Menjadi Kutu Buku itu Keren (Catatan dari Matahari Domus Batavia Nouvelles Cafe)

2

May 19, 2008 by kamalfuadi


Komunitas Kutu Buku Gila (Kubugil), kembali menyanyah (istilah yang mereka pakai untuk kegiatan mereka). Kali ini mereka menyanyah dunia perbukuan dan blog. Bertempat di Mata Hari Domus Bataviasche Nouvelles Cafe dan dihadiri sekitar hampir 100 orang, panitia yang digawangi Gus Muh (Muhidin M. Dahlan) menghadirkan Taufik Rahzen (budayawan dan kolektor buku), Hetih Rusli (editor Gramedia Pustaka Utama) dan H Tanzil (moderator milis resensibuku dan pasarbuku). Acara ini dilaksanakan hari Sabtu, 17 Mei 2008 pukul 11.00 – 14.00.
Fenomena merebaknya blog, merupakan hal yang patut dicermati. Melalui media blog, individu maupun grup, menuangkan kreativitas dalam bentuk tulisan apapun. Blog yang mirip dengan website, menjadi fenomena mutakhir yang terus mengalami perkembangan signifikan. Komunitas Kubugil merupakan salah satu komunitas pecinta buku yang memadukan kecintaan terhadap buku dengan media aktualisasi kecintaan mereka yang berupa blog. Lewat alamat blog kubugil.multiply.com, kampanye untuk terus membaca digalakkan oleh anggota kubugil.


Hal inilah yang kemudian mendasari diadakannya acara ini. H. Tanzil yang jauh-jauh datang dari Bandung, menjadi orang pertama yang didaulat untuk berbicara mengenai fenomena blog buku. Dari keinginan untuk mulai menulis di blog, ia berinisiatif untuk membuat blognya mempunyai konten yang berbeda dari blog-blog yang sudah ada. Maka iapun mulai menuliskan beberapa resensi buku-buku yang ia baca untuk bisa diposting di blog yang ia miliki.
Taufik Rahzen, yang sudah ditunggu-tunggu untuk didengarkan pembicarannya oleh para peserta (termasuk saya, karena inilah pertama kalinya saya bertemu langsung dengan beliau. Sebelumnya saya pernah berkunjung ke “rumah”nya di Matahari Café), memberikan pandangannya yang dalam mengenai dunia perbukuan. Ia menyatakan bahwa baginya, buku adalah organisme yang hidup. Beberapa kalipun ia pernah diselamatkan oleh beberapa buku yang ia miliki. Setiap hari, ia membeli 10 buku. Maka bisa dipastikan dalam satu bulan ia sudah mengkoleksi buku sebanyak 300 buku. Jumlah yang banyak untuk ukuran konsumsi buku individu.
Beberapa peserta mengajukan pertanyaan kepada para pembicara. Beberapa dari mereka juga ada yang berbagi pengalaman mengenai blog. Beberapa hal yang mencuat diantaranya mengenai posisi blog dan milis. Milis yang merupakan media yang hadir lebih dulu dari blog. Dengan menjamurnya blog, kehadiran milis akan digantikan oleh kehadiran blog. Beberapa peserta menagamini kehadiran blog yang akan menggantikan keberadaan milis. Dengan model yang lebih atraktif dan interaktif, blog diyakini akan mampu menggeser keberadaan milis. Namun peserta lain tidak menyatakan hal yang senada. Hetih Rusli sendiri lebih memilih istilah mendampingi untuk permasalahan ini. Keberadaan blog justru akan mendampingi media milis yang lebih dulu ada.
Kutu buku, selalu dikonotasikan sebagai orang yang memakai kacamata, serius, tidak asyik, dan beberapa kesan serta imej lainnya. Melalui acara ini, diharapkan bisa memposisikan kembali kutu buku dan perannya dalam berbagai hal. Blog buku sendiri, sebagai media yang sedang naik daun, merupakan alternatif bagi para kutu buku untuk bisa membagi bahan bacaan yang telah dibacanya kepada orang-orang yeng mengharapkan penilaian terhadap bacaan yang belum mereka baca. Sehingga interaksi dengan orang lainpun akan selalu terjaga dengan cara seperti ini.
Kendatipun demikian, seringkali terdapat kesan miring mengenai blogger-blogger yang kurang bertanggung jawab terhadap isi blog mereka. Ada kesan yang diyakini beberapa orang bahwa, blogger cenderung mengabaikan kualitas isi blog. Karena blog memang bersifat pribadi, seringkali blogger cenderung untuk menuliskan beberapa tulisannya secara serampangan tanpa memperhatikan kaidah-kaidah umum yang berlaku. Namun, semua yang hadir tampaknya setuju bahwa, menulis di blog harus tetap berada dalam koridor-koridor baku yang sudah disepakati.
Pembicaraan yang berjalan dengan santai ini diselingi dengan pembagian buku-buku kepada para peserta. Peserta yang bertanya langsung mendapat buku. Pun peserta yang menjawab pertanyaan yang diajukan oleh panitia dan moderator terkait dengan acara ini.
Selain itu, selepas acara ini, diadakan juga pemutaran film tentang buku nonstop: (1) Finding Forrester (2000); (2) You’ve Got Mail (1998); (3) Quills (2000); (4) Freedom Writers (2007); (5) Il Postino, The Postman (1994); (6) Notting Hill (1999); (7) The Disapperance of Garcia Lorca (1997).

2 thoughts on “Menjadi Kutu Buku itu Keren (Catatan dari Matahari Domus Batavia Nouvelles Cafe)

  1. mina says:

    waaa saya datang kemaren🙂

  2. Erna says:

    Gmn caranya biar qt bisa menyeimbangkan antara kewajiban dan membaca buku, cz klo dah asyik baca buku, ya suka lupa.. hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: