Tentang Sampul Buku, Kertas dan Kayu

1

April 15, 2009 by kamalfuadi


Saat pertama kali menyentuh sampul novel Bilangan Fu karya Ayu Utami, saya merasakan ada sesuatu yang berbeda dengan kertasnya. Kertas yang dipakai untuk sampul terlihat berbeda jika diperhatikan. Apalagi jika menyentuh dan meraba serta membolak balik sampul buku tersebut. Benar saja, dalam lembar kedua (yang berisi deskripsi buku) buku ini, terdapat logo kecil berbentuk pohon, tepat dibawahnya tertulis FSC (Forest Stewardship Council). Di bawah logo terdapat tulisan satu paragraf:

Sampul buku ini menggunakan kertas Gardapat13 Klassica buatan Cartiere del Garda, perusahaan yang telah menerima sertifikat dari organisasi pelestari hutan Internasional Forest Stewardship Council. Sertifikat ini merupakan pengakuan bahwa pembuatan kertas tersebut menggunakan bahan-bahan dari hutan yang dikelola secara bertanggung jawab dan berkelanjutan.

Gardapat 13 Klassica memang menjadi nama yang aneh bagi saya. Selama ini, ketika membaca buku, jarang saya memikirkan kertas apa yang sebenarnya dipakai oleh pihak percetakan untuk mencetak buku-buku. Hal ini lebih disebabkan karena saya sendiri tidak mengetahui secara persis jenis-jenis kertas yang biasa dipakai di pasaran. Bagi saya, yang membedakan antara satu kertas dan kertas lain yang dipakai di buku adalah kualitas yang dilihat dari halus dan kasar, tebal dan tipis kertas yang dipakai untuk mencetak buku.

Membaca tulisan mengenai kertas yang dipakai untuk sampul buku Bilangan Fu, mengingatkan saya kepada beberapa buku yang sempat dan sedang saya baca. Tidak terdapat keterangan seperti di atas yang secara eksplisit menyatakan bahwa kertas yang dipakai untuk sampul buku adalah kertas yang pengolahan dan penggunaannya diawasi oleh suatu badan yang jika dilihat dari namanya saja memang terlihat seperti badan yang mengemban tugas untuk mengawasi pengolahan dan penggunaan kayu-kayu dari hutan.

Dari satu paragraf penjelasan mengenai jenis kertas untuk sampul buku Bilangan Fu di atas terlihat adanya kesan tanggung jawab yang diemban oleh pihak percetakan dan pihak penerbitan terhadap penggunaan kertas. Beberapa buku dari penerbit yang samapun tidak saya dapati keterangan mengenai penggunaan kertas yang sama untuk sampul. Entah siapa yang berinisiatif menggunakan kertas dengan jenis gardapat 13 klassica.

Beberapa minggu yang lalu saya mengumpulkan beberapa kertas di kamar yang sudah tidak dipakai lagi. Kebanyakan berasal dari makalah-makalah semester 1 sampai 6 yang lama teronggok di pojok kamar. Selain itu, banyak juga koran-koran bekas yang dijual dengan harga mahasiswa yang juga terlihat berantakan. Daripada mengganggu pandangan, saya berniat membuangya. Ternyata jumlah kertas yang saya dapati bukan dalam bilangan puluhan, namun lebih dari itu, bilangannya mencapai ratusan hampir mendekati 300an. Jumlah bilangan yang cukup banyak. Saya membayangkan jika seluruh mahasiswa angkatan saya melakukan hal yang sama. Berapa ton kertas yang harus di buang atau dibakar atau jika bisa di daur ulang. Itu baru mahasiswa di kampus yang dibatasi pada angkatan saya saja. Bagaimana jika mahasiswa seluruh angkatan di kampus saya melakukan hal yang sama. Dari distribusi kertas-kertas di sekitar kampus saja sudah bisa dilihat berapa jumlah kertas yang setiap harinya berpindah dari tangan dosen ke mahasiswa. Dari mahasiswa ke mahasiswa. Dan yang lebih banyak lagi dari tempat langganan fotokopi ke tangan mahasiswa.

Ketika kertas-kertas tersebut sudah menjadi tidak berharga dan tidak berguna maka dengan begitu saja dibuang. Pemusnahan kertas memang tidak menjadi suatu persoalan yang rumit seperti yang terjadi dengan plastik. Apalagi jika kertas-kertas tersebut didaur ulang. Yang menjadi persoalan adalah ketika pengolahan dan penggunaan bahan-bahan untuk membuat kertas di lakukan dengan tanpa mengindahkan keseimbangan ekosistem, tanpa memperhatikan lingkungan dan mengacuhkan penebangan pohon-pohon di hutan. Maka berapa banyak pohon-pohon yang ditebang begitu saja tanpa berusaha melakukan reboisasi. Apakah selama ini pengolahan dan penggunaan bahan-bahan pembuatan kertas tetap memperhatikan kelangsungan kehidupan hutan selanjutnya?. Apakah pengolahan dan penggunaannya diawasi dengan seksama seperti apa yang dijelaskan dalam satu paragraf deskripsi buku Bilangan Fu?

Di bawah satu paragraf deskripsi sampul buku Bilangan Fu disebutkan:

Gardapat 13 Klassica diimpor oleh PT. Paperina Dwijaya

»

One thought on “Tentang Sampul Buku, Kertas dan Kayu

  1. hohoho, meski saya belum membaca bilangan fu nya ayu utami, saya jadi terkesan mal karena idealismenya dalam pembatasan penggunaan kertas yang merupakan hasil alam secara tidak bertanggung jawab…

    kalo buku2 impor tu biasanya pk kertas apa tauk gak??? kan biasany buku2ny segede bantal gt, eee… tp kalo dipegang ringan bukan main…

    btw knp harus diimpor dari PT Paperina Dwijaya??? apakah PT ini ada diluar negeri mal???

    salam dangdut koplo pantura, hahahahahahaha…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: