Menuju ke Lereng Gunung

1

February 26, 2008 by kamalfuadi


Maka bergegas aku menuju ke gunung yang tampak menjulang tinggi. Bukan puncak yang ingin aku taklukkan layaknya pendaki yang terobsesi. Namun hanya keinginan untuk menikmati keindahan kaki dan lereng gunung yang sudah lama tidak aku lihat. Pohon-pohon banyak yang sudah tumbang. Namun lebih banyak lagi yang kelihatan ditebang manusia. Sisa-sisa penebangan nampak masih segar. Tampaknya gunung sudah semakin menua pula. Terlihat kaki-kaki yang mulai merapuh. Lereng-lereng tampak gundul kini. Orang-orangpun jarang terlihat pergi ke sawah mengakrabi diri mereka dengan alam.

 

Kemarahan tampaknya mendominasi suasana pegunungan mulai dari kaki sampai puncak. Bukit-bukit tampak menceracah mengeluarkan serapahan-serapahan lewat ekspresi yang muram. Entah kenapa aku bisa melihat dan merasakannya secara jelas. Padahal aku tidak pernah menginjakkan kaki di gunung ini. Sawah-sawah banyak yang sudah dibiarkan  teronggok seolah enggan untuk ditanami lagi.  

 

Tampak sekali kesepian yang juga mendominasi areal persawahan yang sangat luas ini. Kelihatannya penduduk desa ini juga sudah mulai melakukan urbanisasi ke kota-kota. Desa yang sekarang aku lihat ini sudah mulai ditinggalkan mereka. Aku ingat sekali para pedagang asongan, buruh-buruh galian, anak-anak jalanan yang harus selalu diciduk petugas satpol PP, barangkali mereka inilah yang dulu menjadi penduduk desa ini. “Ah, mereka pikir bisa hidup enak di kota. Mengapa sawah-sawah yang ada tidak mau mereka garap. Padahal masih bisa digarap dengan baik”, pikirku.

 

Aku bertanya pada seorang warga yang melintas di pematang sawah. “Iapun menjelaskan bahwa penduduk desa ini sudah lama tidak menggarap sawahnya. Mereka lebih banyak bekerja di kota-kota, sudah tidak menghasilkan lagi kalau hanya bekerja di sawah”. Tampaknya dugaanku benar.

 

Terbersit dalam pikiranku untuk bertanya pada aparat desa. Akupun bergegas menuju kelurahan. Kantor kelurahan desa ini berada di pinggir areal persawahan. Cukup jauh dari rumah-rumah penduduk. Bangunan fisik kantor tergolog cukup tua, namun cukup kokoh dengan tiang-tiang yang terpancang di teras kantor. Aku coba melihat-lihat menerobos jendela kaca, namun kelihatannya tidak ada orang. Akupun masuk ke dalam kantor. Hanya satu orang yang berada disana. Ia menyambut dan memperkenalkan diri bahwa ia adalah seorang petugas penyuluh pertanian. Pertanyaan pertamaku adalah mengenai areal persawahan yang kelihatan sepi. Ternyata penduduk desa sudah tidak mau lagi mendengarkan petunjuk yang diberikannya. “Mereka acuh dan bertindak semaunya, sayapun akhirnya menganggur”.

 

Iapun mulai bercerita bahwa dulunya penduduk desa melakukan aktivitas bertani dengan cara yang masih tradisional. Hingga akhirnya mereka kenal dengan obat-obatan kimia. Pada awalnya hasil penggunaan obat-obatan dan pupuk yang mengandung bahan kimia menunjukkan hasil yang luar biasa. Akhirnya semua penduduk melakukan hal yang sama. Bertahun-tahun obatan-obatan kimia yang mereka gunakan berpengaruh pada hasil pertanian yang telah mereka olah dan pelihara. Hatta datang seorang peneliti pertanian yang melakukan penelitian terhadap kadar tanah dan hasil pertanian penduduk desa. Ahli pertanian menyatakan bahwa tanah yang diolah para petani di desa ini sudah sangat tercemar. Pupuk-pupuk yang mengandung bahan-bahan kimia dan obat-obatan pertanian telah menghancurkan sawah mereka sendiri. Hasil-hasil pertanian merekapun sudah tidak steril lagi. Tomat, kubis, kentang, cabe, yang tampak segar-segar sebenarnya mengandung bahan-bahan kimia yang sangat berbahaya untuk dikonsumsi.  

 

Hasil-hasil pertanian yang telah mereka hasilkan tidak laku lagi di pasaran. Tidak ada pemasok dari kota yang mau mengambil hasil pertanian penduduk desa. “Penduduk desapun akhirnya bingung harus melakukan apa” ujar Bapak penyuluh mengakhiri ceritanya. Akupun pamit untuk melihat-lihat lagi sawah-sawah yang lain di sekitar lereng gunung.

 

“Apa yang dilakukan pemerintah sebenarnya?penduduk dengan mata pencaharian sebagai petani seakan sudah tidak terurus lagi”, aku bergumam penuh keheranan. Akupun menjadi semakin heran kenapa aku yang harus bingung memikirkan nasib penduduk desa, toh bukan urusanku. “Aku hanya ingin santai sejenak menikmati pemandangan gunung, aku muak dengan suasana perkotaan, lalu kenapa aku justru memikirkan masalah disini?”, keheranankun semakin menjadi. Aku muak dengan pekerjaanku di kantor, suasana bising dan pengap jalan-jalan di kota, belum lagi kemacetan yang tidak pernah terselesaikan. Tidak ada yang membuatku tenang di kota. Aku ingat beberapa hari yang lalu, bosku yang kaya raya ditangkap polisi. Ternyata ia melakukan korupsi tender pengadaan komputer di Pemda. Mobil BMW keluaran terbaru yang baru ia pakai 2 minggupun disita yang berwajib karena diduga didapatkan dari hasil melakukan tindak korupsi. Belum lagi anggota-anggota DPR yang diberitakan juga menerima suap dan melakukan korupsi. “Lebih baik bosku yang melakukan korupsi, daripada wakil rakyat yang menjalankan amanat rakyat. Tanggung jawabnya lebih berat wakil rakyat bukan?”. Ah, tidak ada yang lebih baik dari mereka. Yang namanya korupsi tetap saja korupsi.

 

Sebelum pulang aku menyambangi rumah salah satu penduduk desa. “Lumayan besar dan terawat rumah ini”, pikirku. Pagar besi setinggi 1,5 meter berwarna hijau membentengi rumah yang cukup besar untuk ukuran pedesaan. Keramik berwarna putih menghiasi lantai rumah. Sebuah garasi dengan rolling door berwarna perak sekarang ada di hadapanku. Tak berlama-lama memandangi bangunan rumah, akupun mengetuk pintu dan disambut dengan baik olah pemilik rumah.

 

Pak Haji Rahmat adalah nama si pemilik rumah. Dalam perkiraanku ia sudah berumur sekitar 50 tahunan. Usia yang sama dengan ayahku kala ia meninggal. Aku masih membawa pertanyaan yang telah aku tanyakan pada penyuluh di kantor kelurahan. Iapun menceritakan hal yang sama seperti apa yang diceritakan penyuluh pertanian di kantor kelurahan. Sebenarnya aku ingin mendapatkan hal yang baru di rumah ini. Tapi Pak Haji Rahmat tidak mempunyai cerita yang baru seperti harapanku. “Saya bisa berhaji juga dari hasil pertanian yang dulu melimpah ruah”, katanya dengan bangga mengenang saat ia masih giat bertani. “Saya sudah tidak punya harapan lagi dengan bertani, anak-anak saya yang dua orang saya sekolahkan sampai tinggi tidak saya arahkan untuk menjadi petani”. Pak Haji Rahmat kali ini berbicara dengan sangat serius. “Kenapa pak?, bukankah lebih baik mereka disekolahkan dan dikuliahkan untuk bisa memperbaiki keadaan di desa?”, akupun memberanikan diri untuk bertanya.

 

Lama Pak Haji Rahmat berpikir, iapun kembali menjawab. “Saya tidak ingin anak-anak saya mempunyai masa depan yang suram. Menjadi petani adalah pilihan untuk mengubur masa depan. Menjadi petani tidak menjanjikan apa-apa”, ia menjawab dengan penuh kemarahan. Iapun kembali berujar, “lebih baik anak saya menjadi Pegawai Negeri yang digaji pemerintah, daripada ia harus menderita menjadi petani”. Ia bercerita bahwa anaknya yang pertama telah diterima menjadi pegawai di kecamatan. Akupun akhirnya pamit kepada Haji Rahmat setelah mendengar cerita panjang yang dipaparkannya.

 

Aku kembali berpikir, kenapa kemudian orang seperti Haji Rahmat harus berpikir seperti itu. Bukankah lebih baik memikirkan nasib pertanian?bukankah lebih baik menyekolahkan anak dengan tujuan setelah lulus nanti ia bisa mengabdi untuk desa dengan memperbaiki nasib para petani?bukankah sawah-sawah ini masih bisa digarap?. Ah, kenapa aku juga harus pusing lagi memikirkannya. Sebenarnya aku masih penasaran dengan para penduduk desa. Mungkin lebih baik aku kembali menyambangi rumah penduduk lagi. Mungkin aku bisa mendapatkan jawaban yang lain. Mungkin orang lain punya pikiran yang berbeda. Lagipula hari belum begitu sore. Selepas petang nanti aku baru mau pulang.

 

Kali ini aku mendatangi rumah yang cukup sederhana tak jauh dari rumah Haji Rahmat. Dinding depan rumah sudah tampak mulai usang dimakan waktu. Tampak di teras rumah, kursi kayu yang juga mulai keropos. Bahkan salah satu kursi dari ketiga kursi sudah tidak mempunyai empat kaki yang utuh seperti dua kursi yang lainnya. Diatas meja bundar sebuah taplak yang berwarna kecoklatan tampak lusuh. Baru mengetuk pintu sekali, pemilik rumah sudah membuka pintu. Ia seorang perempuan dengan raut muka yang sudah mulai berkerut menunjukkan ketuaan. Ia ditemani seorang anak perempuan berusia sekitar 7 tahun yang menarik-narik baju dari belakang. Perempuan tua buru-buru mengajakku untuk duduk di kursi teras rumahnya. Tampaknya ia tidak ingin aku untuk masuk ke dalam rumahnya.

 

Kembali aku menanyakan hal yang telah aku tanyakan pada penyuluh pertanian dan Haji Rahmat. Ia tidak memberikan jawaban yang sama seperti yang diberikan olah kedua orang yang aku temui sebelumnya. Nampaknya ia tidak begitu memahami kondisi yang telah terjadi. “Suami saya telah meninggal beberapa tahun yang lalu. Dulu ia juga bertani sama seperti penduduk-penduduk yang lain. Kini saya tinggal dengan anak saya yang nomor tiga ini”, ia bercerita dengan raut muka penuh kesedihan sambil sesekali mengelus rambut anak kecil yang juga tampak tidak pernah tersenyum. Ia kembali melanjutkan, “Anak saya dua orang yang lainnya sekarang ada di Jakarta, mereka berdagang nasi goreng disana. Tiap bulan kami mendapat kiriman dari mereka berdua. Hanya itu sumber hidup kami. Lahan pertanian yang ditinggalkan suami saya sudah tidak pernah diurus lagi. Kalau ada yang berminat membelinya akan saya jual pak”, ia berujar penuh harapan.

 

Matahari tampaknya sudah mulai pergi meninggalkan desa, ia pergi ke arah barat untuk memberikan sinar di belahan bumi yang lain. Akupun pamit pada perempuan tua untuk pulang ke rumah. Sepanjang perjalanan pulang aku kembali berpikir. “Kenapa akau tidak mendapatkan ketenangan di gunung. Kenapa kampung yang aku anggap dapat menentramkan hati justru membebaniku dengan permasalahan-permasalahan yang dimiliki penduduk desa. Ah, kenapa aku harus kembali bingung memikirkan nasib mereka?”. Akupun sampai di rumah dengan terlebih dahulu berkutat dengan kemacetan jalan yang sudah menjadi jadwal rutin. Aku tertidur di kamar dengan pikiran yang masih kembali pada nasib penduduk desa di lereng gunung.

 

Aku bangun dengan perasaan yang senang. Hari ini adalah minggu, hari dimana aku berlibur dari semua aktivitas kantor. Kemarin memang sengaja aku pergi ke luar kota untuk, setidaknya, bisa menyegarkan diriku. Koran pagi dan secangkir kopi pahit langsung menjadi sarapanku. Headline pagi itu tertulis “Pemerintah Mengimpor Beras dan beberapa Komoditi Sayuran”. Dengan cernat aku membaca isi berita tersebut. “Huh, kenapa pemerintah justru mengimpor?bukankah lebih baik memperbaiki pertanian di negeri sendiri?”, ingatanku kembali kepada penduduk desa di lereng gunung yang aku datangi kemarin.

 

Aku segera bergegas ke ruang tengah yang tepat berada di antara kamar dan dapur. Istriku sedang sibuk membuat sarapan. Sambil menunggu sarapan aku mencari-cari remote TV. Setelah menonton siaran berita selam hampir 10 menit, aku mendapati satu berita yang menarik perhatian. Ternyata petani-petani dari desa Sukasari, desa yang letaknya tepat bersebelahan dengan desa Bojong yang aku sambangi kemarin, bersama sama dengan para petani dari daerah-daerah pertanian lainnya menggeruduk gedung DPR dan bundaran Hotel Indonesia. Mereka berdemonstrasi menuntut pemerintah menghentikan kebijakan impor, menurunkan harga pupuk dan obat-obatan pertanian serta sesegera mungkin menstabilkan harga hasil-hasil pertanian yang telah mereka olah. “Ah, selalu petani lagi yang dirugikan. Lagipula kenapa aku harus bingung memikirkan nasib mereka?”.

 

Lelah menonton TV, aku segera ingat kalau aku sudah 2 hari tidak mengecek kotak surat. Dari kotak surat yang ada di depan rumah aku mengambil dua surat yang tergeletak di sana. Satu surat untuk istriku dari adiknya yang tengah berkuliah di Yogyakarta. Satu surat lagi ditujukan untukku dari kantor tempat aku bekerja. Ternyata perusahaan tempatku bekerja harus ditutup dan disegel oleh pemerintah karena terbukti pimpinan direksi telah melakukan korupsi beberapa tender pada tahun belakangan. Esok senin aku harus ke kantor mengambil pesangon. “Ah, siapa yang bersedia memikirkan nasibku?”.

 

Didedikasikan untuk Keluarga dan Teman-teman di rumah,

Doakan aku berguna.

One thought on “Menuju ke Lereng Gunung

  1. Luthfi Arif says:

    keren juga cerpen lo. chayo…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: