Dua yang Belum Selesai

Leave a comment

March 1, 2008 by kamalfuadi


Keheningan malam terpecah oleh suara tuts keyboard komputer. Suaranya mampu mengalahkan detak jam yang biasanya menjadi irama pengiring tidur. Lampu pijar yang berada tepat diatas komputer menjadi satu-satunya penerang. Sebuah meja diduduki komputer dan bertumpuk-tumpuk buku berdiri gagah ditemani kursi kayu tua yang tampak tak mampu menyangga beban manusia. Pulpen, penggaris, pembatas buku, lem kertas, dan beberapa alat tulis tampak berserakan di atas meja yang memang cukup panjang untuk menumpuk barang di atasnya. Segelas kopi hitam yang tidak lagi mengeluarkan uap pertanda kopi sudah dingin tampak belum terjamah oleh tangan.

Barangkali keasyikan menyelesaikan draf proposal membuat Kardi melupakan kopi yang telah dibuatnya satu jam yang lalu. Sedianya kopi tersebut menjadi temannya malam itu untuk menghilangkan rasa kantuk yang tiba-tiba bisa hadir tanpa disadari. Konsentrasinya pada draf yang telah dibuatnya pada lima lembar kertas untuk disalin di komputer telah melupakannya juga pada janji untuk menemani istrinya tidur malam ini. Maklum, sudah lima hari ini Kardi selalu tidur menjelang pagi demi menyelesaikan proposal. Kardi sudah tidak ingat apa-apa lagi selain lima lembar kertas draf yang sudah selama dua jam dibolak-balik untuk ia selesaikan.

“Aduh, apalagi yang membuatku bingung. Semuanya kayak hilang begitu saja”. Gerutu Kardi.

“Padahal, dua jam yang lalu aku masih ingat apa yang harus aku selesaikan malam ini. Draf ini harus aku sempurnakan lagi besok”.

“Lebih baik aku tidur saja malam ini”. Kardi tampak kelelahan. Tiga jam duduk di atas kursi setelah terlebih dulu menyeduh segelas kopi membuat ia harus membolak balik badannya ke kanan dan kiri untuk menghilangkan rasa pegal yang sebenarnya sudah ia rasakan saat ia menyeduh kopi. Iapun tertidur di samping istrinya yang sudah terlelap. Ia lupa pada janjinya.

“Bapak, kalau tidak diminum jangan bikin kopi apa!”. Suara keras istrinya membuat ia terbangun dari tidur.

Dilihatnya jam dinding yang berada tepat di atas daun pintu kamar.

“Bu, bu, jam di kamar kita dikemanain?“. Ia bertanya dengan nada yang agak kesal.

“Itu, lagi dibenerin. Kayaknya beterenya harus di ganti”, jawab istrinya.

“Sekarang jam berapa bu?”, ia bertanya lagi dengan penuh khawatir. Dilihatnya suasana di luar jendela yang bisa dengan jelas ia lihat. “Masih agak gelap”, gumam Kardi. “Sekarang masih jam 05.30”, jawab istrinya.

Kardi bergegas bangun dari tempat tidur menuju ruangan yang berada tepat di sebelah kamarnya, ruangan di mana komputer dan semua buku serta catatan Kardi disimpannya menjadi satu. Ia tidak ingat apa-apa lagi selain draf proposal yang belum sempat ia selesaikan tadi malam.

Sukardi, 38 tahun adalah kepala sekolah sebuah SD Negeri di perbatasan Jakarta dan Tangerang. Sudah 4 bulan ini ia memimpin SD yang berada di pinggiran kota. SD yang sebenarnya sudah tidak layak untuk beroperasi. Betapa tidak, dengan jumlah murid yang tidak seberapa. Siswa kelas 5 misalnya, hanya berjumlah 10 orang. Itupun kalau lengkap tanpa ada satu siswapun yang membolos. Bangunan fisik yang tidak memadai membuat SD itu kelihatan tidak representatif sebagai tempat belajar. Namun aparat kelurahan setempat tetap ingin mempertahankan keberadaan SD itu dengan alasan ekonomi. Warga desa sekitar sekolah sebagian besar tergolong warga menengah ke bawah, bahkan banyak yang tergolong warga miskin. Banyak rumah-rumah yang mempunyai stiker keluarga miskin terpampang di dinding depan rumah. Jatah beras raskinpun banyak yang teralokasi di desa ini, walaupun warga sendiri sebenarnya enggan mengkonsumsi beras tersebut. Mereka menganggap beras itu tidak layak untuk di makan. Mereka mencampurnya dengan beras yang layak untuk dikonsumsi.

Desakan para warga akhirnya memaksa pemerintah mengeluarkan keputusan untuk tidak menutup sekolah itu. Kalau sampai sekolah ditutup, warga mengancam akan melakukan demonstrasi besar-besaran. Ancaman ini tidak main-main dan beralasan, warga menginginkan anak-anak mereka tetap bisa bersekolah tanpa mengeluarkan biaya yang mahal bahkan mencekik leher. Harga-harga kebutuhan pokok yang selalu naik saja sudah sangat membebani mereka. Apalagi jika ditambah dengan biaya sekolah yang mahal. Bisa-bisa anak-anak mereka tidak mengenyam bangku sekolah. Mereka tidak akan mampu membiayai sekolah anak-anak jika mereka harus bersekolah di tempat lain yang mempunyai kualitas dan fasilitas penunjang belajar yang memadai.

Sebelumnya Sukardi bertugas di SD Negeri yang jauh lebih bagus dari sekolah yang ia pimpin sekarang. Hampir semua fasilitas sekolah tersedia. Ia harus dimutasikan karena terlibat penggelapan dana Bantuan Operasional Sekolah. Keputusan itu ia terima dengan berat hati. Kini ia harus menerima nasib sebagai ganjaran atas perbuatannya.

Ningsih, 24 tahun, adalah istri Kardi. Sudah 15 tahun menikah dengan Sukardi. Anak yang sekarang duduk di TK nol kecil adalah hasil pernikahan anatara Sulistyaningsih dengan Sukardi. Anak satu-satunya. Dulu ia dinikahi Sukardi saat Sukardi akan diangkat sebagai kepala sekolah. Ningsih waktu itu baru saja 2 bulan lulus SMU. Keputusannya menikah bukan tanpa sebab. Sebagai anak terakhir dari empat bersaudara, ia tidak bisa melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Ketiga saudara perempuannya juga hanya lulusan SMU. Hal itu sangat ia syukuri karena biaya hidup dan sekolahnya dari SD sampai SMU ditangung oleh ketiga saudara perempuannya, semenjak kedua orang tua mereka meninggal saat Ningsih masuk SD. Ia tidak mungkin meminta biaya yang begitu besar utuk melanjutkan kuliah.

Menikah dengan seorang kepala sekolah merupakan kebanggaan bagi Ningsih. Betapa tidak, bukan cuma kehormatan dari tetangga-tetangga yang ia peroleh. Semua kebutuhan hidupnya tercukupi dari hasil kerja Sukardi. Bahkan terkadang Sukardi membelikan perhiasan dan beberapa barang yang bukan pokok lainnya. Sukardi sangat menyayangi Ningsih. Apa yang Ningsih minta selalu dibelikan Sukardi. Beberapa bulan sebelum Sukardi dimutasi, Ningsih minta dibelikan mobil. Permintaan itu Sukardi kabulkan walaupun mobil yang dibelinya tidak dibayar tunai. Kabarnya uang DP untuk kredit mobil itu diperoleh Sukardi dari penjualan salah satu unit komputer sekolah.

“Pak, sarapan dulu….”. ujar Ningsih memecah konsentrasi Kardi.

“Sebentar bu, aku harus menyelesaikan yang satu ini dulu”, jawab Kardi.

“Nanti saja pak, sarapan dulu biar perutnya nggak kosong, baru dilanjutkan lagi”.

Lagian, bapak harus ke sekolah pagi ini kan?”, Ningsih mengingatkan Kardi sambil menunjuk jam di atas meja bersebelahan dengan komputer. Jam sudah menunjukkan pukul 06.30. Kardi biasanya berangkat dari rumah jam 07.00.

“Kemarin banyak warga yang ke sini waktu bapak rapat di kecamatan”. Ningsih mulai bercerita.

“Memang ada perlu apa mereka ke rumah?”, Kardi bertanya keheranan

“Mereka bilang ada perlu dengan Bapak mengenai sekolah”.

“Atap-atap sekolah banyak yang bocor, kamar mandi yang ada di sebelah kantor guru juga sudah tiga hari ini tidak ada air”.

“Kata mereka pompa yang lama sudah tidak bisa lagi dipancing-pancing biar airnya keluar, harus diganti dengan yang baru”.

“Memang Bapak tidak pernah mengecek?”, ujar Ningsih mengakhiri ceritanya dengan pertanyaan.

“Sudah tiga hari aku nggak ke kamar mandi guru bu, kalau atap-atap yang bocor itu memang sudah lama tidak kelihatan bocornya”

“Lagipula hujan baru turun minggu-minggu terakhir ini bukan?”. Kardi menjawab dengan tegas.

Hujan memang turun tadi malam. Beberapa kelas di sekolah menjadi becek. Memang tidak seberapa tapi bisa mengganggu kenyamanan belajar. “Aku harus secepatnya menangani gangguan ini”, ujar Kardi.

Malam itu seperti biasa Kardi memutar otak untuk secepatnya menyelesaikan draf proposal pembangunan gedung baru. Ia tidak ingat dengan janji pada Ningsih. Dari belakang Ningsih melihat dengan tatapan yang tajam. Dari belakang dipandanginya Kardi. Ia memang tidak berani menagih janjinya. Ia takut Kardi marah-marah. Bisa-bisa permintaannya untuk dibelikan ini itu tidak dikabulkan Kardi. Ia teringat lagi dengan mobil yang dicabut dealer gara-gara tiga bulan menunggak cicilan. Ia ingin segera mendapatkan kembali mobil itu. Belum lagi perhiasan yang sudah dijual untuk menutupi dana yang sudah digelapkan Kardi. Ia tidak menyalahkan Kardi atas apa yang telah menimpa dirinya dan Kardi. Semua yang dilakukan Kardi adalah semata-mata untuk membahagiakan dirinya.

Pernah suatu malam ia mengingatkan Kardi agar jangan berlarut-larut berkonsentrasi mengutak atik laporan keuangan pengadaan komputer di sekolah. Namun Ningsih malah dimarah-marahi. “Semua ini kulakukan demi kamu, demi kita!”, ia selalu ingat kata-kata yang dilontarkan Kardi saat diingatkan. Sejak itu ia tidak pernah lagi berani menegur suaminya yang terlalu asyik di depan komputer. Ia sebenarnya ingin sekali mengingatkan suaminya untuk bisa tidur lagi bersamanya.

Malam berikutnya, hal yang sama tetap dilakukan Kardi. Hingga Ningsihpun dengan sangat berhati-hati mengingatkan suaminya. “Pak, apa harus setiap malam seperti ini pak?Bapak nggak ada waktu lagi buat aku barang satu malam?”. Ningsih bertanya dengan penuh harap. “Dua yang belum selesai”, ujar Kardi dengan singkat menjawab pertanyaan Ningsih. Ningsih dengan heran menatap suaminya yang kembali asyik dengan komputernya. “Pak…..”, belum sempat Ningsih meneruskan kata-katanya, Kardi memotong “Dua yang belum selesai”.

Mendengar jawaban Kardi, Ningsihpun menjadi semakin bingung “Bukannya kemarin suaminya hanya memegang satu draf proposal?”, ia bertanya dalam hati. “Apalagi yang sedang dibuat suamiku?”.

“Entahlah, yang jelas ia pasti akan berbuat apa saja demi aku, demi kita”. Ningsih langsung berbalik menuju ke kamar untuk sesegera mungkin tidur meninggalkan suaminya memeras otak untuknya.

Sukardi masih bingung dengan draf proposal pembangunan perpustakaan baru yang belum diselesaikannya beberapa malam yang lalu. Ditambah lagi dengan instruksi dari dinas pendidikan kecamatan untuk membuat kebutuhan sekolah guna merenovasi bangunan-bangunan sekolah yang rusak. Iapun teringat istrinya Ningsih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: