Menaklukkan (kembali) Gunung Slamet

Leave a comment

December 6, 2008 by kamalfuadi


p8121301

“Kami tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal obyeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung”.
(SOE HOK GIE).

Tahun 60an Soe Hok Gie bersama dengan teman-teman mapala UI menaikki gunung Slamet. Medan yang mereka lewati tidak sama dengan medan gunung Slamet sekarang. Belum lagi dengan cerita-cerita mistik gunung slamet pada waktu itu. Hal ini terlihat dari apa yang ditulis Soe Hok Gie mengenai pendakiannya waktu itu. Tanggal 11 Agustus 2008, saya dengan beberapa teman yang merupakan tetangga-tetangga yang pernah menjadi teman masa kecil dan beberapa mahasiswa IPB Bogor (kembali) menaikki gunung Slamet. Kondisi jalan memang tidak terlalu ganas seperti apa yang digambarkan Soe Hok Gie mengenai gunung Slamet. Maklum, sudah ribuan orang yang menaklukkan gunung Slamet. Pada saat bulan Agustus teman-teman sering bercerita mengenai pendakian massal gunung slamet. Mereka memang mengetahui secara persis mengenai pendakian massal karena mereka menjadi panitia dalam kegiatan tahunan itu.
Semangat pendakian yang dilakukan Soe Hok Gie memang berbeda dengan semangat saya dan teman-teman. Pendakian yang dilakukan Soe Hok Gie dan teman-teman mapala UI dipenuhi dengan luapan-luapan emosi yang ada pada saat mereka ada di jalanan sebagai demonstran yang menentang ketidakadilan. Elan yang mereka tampakkan merupakan elan yang juga tampak pada tindakan-tindakan dan pemikiran kritis mereka terhadap realitas yang tidak memihak rakyat. Hal ini bisa dimengerti karena Soe Hok Gie hidup di zaman transisi. Zaman penuh dengan perjuangan lagi pengkhianatan. Perjuangan yang ia aspirasikan lewat pemikiran dan aksi. Pemikiran yang ia tumpahkan lewat tulisan dan aksi yang ia lakukan lewat demonstrasi. Pun pengkhianatan yang ia alamatkan kepada teman-teman sezaman yang pada awal bersama-sama dengan Soe Hok Gie melawan pemerintah namun belakangan justru menunjukkan konformitas terhadap pemerintah dengan masuk menjadi anggota dewan.
Kita masih ingat dengan bingkisan yang dikirimkan Soe Hok Gie. Bingkisan yang berisi pakaian dalam wanita sebagai simbol bagi teman-teman Soe Hok Gie yang tampil manis di depan pemerintah. Semangat Soe Hok Gie dengan penaklukkan-penaklukkan terhadap semua realitas yang ada di sekitarnya merupakan semangat yang harus ditiru. Walaupun pendakian yang saya lakukan dengan teman-teman tidak memiliki elan yang sama seperti elan yang dimiliki Soe Hok Gie dan teman-temannya, kami percaya bahwa mencintai Indonesia bisa tumbuh dari situ. (waktu pendakian, saya memang agak dipaksa. Dari sekian banyak teman sepermainan waktu kecil, Cuma saya yang belum pernah menaikki gunung Slamet. Padahal setiap pagi saya dapat melihat dengan jelas gunung Slamet dari jendela kamar saya).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: