Manusia Dikutuk untuk Bebas

Leave a comment

January 21, 2008 by kamalfuadi


Novel yang ditulis oleh seorang filosof eksistensialis kenamaan, Jean Paul Sartre ini diberi judul The Age Of Reason. Novel ini merupakan novel pertama Sartre dari trilogi yang ditulisnya. The Age of Reason ditulis dalam setting tahun 1938, bercerita tentang Mathieu, seorang profesor filsafat Perancis yang terobsesi dengan ide tentang kebebasan.  Dalam bayang-bayang Perang Dunia Kedua, dan kehidupan pribadi yang diselimuti dengan berbagai persoalan yang kompleks, termasuk kehamilan seseorang, pencariannya tentang kebebasan yang diidam-idamkan semakin intensif.

 

Dalam lembar pertama, Sartre menulis:

 

“man is alone, abandoned on earth in the midst of his infinite responsibilities, without help, with no other aim than the one he sets himself, with no other destiny than the one he forges for himself on this earth”

Jean Paul Sartre adalah salah satu pengarang humoris. Humor yang disuguhkannya bukanlah humor ala pelawak-pelawak yang mengocok perut yang membuat kita kelelahan karena terlalu banyak tertawa. Humor Sartre adalah humor yang bisa membuat kita terpingkal-pingkal sekaligus miris dalam hati. Melalui tokoh-tokohnya, Sartre memperlihatkan bahwa kehidupan manusia adalah absurditas. Tohoh-tokoh rekaan Sartre menjalani kehidupan dengan penuh kesinisan. Penyebabnya adalah karena mereka memiliki kebebasan mutlak dan berkuasa penuh atas hidupnya.

Sartre tidak percaya bahwa manusia itu memiliki esensi. Hidup manusia berbeda dengan benda mati yang tidak bisa keluar dari cetakan esensinya. Ibarat sebuah pensil diciptakan hanya untuk menulis, sementara manusia itu bisa menjadi apa pun. Singkatnya, eksistensi menurut sartre akan melahirkan esensi. Dalam Will to Power, Nietzche sering menggunakan kata Ubermensch, yaitu bahasa Jerman dari Superman atau Overman. Oleh para filsuf-filsuf modern, ubermensch merujuk pada diktator-diktator era World War seperti Hitler atau Mussolini. (Kata Imron, dulunya Nietzche di uber-uber polisi, kemudian lahirlah konsep Ubermensch). Tak ada cetakan dalam diri manusia yang menentukan untuk apa ia ada di dunia. Ketiadaan cetakan primordial itu memungkinkan manusia untuk memiliki kebebasan mutlak, dan konsekuensinya adalah lahirnya absurditas.

Absurditas, pada satu sisi, seakan merupakan kebebasan puncak bagi manusia. Kiranya absurditas akan berujung pada kebahagiaan karena manusia tak lagi dikungkung oleh konsepsi tentang adanya cetakan primordial. Tetapi, ternyata Sartre pun menggambarkan efek absurditas tersebut berupa jejaring yang memerangkap manusia. Bisa dikatakan bahwa hal yang seringkali ditampilkan oleh Sartre di dalam karya fiksinya adalah manusia-manusia absurd. Dia seperti hendak mengganggu pembaca melalui karya fiksinya yang bermuatan filsafat eksistensialis. Bahkan pada tahun 60-an atau pada masa pascaperang, eksistensialisme menjadi spirit yang dihirup oleh banyak kalangan, terutama di negeri asalnya, yaitu Prancis.

Gangguan Sartre tak ubahnya ejekan yang membuat pembaca karyanya seperti terlempar ke dalam pertanyaan apakah kehidupan manusia itu sedemikian menyedihkan? Kehidupan manusia akhirnya hanya akan selalu terperangkap dalam lubang hitam yang kelam. Mengapa kebebasan yang sebenarnya merupakan salah satu idaman malah melemparkan diri manusia ke dalam jurang absurditas? Filsuf berperawakan pendek dan juling itu secara brilian membawa pembacanya ke dalam lingkaran pertanyaan yang tak mudah untuk didapatkan jawabannya. Bahkan pada satu titik kita seakan digiring untuk menertawakan kehidupan yang dijalin ke dalam karya-karya fiksinya. The Age of Reason, salah satu novel triloginya, bercerita mengenai persoalan pelik yang menimpa sekelompok kecil manusia di Prancis pada masa Perang Dunia Kedua. Mereka terlibat dalam persoalan bagaimana cara menikahi Marcelle, perempuan yang keburu hamil. Persaingan pun berlangsung. Setelah kita dibawa Sartre dalam intrik-intrik halus para tokohnya untuk mendapatkan Marcelle, di ujung cerita kita harus menerima kenyataan bahwa pemenangnya ternyata seorang homo. Ia memenangkan pertarungan bukan karena mencintai Marcelle, tetapi semata-mata untuk mempermalukan rivalnya.

Eksistensialisme adalah aliran filsafat yg pahamnya berpusat pada manusia individu yang bertanggung jawab atas kemauannya yang bebas tanpa memikirkan secara mendalam mana yang benar dan mana yang tidak benar. Sebenarnya bukannya tidak mengetahui mana yang benar dan mana yang tidak benar, tetapi seorang eksistensialis sadar bahwa kebenaran bersifat relatif, dan karenanya masing-masing individu bebas menentukan sesuatu yang menurutnya benar.

Itulah sedikit cuplikan absurditas yang dikemukakan Sartre. Banyak yang mengakui bahwa apabila kita ingin mengenali pemikiran Sartre, atau eksistensialisme, maka membaca karya-karya fiksinya merupakan jalan yang tepat. Demikianlah, diri menurut Sartre adalah makhluk yang memiliki kebebasan mutlak, sedangkan absurditas adalah oleh-oleh dari kebebasan tersebut. Konsepsi tersebut membuat kita bertanya-tanya, apakah hal itu lebih baik? Mungkin ya apabila cita-cita kita adalah kebebasan tanpa batas, apalagi terbebas dari hukum-hukum Tuhan yang mengungkung. Dengan melepaskan diri dari esensi, berarti “menyingkirkan” Tuhan dari kehidupan. Sekali lagi absurditas adalah hadiahnya.

Namun, menjadi eksistensialis, bukan melulu harus menjadi seorang yang lain-daripada-yang-lain, sadar bahwa keberadaan dunia merupakan sesuatu yang berada diluar kendali manusia, tetapi bukan membuat sesuatu yang unik ataupun yang baru yang menjadi esensi dari eksistensialisme. Membuat sebuah pilihan atas dasar keinginan sendiri, dan sadar akan tanggung jawabnya dimasa depan adalah inti dari eksistensialisme.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: