Tentang ISO, Tentang Petugas Kebersihan

Leave a comment

September 26, 2008 by kamalfuadi


Bermula dari “keisengan” untuk bertanya dan menyapa (beberapa orang sering kali memang mengingatkan kebiasaan saya yang terlalu sering nyangkut saat bertemu dengan beberapa kawan), hari itu saya bertemu dengan salah satu petugas kebersihan fakultas di kampus. Petugas kebersihan ini baru beberapa minggu belakangan saya temui di kampus (memang sebelumnya ada urusan penting dengan dia, disamping ia juga sebelumnya tidak bertugas dimana ia ada di tempat saya biasanya belajar). Sengaja saya bertanya mengenai wacana yang kini hangat di fakultas. Wacana yang belakangan berpindah dari mulut ke mulut mulai dari mahasiswa semester satu hingga mahasiswa yang hampir Drop Out (DO). Wacana mengenai target Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Syarif Hidayatullah meraih ISO 9001:2000.

Beberapa fasilitas perkuliahan memang sedang berusaha untuk dilengkapi oleh pihak fakultas. Diantaranya adalah pemasangan in focus di 30 ruang perkuliahan FITK, peluncuran portal FITK – www.fitk.uinjkt.ac.id – dan layanan hotspot (wi fi)(Berita UIN, No. 86/Th. V/September 2008).

Siang itu, selepas perkuliahan, saya bertanya kepada petugas kebersihan mengenai tugas yang ia emban paska sosialisasi ISO yang kabarnya telah disampaikan kepada seluruh stake holder fakultas. Petugas kebersihan menjawab bahwa tugas untuk menjaga kebersihan kini semakin berat. Rentang waktu yang diberikan pihak fakultas kepada para petugas kebersihan dirasakan memberatkan mereka. Hal ini bisa dimengerti karena keluhan mereka adalah mengenai ketidakseimbangan waktu kerja dengan kompensasi (gaji) yang nantinya akan mereka terima. Seharusnya, menurut logika mereka (dan inipun bisa kita terima sebagai konsekuensi logis), dengan bertambahnya jam kerja maka gajipun ditambah. Dengan adanya penambahan gaji, maka penambahan jam kerjapun kemungkinan akan tidak dianggap sebagai beban karena mereka juga akan bersemangat melaksanakan pekerjaan mereka. keluhan lain yang mereka sampaikan adalah mengenai fasilitas penunjang pekerjaan mereka untuk menjaga kebersihan lingkungan fakultas belum sepenuhnya dilengkapi oleh fakultas. Sehingga kekurangan itu dianggap sebagai salah satu faktor penghambat kelancaran pekerjaan mereka.

Saya kembali teringat celetukan-celetukan teman-teman di kelas baik saat diskusi berlangsung maupun saat-saat di luar waktu perkuliahan di kampus. Beberapa teman menyatakan keberatan mereka mengenai target fakultas meraih ISO. Alih-alih meraih ISO, beberapa Program Studi (Prodi) di FITK saja belum mendapatkan kejelasan akreditasi dari BAN PT. Argumentasi-argumentasi yang dipaparkan teman-teman bermuara pada adanya tuntutan pasar, sehingga, sepertinya, fakultas ingin membuat program yang marketable dengan target meraih ISO. Ada satu hal lucu yang hampir membuat kami geli. Salah satu dosen yang semester lalu menyuarakan signifikansi mutu, hingga saat ini belum menyerahkan nilai mata kuliah ke pihak jurusan. Alih-alih meningkatkan mutu, tertib administrasi saja belum bisa terlaksana dengan baik.

Belum lagi berbicara mengenai layanan akademik fakultas yang tidak pernah ramah. Jawaban-jawaban dan layanan-layanan yang diberikan oleh pihak akademik fakultas, hampir semuanya adalah jawaban dan layanan yang disertai dengan wajah tidak komunikatif yang mencerminkan tugas mereka selaku pelayan mahasiswa. Yang terjadi justru mahasiswa merasa tidak berada di rumahnya sendiri. Mahasiswa terasing di rumah sendiri.

Beberapa minggu yang lalu saya diundang menghadiri rapat di ruang sekretariat ISO 9001:2000 untuk membahas penguatan dan pembenahan student government di tingkat fakultas dan jurusan. Dari sekian pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa di tingkat jurusan dan fakultas yang hadir, bisa dikatakan tidak mewakili aspirasi. Undangan dilayangkan via SMS yang datangnya mendadak. Pemaparan dari masing-masing mahasiswa yang hadir dalam rapat mengenai realitas proses dan prosedur pelaksanaan student government di tingkatan fakultas membuat panitia ISO tercengang. Ternyata banyak hal yang tidak berjalan dengan sesuai prosedur. Banyak hal yang tidak berjalan sesuai dengan sistem, keputusan tidak berdasarkan sistem. Keputusan banyak bergantung pada person-person yang terlibat. Hingga saat inipun, tidak ada kejelasan mengenai follow up pembicaraan mengenai masukan-masukan dari mahasiswa.

Dilihat dari cost-benefit belum tentu biaya yang dikeluarkan untuk meraih ISO sebanding dengan manfaat yang diterima. Selain itu, ISO menekankan pada proses yang konsisten, karena dengan kekonsistenan itu maka kualitas pun akan konsisten, namun hal ini pada kenyataannya menyebabkan adanya kesulitan untuk melakukan improvement dalam prosesnya, karena proses improvement akan mengubah standard yang telah dilaporkan sebelumnya. Dan lagi, seperti dikatakan teman-teman dalam diskusi kelas, Alasan melakukan sertifikasi ISO dilandasi motif adanya tuntutan pasar bukan didasari motif untuk meningkatkan kualitas produk/layanan yang diberikan. “Ternyata masyarakat kita memang terlalu mementingkan simbol daripada isi”, gumam salah satu teman mengakhiri pembicaraan panjang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: