Susahnya Menjadi Guru

2

January 1, 2008 by kamalfuadi


 

 picture-036.jpg

 

Judul Buku                 : Guru Demokratis di Era Reformasi

Penulis                        : Paul Suparno

Penerbit                      : Grasindo

Tahun Terbit              : 2005

Jumlah Halaman        : 152

 

Era reformasi telah membuka kran kebebasan bagi setiap orang untuk menyuarakan keinginan. Eforia yang telah lama tidak dinikmati seakan menyeruak tanpa tedeng apapun. Pendidikanpun telah mengalami desentralisasi seiring dengan bergulirnya era otonomi daerah. Pendidikan kini diberdayakan sesuai dengan kebutuhan sekolah lewat konsep Manajemen Berbasis Sekolah dengan didukung oleh Sistem Pendidikan Nasional yang telah dibakukan menjadi Undang-undang.

 

Walaupun reformasi telah bergulir, ternyata menjadi guru tidak semudah yang dibayangkan. Eforia yang digembar-gemborkan ternyata tidak mampu mengakomodir setiap kepentingan guru. Alih-alih mendapat dukungan masyarakat dalam tuntutan demi kesejahteraan hidupnya, gurupun seringkali dihujat karena dinilai tidak profesional dalam menjalankan amanatnya. Alih-alih menjadi profesional dalam setiap tindakan akademisnya, guru seringkali menyibukkan diri untuk aktivitas non-mengajar demi memenuhi kebutuhan hidupnya.

 

Itulah seklumit pemikiran yang dipaparkan Paul Suparno dalam buku kecilnya ini. Seorang yang memang telah lama bergelut dalam dunia pendidikan. Seorang yang selalu menyuarakan urgensi paradigma filsafat konstruktivisme dalam pendidikan. Menjadi guru ternyata sulit, sebuah konklusi bagi buku ini yang perlu menjadi renungan bagi guru. Sebuah ungkapan yang tidak berpretensi untuk menjadikan guru merasa gerah, pun menjadikan orang urung untuk menjadi guru. Paul Suparno, dengan gaya tulisan yang lugas namun menghujam mampu membangkitkan emosi dan menyemangati para guru untuk selalu belajar dan melakukan inovasi setelah mendapat predikat sebagai seorang guru. Semangat untuk tidak berhenti menggali untuk kemudian mengaktualisasi diri. Long life education, kata Ki Hajar Dewantara.

 

Perubahan paradigma dengan menjadikan paradigma konstruktivisme sebagai paradigma yang dipakai dalam pendidikan akan menjadikan guru mau belajar. Guru tidak lagi menjadi orang yang paling tahu dan berusaha untuk selalu mentransfer pengetahuan yang dimilikinya kepada peserta didik. Dengan paradigma konstruktivisme, guru hanya akan menemani peserta didik dengan mengambil posisi sebagai fasilitator (hal. 3). Guru harus menjadi suatu panggilan hidup yang harus dijalankan secara profesional. Selain itu, dalam menjalankan tugas utamanya, guru harus bisa mengambil posisi yang baik di tengah-tengah masyarakat dengan secara demokratis dan apik menjadi teladan hidup. Demikianlah renungan yang dipaparkan oleh Paul Suparno dalam buku yang merupakan kumpulan-kumpulan tulisan yang selama ini ditulis oleh beliau.

 

2 thoughts on “Susahnya Menjadi Guru

  1. Periode reformasi, hampir tiap hari kita menyaksikan demontrasi yang dilakukan oleh mahasiswa di pelbagai media masa.

  2. kamalfuadi says:

    Euforia reformasi dan terbukanya kran informasi. Dimaklumi saja asal tidak mengganggu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: