Membangun (kembali) Pendidikan, Menentang Komodifikasi Pendidikan

1

February 25, 2009 by kamalfuadi


Judul Buku : Pedagogy of The City

Penulis : Paulo Freire

Penerjemah : Agung Prihantoro

Penerbit : LKiS Yogyakarta

Tahun Terbit : April 2008, Cet. II

Jumlah Halaman : xiv+160

Dunia pendidikan (Sao Paolo, Brazil) dihadapkan pada permasalahan menyangkut kualitas dan kuantitas. Pemegang kebijakan pendidikan tidak bisa dengan mudah melepaskan diri dari kedua masalah tersebut. Perubahan “wajah” sekolah, baik secara kualitas dan kuantitas, selalu merupakan keniscayaan. Kebijakan perubahan tersebut seringkali hanya merupakan paket-paket keputusan top-down approach yang rigid lagi tidak menyentuh kepada persoalan mendasar yang sebenarnya sedang dihadapi dunia pendidikan. Mengenai inisiasi perubahan ini, Freire menyatakan bahwa praktik pendidikan selalu merupakan aktivitas yang tidak netral, tetapi justru selalu politis. Dalam melaksanakan perubahan-perubahan tersebut diperlukan kejelian dalam melihat masalah. Freire mencontohkan praktik perubahan yang dimakud dengan mengumpulkan beberapa ahli untuk mengkaji masalah secara interdisipliner. Selain itu, sebelum kebijakan diputuskan, diperlukan pertemuan dengan banyak praktisi pendidikan di hampir semua sekolah, sehingga permasalahan yang akan dipecahkan dapat segera diketahui akarnya.

Dalam melaksanakan praktik pendidikan, Freire selalu menekankan adanya integrasi antara teori dan praktik. Tidak mungkin menegasikan praktik demi teori atau sebaliknya menegasikan teori demi praktik. Jika teori yang dikedepankan, maka yang mucul adalah verbalisme yang sering tidak banyak diketahui orang. Pendidik progresif, menurut Freire, pengajaran selalu diasosiasikan dengan pembacaan kritis terhadap realitas. Dengan model pengajaran seperti itu, guru mengajar bagaimana berfikir. Berbeda dengan guru konservatif yang masih menggunakan cara-cara konvensional, mereka berusaha mengakomodasikan dan mengadaptasikan siswa dengan dunia yang dihadirkannya. Dunia yang dihadapkan kepada peserta didik merupakan dunia yang sudah menjadi, tidak dapat diubah, ditransformasikan dan direka ulang.

Itulah seklumit isi dari buku Freire. Buku yang memang berjudul agak aneh. Lewat karya monumentalnya terdahulu (Pedagogy of The Oppressed) Freire sudah memposisikan diri sebagai pembela kaum tertindas yang lemah dan menjadi korban kebijakan yang tidak populis. Namun memang disadari bahwa isi buku ini berbicara lain. Sasaran yang dikehendaki Freire lewat buku ini adalah pendidikan kapitalis yang memang jamak dilaksanakan di perkotaan. Bahwa globalisasi dan komodifikasi pendidikan hanya akan mengorbankan hak manusia untuk mendapatkan pendidikan. Buku yang disajikan lewat dialog antara Freire dan beberapa pihak ini memang banyak mengulas praktik-praktik pendidikan ala perkotaan.

Lewat dialog-dialog panjang ini, Freire menyebutkan salah satu gagasan besar yang dulu pernah diusungnya. Gagasan bernama conscientizacao yang kemudian banyak diterjemahkan menjadi critical consciousness atau awareness ini kemudian ia hentikan pada 1974. Ia mengatakan dengan gamblang alasan untuk tidak lagi menggunakan kata konsientisasi tersebut.

“Selama tahun 1970-an, (tentu saja ada beberapa pengecualian di beberapa tempat), orang-orang membicarakan atau menulis tentang konsientisasi seolah-olah kata itu merupakan sebuah pil magis yang dipakai dalam dosis yang berbeda-beda untuk mengubah dunia. Seribu pil untuk seorang bos yang reaksioner. Sepuluh pil untuk seorang pemimpin organisasi yang otoriter. Lima puluh pil untuk kaum intelektual yang praktiknya bertentangan dengan wacananya. Begitulah seterusnya”. (hal. 106).

Salah satu bagian yang menarik dari buku ini adalah tanggapan Freire mengenai kritik yang dialamatkan kepada dirinya. Ia dikritik karena pandangan pendidikan yang bersifat politis, persepsi naif tentang demokratisasi di Brasil, dianggap sebagai seorang pendidik populis yang terjun ke masyarakat ke akar rumput untuk memberikan apapun yang diminta masyarakat tanpa memaksa mereka untuk beranjak ke fase pemahaman yang lebih tinggi atas realitas dan akhirnya Freire dikritik karena sebagian orang memahami Freire sebagai orang dengan konsep pendidikan yang tidak memiliki arah. Freire menjawab semua kritikan tersebut dengan jawaban yang sederhana. Kritik itu hanya berasal dari orang-orang yang tidak memahami gagasan-gagasan yang diusungnya secara komprehensif. Semua buku-buku yang ditulis Freire tidak dibaca satu per satu oleh para kritikusnya. Intinya, kritik yang disampaikan hanya berasal dari pemahaman parsial mengenai pemikiran pendidikan Freire.

Hanya saja, dalam buku ini memang banyak terdapat pengulangan-pengulangan ide dari Freire. Sehingga pembaca mungkin tidak akan selalu mendapatkan gagasan-gagasan segar tentang pendidikan.

Buku ini layak untuk dijadikan perenungan. Buku ini mengajak kita untuk memahami dan menjadikan aktivitas pendidikan (sekolah) sebagai hak azazi. Sesuatu yang sudah sering digembar-gemborkan, namun masih sulit untuk dilaksanakan.

One thought on “Membangun (kembali) Pendidikan, Menentang Komodifikasi Pendidikan

  1. rusydi says:

    wah sayangnya nalar freire gak cocok untuk negara ini. negara yang sudah pada pakemnya sendiri. nalar kiri, nalar radikal freire pun mati di indonesia. apakah begitu kawan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: