Menghidupkan kembali Tradisi Menulis di Kalangan Pesantren

Leave a comment

September 1, 2009 by kamalfuadi


Pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam yang memiliki sejarah panjang. Ia tidak hanya memiliki makna keislaman, namun juga makna keaslian (indigenous) Indonesia. Perkembangan pesat lembaga ini bisa ditilik dari pesantren-pesantren tradisional yang banyak terdapat di pelosok-pelosok desa hingga dalam perkembangan seperti sekarang ini, pesantren-pesantren yang bermunculan di daerah-daerah perkotaan. Dari pesantren yang hanya mengajarkan ilmu-ilmu agama lewat kitab kuning hingga pesantren yang memadukan ilmu agama dan ilmu umum serta menggunakan fasilitas-fasilitas modern. Dari perbedaan-perbedaan inilah kemudian muncul istilah pesantren salaf dan pesantren modern. Dengan menggunakan metode seperti sorogan, bandongan dan hafalan dalam pembelajaran materi-materi keislaman, pesantren telah membuktikan keberadaannya hingga saat ini.
Salah satu yang menjadi fungsi pesantren adalah fungsi pemeliharaan tradisi. Melalui metode pembelajaran di atas, pesantren mewujudkan fungsi tersebut dengan sangat baik. Salah satu perwujudan lain dari fungsi itu adalah aktivitas penulisan yang telah dilakukan oleh founding fathers pesantren dalam bentuk karya-karya tulis. Syekh Nawawi al Bantani, Syekh Mahfudz at Tirmasi, KH. Kholil Bangkalan Madura, KH. Hasyim Asya’ari, dan KH. R. Asnawi Kudus merupakan tokoh-tokoh pesantren yang dengan konsisten menuliskan ilmu-ilmu yang telah mereka dapatkan dalam karya-karya tulis mereka. Fungsi pemeliharaan tradisi ini menjadi hal yang sangat penting karena dengan cara ini ilmu-ilmu yang telah diajarkan secara turun temurun dapat dipelihara dengan baik.
Tradisi menulis memang sudah sejak sangat lama mengakar dalam Islam. Rasulullah SAW sendiri, walaupun seorang ummy (illiteracy), menggunakan metode dakwah lewat tulisan dalam bentuk surat yang ia tujukan kepada raja-raja dan penguasa untuk mengajak mereka memeluk Islam. Beliau juga menganjurkan penulisan Al Quran dan Hadits agar keduanya tidak hilang begitu saja. Metode penulisan menjadi salah satu metode pemeliharaan Al Quran dan Hadits yang penting di samping hafalan pada masa itu.
Pun dengan sahabat, tabi’in dan ulama yang hidup setelah beliau tetap memelihara tradisi penulisan lewat karya-karya yang mereka hasilkan. Lewat tulisan-tulisan merekalah kita yang hidup sekarang dapat dengan mudah mengakses ilmu-ilmu yang bersumber dari Al Quran dan Hadits sebagai sumber pokok agama Islam. Tanpa tulisan-tulisan mereka, kita akan kesulitan memahami secara langsung sumber ajaran Islam yang terdapat dalam Al Quran dan Hadits. Dari sini kita bisa memahami pentingnya tradisi menulis sebagai bentuk pemeliharaan tradisi.
Dalam konteks Indonesia, penulisan ilmu-ilmu agama telah banyak dicontohkan oleh para ulama. Syekh Nawawi Al Bantani (w. 1813/1897) misalnya menulis Tafsir al Munir li Ma’alim at Tanzil atau yang lebih dikenal dengan Marah Labid Tafsir an Nawawi. Syekh Mahfudz at Tirmasi (w. 1338/1919) menulis karya dalam bidang ilmu Hadis, yakni Manhaj Zhawi an Nazhar, sebuah tafsir atas Manzhumat ‘Ilm al Atsar karya Abdurrahman as Suyuthi. Catatan penting atas karya-karya ulama tersebut yaitu bahwa karya mereka ditulis dalam bahasa Arab hingga seringkali orang yang mampu membaca karya mereka dalam bahasa Arab merasa bahwa yang menulis karya-karya tersebut adalah orang Arab. Hal lain yang juga perlu dicatat yaitu bahwa karya ulama tersebut hingga saat ini masih dijadikan sebagai pegangan di universitas-universitas Timur Tengah.
Namun tradisi penulisan yang dilakukan ulama-ulama tersebut jarang dibudayakan dan dipertahankan. Bahkan pada beberapa dekade sangat sulit dijumpai—untuk tidak mengatakan hilang. Tradisi menulis tidak banyak diwarisi oleh kyai-kyai. Apalagi, beberapa tahun belakangan, ranah politik begitu menggoda mereka. Pada gilirannya, pesantren cenderung kering dari sentuhan buku atau tulisan. Tidak banyak kyai apalagi santri yang memiliki naluri berekspresi menciptakan karya tulis. Hal ini bisa dimaklumi karena adanya dominasi budaya berbicara (oral) di kalangan pesantren bahkan juga di seluruh lapisan masyarakat. Budaya menghafal pelajaran bahkan kitab di pesantren seolah membuat lupa kalangan pesantren untuk menulis.
Karya-karya yang pernah dihasilkan oleh para ulama seperti dicontohkan di atas memang tergolong karya serius dan berat, sehingga mungkin menjadi kesulitan yang sangat bagi para kyai sekarang bahkan santri untuk bisa melahirkan karya yang sama. Dari masa ke masa, karya-karya yang mucul dari kalangan pesantren mulai berubah. Karya-karya yang berkaitan dengan ilmu-ilmu Islam, kebanyakan ditulis dalam bahasa Indonesia. Kecenderungan saat inipun mengarah pada banyaknya karya-karya kalangan pesantren dalam bidang sastra. Banyak puisi, cerpen dan novel yang lahir dari tangan-tangan santri.
Karya-karya mengenai ilmu-ilmu Islam berbahasa Indonesia lebih banyak ditulis oleh kyai atau santri yang menjadi akademisi di kampus-kampus. Orang luar pesantren jarang yang mengetahui karya-karya dari kalangan pesantren sendiri. Walaupun sebenarnya buku-buku dari kalangan internal pesantren juga mulai banyak bermunculan. Contoh yang bisa disebutkan disini misalnya buku-buku yang lahir dari santri-santri pesantren Lirboyo, Kediri. Buku-buku yang kebanyakan berasal dari hasil bahtsul masail dan kajian ilmiah ini diterbitkan dan disebarluaskan ke masyarakat dalam bahasa Indonesia yang memudahkan masyarakat dalam memahaminya.
Media lain yang digunakan kalangan pesantren adalah majalah-majalah terbitan pesantren sendiri dan majalah-majalah Islam lain yang diterbitkan di luar pesantren. Majalah-majalah ini makin hari makin bertambah banyak sehingga kyai dan santri dapat memanfaatkannya sebagai media penulisan ide-ide mereka.
Di era internet seperti sekarang ini, pesantren ternyata meresponnya dengan membuat situs-situs dan mengisinya dengan berbagai materi keislaman yang dapat diakses dengan mudah. Sebut saja pesantren Sidogiri yang memiliki alamat situs http://sidogiri.net. Santri-santripun sudah banyak yang melek internet, sehingga mereka juga memiliki kontribusi besar baik dalam pengembangan situs maupun pengembangan wacana-wacana keislaman. Bahkan tidak jarang ustadz-ustadz dan santri-santri yang memiliki blog pribadi yang digunakan untuk menuangkan hasil pembacaan terhadap literatur-literatur Islam dan ide-ide mereka.
Dari beberapa contoh dan fenomena yang ada di kalangan pesantren, kita bisa melihat bahwa di setiap masa selalu ada semangat untuk terus menulis. Bentuk tulisan yang dihasilkan berbeda-beda sesuai dengan kapasitas kalangan pesantren dan semangat zaman. Begitu juga dengan media yang dipakai untuk menuangkan tulisan-tulisan mereka. Kalangan pesantren banyak yang mulai menyadari pentingnya menggunakan media tulisan dalam menyampaikan ilmu-ilmu dan ide-ide yang dikembangkan di pesantren. Selain itu, dakwah Islam juga dapat secara efektif terlaksana dan tersampaikan ke masyarakat dengan media tulisan. Perkembangan zaman dan masyarakat sekarang ini membuat kalangan pesantren harus merespon dan menyesuaikan metode dakwah yang sesuai.
Dalam pandangan penulis, prinsip dunia menulis pesantren sekarang ini bukanlah bagaimana bentuk tulisan yang dihasilkan. Prinsip penulisan di dunia pesantren adalah nilai-nilai religius dan spiritual yang melatarbelakanginya. Nilai-nilai itulah yang harus dijaga agar tetap menjadi dasar dan motivasi setiap karya apapun bentuk dan media yang dipakai. Ilmu-ilmu yang dipelihara lewat proses pembelajaran di pesantren harus terus disebarluaskan dan dipelihara. Salah satu aktivitas yang bisa dilakukan adalah dengan menulis. Pesantren, kyai dan santri harus mampu berbicara (dakwah bi al lisan) dan menulis (dakwah bi al qalam). Maka menghidupkan kembali tradisi menulis di kalangan pesantren menjadi suatu keharusan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: