Mengembalikan Bagian yang Hilang

Leave a comment

November 11, 2010 by kamalfuadi


Pendidikan mengalami kesenjangan antara apa yang dipelajari dengan apa yang kemudian dihadapi. Pun sebaliknya, apa yang dihadapi dengan apa yang kemudian dipelajari di sekolah dan kampus. Pendidikan kehilangan bagian penting yang selama ini dicari, yaitu diri kita sendiri. Pikiran sempit mengenai aktivitas pendidikan yang hanya dilaksanakan di sekolah dan kampus menjadikan kita picik menghadapi kehidupan. Praktik-praktik culas dalam kehidupan berbangsa dan bernegara tidak akan terjadi jika kita menjadikan seluruh aktivitas dalam kehidupan kita sebagai aktivitas pendidikan. Dengan kata lain, diri kita perlu menyatu dengan dunia pendidikan.

Pendidikan merupakan ranah yang digadang-gadang mampu menopang perwujudan pembangunan negara dan pencerdasan bangsa yang termaktub dalam konstitusi negara. Harapan yang diemban dunia pendidikan hingga saat ini masih merupakan harapan besar yang seringkali belum – untuk tidak mengatakan tidak- kunjung terwujud. Berbagai permasalahan yang melilit dunia pendidikan Indonesia seolah-olah menutupi pencapaian-pencapaian aktivitas pendidikan yang selama ini telah dan sedang diselenggarakan. Pendidikan Indonesia disebut-sebut telah kehilangan karakter dan tercerabut dari akar. Walau demikian, masyarakat Indonesia masih menaruh harapan besar kepada dunia pendidikan yang karut marut dipenuhi kompleksitas permasalahan.

Permasalahan yang dihadapi dunia pendidikan hanyalah sebagian dari permasalahan bangsa. Permasalahan yang dihadapi bangsa Indonesia adalah ulah orang-orang yang pernah mengenyam pendidikan. Pemimpin-pemimpin dan wakil-wakil rakyat yang menyalahgunakan kekuasannya pun tidak lain adalah orang-orang yang pernah mengenyam pendidikan. Pendidikan yang selama ini diselenggarakan perlu digugat di satu sisi karena kegagalan dalam melaksanakan amanat pembangunan negara dan pencerdasan bangsa. Namun demikian, pendidikan di sisi lain merupakan pengharapan solutif agar dapat melepaskan diri dari berbagai permasalahan bangsa. Pertanyaan besar mengemuka mengenai pendidikan yang selama ini telah diselenggarakan.

Indikator pencapaian pembangunan negara dapat saja dilihat dari besaran angka-angka statistik yang dijadikan laporan berkala Badan Pusat Statistik (BPS). Pun dengan indikator pencapaian pencerdasan bangsa yang dapat saja dilihat dari angka-angka yang menjadi nilai ujian peserta didik di sekolah atau dari banyaknya anak-anak Indonesia yang meraih juara di berbagai ajang kompetisi tingkat internasional yang belakangan ini marak diberitakan di media massa. Namun pencapaian kedua amanat konstitusi tersebut memang sangat tidak memadai jika hanya melihat pada angka-angka an sich. Pencapaian upaya pembangunan negara dan pencerdasan bangsa harus lebih banyak dilihat secara kualitatif. Perspektif kuantitatif dalam melihat kedua pencapaian yang selama ini jamak dilakukan harus diakhiri dengan menyeimbangkan porsi kuantitatif dan porsi kualitatif.

Penyelenggaraan pendidikan yang selama ini telah dan sedang dilaksanakan memang perlu mendapat kritik. Bagian-bagian yang merupakan komponen penting dari pendidikan perlahan-lahan mulai menghilang tergerus arus zaman. Alih-alih memberikan solusi bagi permasalahan bangsa, pendidikan justru sering dijadikan kambing hitam yang patut dipersalahkan. Di samping itu, pendidikan malah memberikan masalah baru bagi bangsa Indonesia.

Kegagalan dunia pendidikan dalam konteks berbangsa dan bernegara yaitu pada ketidakmampuan pendidikan menanamkan nilai-nilai luhur yang seharusnya dimiliki oleh anak-anak negeri ini. Pemimpin-pemimpin negeri ini, dari tingkat pusat hingga daerah, tidak banyak yang patut dicontoh karena mereka tidak memberikan suri tauladan dalam menjalankan kepemimpinan. Generasi muda penerus perjuangan para pemimpin berada di titik nadir. Harapan pada generasi muda pemilik sah masa depan Indonesia memang masih ada. Namun demikian, kekhawatiran akan kemunculan generasi Indonesia yang hilang memang perlu mendapat perhatian. Pendidikan dinanti-nanti perannya dalam menjalankan aktivitas pembangunan karakter generasi muda penerus perjuangan bangsa.

Pembangunan karakter dalam aktivitas pendidikan selama ini mengalami kegagalan. Maka tidak heran pada saat sekarang ini muncul kampanye untuk menggalakkan kembali pendidikan karakter dalam aktivitas pendidikan di sekolah-sekolah dan kampus-kampus. Seharusnya kita semua yang termasuk dalam stake holder pendidikan peka terhadap penanaman karakter pada anak-anak yang memang menjadi hal yang niscaya terdapat dalam semua aktivitas pendidikan. Jika penanaman karakter dalam dunia pendidikan gagal, maka dapat dikatakan bahwa selama ini aktivitas pendidikan yang telah dan sedang dilaksanakan kering dari aktivitas penanaman karakter.

Jauh-jauh hari salah seorang praktisi pendidikan kenamaan Brazil, Paulo Freire, telah mengingatkan kita mengenai urgensi penyatuan antara teori dan praktik. Keduanya merupakan satu kesatuan yang jika dipisahkan satu sama lain akan menjadikan keduanya muspra. Aktivitas pendidikan Indonesia selama ini didominasi oleh penghafalan teori-teori tanpa praktik nyata. Sehingga apa yang telah diajarkan di sekolah-sekolah dan kampus-kampus hanya perlu disimpan dalam otak tanpa perlu dipraktikkan dalam kehidupan nyata sehari-hari.

Selain itu, sebagian besar dari kita berfikiran sempit dengan menganggap bahwa aktivitas pendidikan hanya berlangsung di dalam ruang-ruang sekolah dan kampus yang sempit. Kita tidak pernah berfikir bahwa segala aktivitas yang kita lakukan sehari-hari adalah aktivitas pendidikan bagi diri sendiri dan orang lain di sekitar kita. Maka tidak heran kalau kemudian anak-anak sering melihat tontonan-tontonan kehidupan yang diperhadapkan ke wajah mereka yang penuh dengan anomali. Apa yang diajarkan ke mereka di sekolah dan kampus berbanding terbalik dengan apa yang dilihat. Pun sebaliknya, apa yang mereka lihat dalam kehidupan nyata berbanding terbalik dengan apa yang nantinya mereka pelajari di sekolah dan kampus.

Sekolah dan kampus hanyalah ruang sempit yang tidak banyak memberikan harapan jika kitapun berfikiran layaknya kita berada di ruang kelas di sekolah dan kampus yang sempit. Pendidikan di sekolah dan kampus akan memberikan harapan jika kita pun menjadikan aktivitas pendidikan di sekolah dan kampus tidak terpisah dari kehidupan kita. Pendidikan merupakan integrasi dari apa yang dipelajari dan diajarkan dengan apa yang dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Dunia pendidikan kita telah kehilangan bagian penting. Kita semua adalah bagian yang hilang dari pendidikan karena kita berfikir sempit dengan hanya menjadikan sekolah dan kampus sebagai tumpuan harapan pencapaian pembangunan negara dan pencerdasan bangsa. Maka marilah kita menyatu dengan dunia pendidikan dengan menjadikan seluruh aktivitas dalam kehidupan kita sebagai aktivitas pendidikan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: