Yang Asli dan tidak Asli

Leave a comment

March 16, 2008 by kamalfuadi


Terdengar kembali derap langkah yang sudah tidak tegap lagi. Suara langkah kaki yang sudah tidak asing bagiku. Hampir setiap pagi aku selalu mendengar langkah kaki pak Slamet, tetangga yang rumahnya berjarak sepuluh meter tepat di belakang rumahku. Langkah kaki pak Slamet memang terdengar berbeda daripada orang-orang yang lain. Dua kakinya tidak lagi dapat berdiri tegak membawa badannya yang lumayan besar untuk ukuran orang setua dia. Dia punya kaki yang ketiga, yaitu tongkat kayu usang yang sudah lama dipakainya semenjak ia sudah tidak kuat berjalan lagi dengan kedua kakinya. Tongkat itulah yang mengeluarkan bunyi yang berbeda saat ia berjalan. Orang-orang komplek rumahku pasti langsung menebak suara tongkat kayu pak Slamet. Mereka sudah sangat hafal. Apalagi aktifitas pak Slamet yang setiap pagi hingga menjelang siang menghabiskan waktunya bercengkerama dengan anak-anak muda di pos satpam yang bersebelahan dengan gerbang komplek perumahan.

 

Pagi itu aku harus segera bersiap-siap pergi mengajar anak-anak di SMP yang letaknya cukup jauh dari rumah. Sudah hampir dua bulan aku harus memberanikan diri membawa motor yang diberikan ayahku sebagai hadiah atas kelulusanku dari bangku kuliah. Selepas kuliah aku langsung melamar sebagai tenaga pengajar SMP untuk mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaran (PPKn). Sebenarnya aku lebih ingin mengajar Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), namun pihak sekolah sedang membutuhkan guru mata pelajaran PPKn. Akupun menerima tawaran sekolah walaupun sebenarnya hal itu berlawanan dengan hati kecilku.

 

Seperti biasa, aku melewati tempat dimana pak Slamet, ditemani Tigor si Batak, Darwis yang katanya punya rumah makan Padang, dan satu lagi si Ahmad anak Aceh yang baru pindah kesini menyusul Bapak dan Ibunya yang sudah tinggal di komplek tiga tahun yang lalu. Tiap pagi pak Slamet selalu menghabiskan waktu untuk menyapa anak-anak muda yang memang lebih banyak menganggur. Mereka bukan sekedar menganggur. Si Tigor sudah tiga bulan mencari dan melamar pekerjaan. Yang aku dengar, sampai saat ini belum ada pekerjaan yang dianggapnya cocok. Darwis, tinggal meminta uang dari rumah makan peninggalan orang tuanya. Maklum, dia anak satu-satunya, pewaris rumah makan padang yang terkenal laris. Si Ahmad sendiri, sedang dicarikan pekerjaan oleh Bapaknya. Ia memang sengaja diajak pindah dari untuk mencari pekerjaan di Jakarta.   

 

Aku selalu bertanya kepada para tetangga mengenai kondisi perumahan. Mulai dari kejadian-kejadian lucu yang terjadi di perumahan, kasus pencurian di rumah warga yang terletak di pojok perumahan, sampai perceraian Yudi dan Yuli, pengantin baru yang menikah pada pertengahan bulan yang lalu. Aku jadi ingat program infotaintment yang berisi gosip-gosip yang beredar di kalangan artis. “Ah, aku seperti presenter infotanment saja”, gumamku. Dengan cara bertanya aku jadi semakin kenal dengan tetangga, bahkan hampir semua warga komplek aku sudah pastikan hafal di luar kepala.

 

Inilah yang membuatku hafal dengan Tigor, Darwis, termasuk Ahmad yang belum lama tinggal di perumahan ini. Bagiku ini pengalaman yang luar biasa bisa kenal dengan banyak orang dari berbagai daerah. Tidak hanya itu, aku juga bisa mengenal perilaku, kebiasaan, bahasa dan beberapa hal baru yang aku dapat dari tetangga-tetangga yang berasal dari suku-suku yang berbeda-beda. Selepas berkuliah di Yogyakarta selama hampir lima tahun, aku harus secepatnya mengenal kembali lingkunganku. Aku tidak ingin canggung saat berhadapan dengan tetangga-tetangga. Apalagi aku perempuan. Aku ingin terlihat luwes di depan mereka.

 

Aku dan keluargaku berasal dari suku Jawa. Makanya, kata Bapak, aku diberi nama Dwi Lestari. Kakakku yang pertama meninggal saat ia berusia sepuluh hari. Ia dilahirkan prematur. Entah kenapa aku merasa lebih hebat saat aku mengingat kembali bahwa aku berasal dari suku Jawa. Mungkin karena aku lama menetap di Yogyakarta, membuatku menikmati kehidupan di sana dan merasa menjadi bagian dari warga mayoritas. Walaupun warga perumahan dimana aku tinggal sangat beragam, aku tetap merasa bahwa suku Jawa adalah suku asli pribumi, warga Indonesia asli.

 

Di kelas, aku juga bertemu dengan murid-murid yang beragam. Aku belum hafal nama-nama muridku di sekolah. Ada wisnu dan beberapa orang lain yang keturunan suku Jawa. Budi yang keturunan Tionghoa. Andi yang berasal dari Kalimantan. Dan beberapa murid lain yang juga berasal dari daerah yang berbeda-beda. Jumlah murid yang berasal dari keturunan Jawa lebih banyak. Hal ini membuatku semakin merasa superior diantara suku-suku yang lain.

 

Selepas menjelaskan mata pelajaran PPKn di kelas, sementara anak-anak aku minta mengerjakan soal-soal, ingatanku kembali tertuju pada sosok pak Slamet. Aku masih ingat obrolanku dengan Bapakku mengenai dia. Waktu itu aku baru tamat SMU. “Pak, kenapa pak Slamet itu namanya pak Slamet?”, ujarku dengan penuh keheranan.

Bapakpun bertanya balik “Kok kamu nanya gitu?”.

“Memang kenapa pak?, bukankah pak Slamet itu bukan orang keturunan Jawa?, kok mata dia sipit?, seperti warga keturunan?”, kataku.

“Oh….pak Slamet itu memang bukan warga asli Indonesia, dia warga keturunan Tionghoa, makanya matanya sipit”. Bapak kembali menambahkan “Dulunya nama pak Slamet ya bukan pak Slamet yang sekarang ia pakai, dia itu mengganti namanya setelah ada kebijakan pemerintah yang menindas warga keturunan”. Bapakku menyudahi pembicaraan.

Sejak saat itu aku selalu memikirkan perkataan Bapak mengenai orang yang asli Indonesia. Keberadaan pak Slamet yang keturunan Tionghoa membuatku kembali memikirkannya. Apa memang ia bukan orang asli Indonesia?. Kenapa ia harus mengganti namanya?.

 

Belum selesai mencari-cari jawaban mengenai pak Slamet. Bel pergantian jam berdering dengan keras. Menghentak dan mengejutkanku yang termenung setengah melamun. Aku tersadar, jam sekarang ini aku mendapat jatah mengajar di kelas 2. Aku mencoba menyiapkan diri dengan membaca kembali materi yang aku sampaikan. Aku tidak ingin lupa di tengah-tengah aku mengajar di kelas nanti.

 

Entah kenapa, usai mengajar aku kembali teringat dengan pak Slamet. Jadwal mengajarku sudah selesai. Aku harus segera pulang ke rumah. Silabus kelas 1 harus aku selesaikan segera. Kemarin aku mendapat masukan dari kepala sekolah bahwa silabus itu harus segera diperbaiki.

 

Saat melintas di dekat pos satpam, aku tidak melihat siapa-siapa. Darwis  tidak ada, Tigor yang suka tertawa terbahak-bahak juga tidak ada. Bahkan si Ahmad yang suka menyapaku setiap aku lewatpun tidak kelihatan batang hidungnya. Kata mbak Lastri tetangga sebelah rumahku, si Ahmad itu suka denganku. Padahal dia baru lulus SMU tahun ini. Usianya berarti terpaut sekitar lima tahun lebih. “Orang-orang pada kemana ya?, tidak seperti biasanya?”, aku bertanya dalam hati sambil menyempatkan diri berhenti tepat di depan pos satpam.

 

“Mbak Tari kok berhenti di depan pos?ada apa mbak?”, suara pak Supardi satpam komplek mengagetkanku.

Nggak ada apa-apa pak”, ujarku. “Orang-orang yang biasanya di pos satpam pada kemana pak?tidak biasanya mereka sudah pulang?”, aku bertanya.

“pak Slamet tadi kecelakaan mbak Tari, waktu dia mau menyeberang ke depan”. Pak Supardi bercerita menampakkan kesedihannya. “Saya takut pak Slamet kenapa-napa mbak Tari”.

“Memang sekarang dia ada dimana pak?”, aku bertanya lagi.

“Dia di rumah sakit, bersama istri dan anak-anaknya”.

“Saya mau langsung ke sana pak”, aku berujar sambil pergi meninggalkan pak Supardi.

 

Aku langsung bergegas menuju ke rumah sakit. Entah mengapa kali ini aku merasa iba mendengar musibah yang menimpa pak Slamet. Padahal biasanya setiap kali melihat pak Slamet, aku merasa ada orang asing berada di lingkungan komplek perumahanku. Aku merasa ada orang yang bukan asli Indonesia. Ada orang non-pribumi yang perlu dicurigai. Pewaris bumi Indonesia ini haruslah orang pribumi, orang asli indonesia, bukan orang asing bermata sipit seperti pak Slamet dan keluarganya. Mereka mengganti nama mereka untuk kepentingan mereka saja. Mereka ingin menguasai bumi Indonesia dengan cara-cara yang licik. Lihat saja, para pengusaha besar, miliarder, adalah orang-orang bermata sipit yang tidak asli indonesia. Biarlah mereka tetap berstatus orang asing yang tinggal di Indonesia. kenapa harus mengganti nama pula?.

 

Sesampainya di rumah sakit, aku langsung mencari kamar dimana pak Slamet mendapatkan perawatan. Pak Slamet tergeletak dengan tongkat kayu di sampingnya. Rupanya ia masih sadar, hanya luka kecil di kaki dan tangannya. Melihat kedatanganku, ia langsung tersenyum dan mempersilahkan aku agar masuk dan duduk di sampingnya.

 

“Aku sudah sering mendengar cerita dari bapakmu”, pak Slamet memulai pembicaraan.

“Kata bapakmu, kamu sering bertanya mengenai saya bukan?”

Mendengar omongan yang keluar dari mulut pak Slamet aku langsung terhenyak bercampur rasa malu, “I…..Iya pak”, aku menjawab dengan terbata-bata. “Bapak kok tahu?”, aku memberanikan diri bertanya.

Pak Slamet tersenyum cukup lama sambil menggeleng-gelengkan kepala, “Tari….Tari….memang dunia ini selebar daun?”

“Aku tahu pertanyaan-pertanyaanmu ya dari bapakmu”

Dalam hati aku merasa heran dengan pernyataan pak Slamet. Ternyata ia orang yang pandai bergaul. Aku kira bapakku enggan bergaul dengan orang asing seperti pak Slamet.

“Tidak ada yang asli di Indonesia negara kita ini”, pak Slamet memecah renunganku.

“Indonesia yang ada sekarang ini bukan sambungan dari Jawa, Sumatra, Kalimantan, seperti yang sering digembar-gemborkan lewat semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Indonesia merupakan sebuah kreasi abad ke-20 yang sepenuhnya baru dan diramu dengan resep dari peradaban Eropa modern. Maka, tidak ada yang dapat disebut alamiah, asli, atau pribumi di dataran nasional. Semuanya serba non-alamiah, non-asli, non-pribumi”. Pak Slamet berhenti bercerita sembari mengambil nafas panjang.

“Semuanya baru Tari…., hasil sebuah rekayasa dan keputusan. Bukan takdir. Bukan dari garis keturunan yang ditetapkan Tuhan. Tak ada sangkut-pautnya dengan warna kulit atau kaitan darah dan pernikahan”.

“Seseorang boleh saja dilahirkan dari ayah-ibu yang bersuku Jawa, dilahirkan di Jawa, dan dinamakan Dwi Lestari. Melalui prosedur imigrasi yang berlaku, ia dapat di-naturalisasi menjadi warga bangsa-negara di luar Indonesia. Sekali ia menerima status itu, secara konseptual, legal, dan norma, ia duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi dengan semua warga lain. Tidak seharusnya ada diskriminasi berdasarkan keaslian Indonesianya”.

Aku terperangah mendengar penjelasan pak Slamet. Seakan tak percaya dengan apa yang telah dipaparkannya. Ternyata tidak seperti yang aku duga-duga sebelumnya, ia menampakkan kearifan yang sangat. Ia bukan orang pribumi tapi ia memiliki kearifan lokal. Pak Slamet orang yang bukan asli Indonesia tapi memiliki rasa nasionalisme yang tinggi.

“Pak…bukankah nama Bapak diganti, dengan tujuan mencari selamat?menghindari anggapan orang bahwa bapak adalah orang asing?”. Aku bertanya dengan sedikit ketus. Aku pikir pernyataan pak Slamet mengenai asli dan tidak asli hanya sekedar apologi menghindari masalah.

“Bukan Tari, bukan seperti itu yang aku maksudkan…..”

“Coba kau pikirkan kembali apa yang telah aku katakan tadi”.

“Bapak tetap saja orang asing”, aku langsung pergi meninggalkan pak Slamet terbaring.

Aku mengingat-ingat kembali perkataan pak Slamet mengenai asli dan tidak asli di Indonesia. Bukankah Tigor yang Batak, Darwis yang Padang, dan si Ahmad anak Aceh, berasal dari Sumatera. Kalau aku pergi ke Sumatera pasti aku akan dianggap orang asing oleh mereka. Orang bermata sipitpun kalau ia menghayati nilai-nilai keindonesiaan akan mengerti dan memahami antara asli dan tidak asli. “Ternyata tidak ada yang asli dan sekaligus tidak ada yang tidak asli”, gumamku.

Buku-buku PPKn kembali aku telaah. Besok aku harus mengajar kelas 1. Ternyata materi yang diajarkan mengenai nasionalisme. Kearifan yang disampaikan pak Slamet harus aku sampaikan ke anak-anak. Jangan sampai Wisnu, Andi dan Budi berkelahi gara-gara satu sama lain saling menganggap asing.

  

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: