA adalah binatang yang menggunakan peralatan. Tanpa peralatan, ia bukan apa-apa. Dengan peralatan, ia adalah segala-galanya (Thomas Carlyle).

    DALAM momentum peringatan Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2008, sangat tepat berbenah diri. Banyak kalangan menilai betapa rendahnya kualitas sumber daya manusia Indonesia dibanding bangsa lain. Ini ditandai dengan produktivitas kerja rendah sehingga ekonomi lemah, karena tidak efesien, efektif dan produktif dalam mengelola sumber daya alam yang meski begitu melimpah.

    Lalu, mengapa kualitas sumber daya manusia Indonesia rendah?

    KAPITAL manusia adalah kekayaan sebuah bangsa dan negara, sama halnya seperti pabrik, perumahan, mesin-mesin, dan modal fisik lainnya. Diakui dimensi teknologi, strategi, aliansi global dan inovasi merupakan komponen penting yang akan mempengaruhi keuggulan kompetitif pada masa depan. Namun demikian, komponen itu masih bergantung pada kembampuan manusia (Gary S. Becker).

    Dalam ilmu matematika ada acuan dasar sederhana penilaian apa pun, yaitu posisi dan perubahan. Jadi, jika bicara kemajuan pendidikan kualitas sumber daya manusia Indonesia adalah berkaitan di mana posisinya dan seberapa besar perubahannya dibanding bangsa lain di bidangnya.

    Berkaitan dengan perubahan, ada dua cara posisi untuk unggul yaitu bertahan dengan keunggulan lokal dengan fungsi terbatas atau menyerang dengan keunggulan global dengan fungsi luas. Misal, menjadi ahli orang hutan Kalimantan yang endemik, atau menjadi ahli kera seluruh dunia. Jelas, sangat sulit menjadi unggul satu keahlian untuk global diakui secara global, sedang unggul keahlian untuk lokal diakui secara global pun – seperti tentang orang hutan Kalimantan (apalagi tentang gorila), didahului orang (bangsa) lain. Ini terjadi disemua bidang ilmu. Mengapa?

    Indonesia (juga negara terkebelakang lain) memang negara yang lebih kemudian merdeka dan berkembang, sehingga kemajuan pendidikan pun belakangan. Umumnya, keunggulan (sekolah) pendidikan di Indonesia hanya mengandalkan keunggulan lisensi, bukan produk inovasi sendiri. Contoh, sekolah (dan universitas) yang dianggap unggul di Kalimantan bila pengajarnya berasal menimba ilmu di sekolah (dan universitas) unggul di pulau Jawa (atau luar negeri). Sedang di Jawa, pengajarnya berasal menimba ilmu di luar negeri. Jika demikian, pendidikan (ilmu pengetahuan dan teknologi) Indonesia atau di daerah tidak akan pernah lebih unggul di banding pusat atau luar negeri. (Ada beberapa sekolah atau universitas yang membanggakan pengajarnya lulusan universitas bergengsi atau menonjolkan studi pustaka di Jawa dan luar negeri. Artinya, ini sekadar tengkulak atau makelar (broker) ilmu dan teknologi). Dan memang, selalu, beban lebih berat bagi apa dan siapa pun yang terkebelakang karena harus melebihi kecepatan lepas (velocity of escape), kemampuan kemajuan yang unggul di depan untuk menang. Perlu kemauan keras, kerja keras dan strategi tepat mengingat banyak hal terbatas.

    WALAUPUN Anda berada pada jalan yang benar, maka akan tergilas jika Anda cuma duduk di sana (Will Roger).

    Lalu, mengapa otak orang lain unggul? Ada contoh menarik, Sabtu 30 Juli 2005 lalu, Michael Brown dari California Institute of Technology mengumumkan “Keluarkan pena. Bersiaplah menulis ulang buku teks!”. Astronom Amerika Serikat ini, mengklaim menemukan planet ke-10 dalam sistem tata surya yang diberi nama 2003-UB313, planet terjauh dari matahari, berdiameter 3.000 kilometer atau satu setengah kali dari Pluto. Planet ini pertama kali terlihat lewat teleskop Samuel Oschin di Observatorium Polmar dan teleskop 8m Gemini di Mauna Kea pada 21 Oktober 2003, kemudian tak nampak hingga 8 Januari 2005, 15 bulan kemudian.

    Sebuah penemuan kemajuan ilmu pengetahuan luar biasa, yang sebenarnya biasa saja dan mungkin terjadi di Indonesia andai ilmuwannya memiliki alat teleskop serupa. Tanpa teleskop itu, ketika memandang langit mata kita rabun, sehingga yang terlihat hanya langit malam dengan kerlip bintang semata. Sejarah mencatat, ilmuwan penemu besar sering ada hubungan dengan kemampuannya merancang atau mencipta alat penelitian sendiri. Tycho Brahe membuat sekstan (busur derajat) pengamatan benda langit, Johannes Kepler dengan bola langit sebagai peta astronomi, Isaac Newton membuat teleskop refleksi pertama yang menjadi acuan teleskop sekarang, atau Robert Hooke merancang mikroskop sendiri. Dan, alat teknologi (hardware) pengamatan berjasa mendapatkan ilmu pengetahuan ini disebut radas, pasangan alat penelitian (software) pengetahuan sistematis disebut teori.

    ILMUWAN kuno kadang menekankan pentingnya seorang ilmuwan membuat alat penelitian sendiri. Merancang dan membuat sesuatu alat adalah sebuah cabang keahlian ilmiah (Peter B. Medawar).

    Lalu, sampai di manakah perkembangan ilmu pengetahuan (dan teknologi) di negara lain? Untuk (ilmu) pengetahuan sosial, di milenium ketiga kesejajaran dan keterpaduannya dengan ilmu pengetahuan alam, hangat di berbagai belahan dunia. Di ujung tahun 2007 lalu, Gerhard Ertl, pemenang Nobel Kimia tahun itu, kembali mengemukakan bahwa ilmuwan harus menerobos batasan disiplin ilmu untuk menemukan pemecahan beberapa pertanyaan tantangan besar belum terjawab bagi ilmu pengetahuan yaitu ilmu pengetahuan menyatu seiring waktu. Banyak ilmuwan peserta forum bergengsi itu menjelaskan tugas penting ke depan yang harus diselesaikan berkenaan masalah batas, batasan atau titik temu pada dua atau lebih disiplin ilmu. Kemudian sejalan itu, tanggal 28 – 30 Maret 2008 lalu, di Universitas Warwick, Warwick, Inggris, berlangsung British Sociological Association (BSA) Annual Conference 2008, dengan tema Social Worlds, Natural Worlds, mengangkat pula debat perseteruan terkini yaitu batas, hubungan dan paduan (ilmu) pengetahuan sosial dan ilmu pengetahuan alam dalam pengembangan teori (ilmu) sosial dan penelitian empiris, mencoba menjawab pertanyaan kompleks yang selalu mengemuka di abad ke 21 dalam memahami umat manusia. Berikutnya, tanggal 2-5 Desember 2008 nanti, akan digelar The Annual Conference of The Australian Sociological Association (TASA) 2008, di Universitas Melbourne dengan tema Re-imagining Sociology.

    Ini peluang momentum besar (yang hanya satu kali seumur dunia) bagi siapa pun, baik universitas atau bangsa Indonesia untuk berlomba memecahkan masalah membuktikan kemajuan, keunggulan dan kehormatan sumber daya manusianya di milenium ketiga ini. (Dari pengalaman, pandangan rendah bangsa lain terhadap Indonesia (dan pribadi), tergantung kualitas kita. Kenyataannya, ilmuwan besar di universitas besar di benua Eropa, Amerika, Afrika, Asia dan Australia pun, dengan rendah hati mau belajar (paradigma Total Qinimain Zain: The (R)Evolution of Social Science: The New Paradigm Scientific System of Science dengan saya) selama apa yang kita miliki lebih unggul dari mereka.

    SUMBER daya manusia harus didefinisikan bukan dengan apa yang sumber daya manusia lakukan, tetapi dengan apa yang sumber daya manusia hasilkan (David Ulrich).

    Akhirnya, di manakah tempat pendidikan terbaik belajar untuk unggul secara lokal dan global di banding bangsa lain? Di University of Reality di kehidupan sekitar! Dengan syarat (mencipta dan) memiliki alat teknologi (hardware) atau alat teori (software) hebat sendiri. Jika tidak, semua mata intelektual ilmiah rabun, karena belajar dan memahami kehidupan semesta dengan otak telanjang adalah sulit bahkan mustahil, sama halnya mencoba mengamati bintang di langit dan bakteri di tanah dengan mata telanjang tanpa teleskop dan mikroskop. Sekarang rebut peluang (terutama untuk akademisi), bangsa Indonesia dan dunia krisis kini membutuhkan Galileo Galilei, Francis Bacon, dan Rene Descartes muda. Jika tidak, akan hanya menjadi tengkulak ilmu, dan harapan memiliki (serta menjadi) sumberdaya manusia berkualitas lebih unggul daripada bangsa lain hanyalah mimpi. Selamanya.

    BODOH betapa pun seseorang akan mampu memandang kritis terhadap apa saja, asal memiliki peralatan sesuai tahapan pemahaman itu (Paulo Freire)

    BAGAIMANA strategi Anda?

    *) Qinimain Zain – Scientist & Strategist, tinggal di Banjarbaru, Kalsel, email: tqz_strategist@yahoo.co.id (www.scientist-strategist.blogspot.com).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: