Kesulitan Akses Pendidikan di Negeri Kita (Seklumit Cerita Perjalanan ke Cicakal Garang Kanekes Baduy)

Leave a comment

May 2, 2011 by kamalfuadi


Kamis, 28 April 2011, pukul 06.00

HP saya berbunyi. Tampak di layar nama penelfon, mas Khamami Zada, salah seorang “guru” yang saya kenal lewat tulisan-tulisan dan diskusi-diskusi mengenai gerakan fundamental dan radikal dalam Islam. Beliau adalah dosen Syari’ah UIN Jakarta dan salah seorang pakar Islam radikal. Sewaktu aktif di Forum Diskusi Lintas Perspektif RASIONALIKA Pesantren Luhur Ilmu Hadis Darus Sunnah Ciputat, saya pernah mengundang beliau untuk berbicara mengenai gerakan Islam radikal.

Kali ini pembicaraan via HP bukan mengenai gerakan Islam radikal, melainkan pogram Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan Balitbang dan Diklat Kementerian Agama RI mengenai model pengembangan pendidikan di daerah khusus. Daerah khusus yang dimaksud yaitu daerah terpencil Cicakal Garang Kampung Baduy yang terletak di Kabupaten Lebak Provinsi Banten. Program tersebut memang sudah sejak beberapa bulan lalu disampaikan secara langsung oleh mas Khamami kepada saya. Maksud beliau agar saya turut serta dalam program tersebut.

Kamis, 28 April 2011, pukul 08.00

Saya dan mas Khamami bersepakat untuk bertemu di halte busway Pondok Pinang dan kami pun berangkat menuju Cicakal Garang Kabupaten Lebak bersama dengan 3 (tiga) orang lainnya yang tergabung dalam tim Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan.

Perjalanan dari Jakarta-Lebak membutuhkan waktu kurang lebih 6 jam. Jalan tol yang kami lewati tidak terlalu mulus karena banyak pekerjaan renovasi. Setelah jalan tol, perjalanan menjadi sangat tidak menyenangkan, pasalnya jalanan dipenuhi lubang. Sangat tidak menyenangkan lagi, di sepanjang jalan menuju Lebak dipenuhi poster dan spanduk bakal calon pemimpin Provinsi Banten yang berisi kalimat-kalimat permintaan dukungan. Belum lagi stiker-stiker besar dengan kalimat-kalimat yang hampir sama memenuhi kaca-kaca belakang mobil angkutan kota.

Sangat ironis. Di tengah kondisi masyarakat dan fasilitas umum yang belum memenuhi standar, orang-orang di poster, spanduk, dan stiker dengan lantang menyerukan pembangunan. Dan mereka yang mengajukan diri adalah orang-orang yang sampai saat ini masih berkuasa (incumbent).

Kamis, 28 April 2011, pukul 15.30

Kami tiba di bawah perbukitan jalan menuju perkampungan Cicakal Garang, Baduy. Jalan ini tidak dapat dilalui kendaraan roda empat. Satu-satunya kendaraan yang dapat mengantarkan kami menuju Cicakal Garang adalah ojek. Jarak yang perlu kami tempuh sekitar 4 km. Jalan tersebut merupakan jalan terjal berbukit. Saya menyebut ojek kali ini sebagai ojek ekstrem!. Betapa ngeri menaiki ojek di daerah perbukitan dengan jalur yang berada di tepian jurang. Sampai di tujuan akhir, Cicakal Garang, kedua lutut kaki saya langsung lemas karena saya belum pernah menaiki ojek ekstrem.

Kedatangan kami disambut oleh pasangan suami istri Bapak Ahmad dan Ibu Dewi yang merupakan pendidik di Madrasah Tsanawiyah (MTs) Cicakal Garang. Bapak Ahmad dan Ibu Dewi sudah lebih dari 15 (lima belas) tahun mendedikasikan diri di Cicakal Garang untuk kepentingan pendidikan. Keduanya merupakan pendatang yang ingin melaksanakan dakwah Islam di daerah Baduy. Rupanya gayung bersambut, aktivitas pendidikan yang selama ini dilaksanakan oleh Bapak Ahmad dan Ibu Dewi di daerah Cicakal Garang mendapat respon positif dari pemerintah pusat lewat Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan Balitbang dan Diklat Kementerian Agama RI. Walaupun bukan menjadi urusan Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan, namun pemerintah menginginkan agar kesulitan akses pendidikan yang selama ini ada Cicakal Garang dapat teratasi.

Maka sejak tahun 2010, Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan membantu masyarakat Cicakal Garang dalam menyelenggarakan pendidikan dasar tingkat Madrasah Tsanawiyah (MTs). Selama ini, masyarakat Cicakal Garang telah memiliki akses pendidikan dasar tingkat Madrasah Ibtidaiyah (MI) dengan adanya MI Masyarikul Huda namun mereka masih kesulitan mengakses pendidikan lanjutan selepas dari MI.

Kamis, 28 April 2011, pukul 19.00

Tim Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan bersama dengan pendidik dan tenaga kependidikan MTs Cicakal Garang mengadakan diskusi tentang pemetaan problem penyelenggaraan pendidikan di Cicakal Garang. Dari hasil diskusi didapati kesimpulan bahwa MTs Cicakal Garang perlu mengubah model pendidikan yang selama ini dilaksanakan. Jika selama ini model pendidikan di MTs Cicakal Garang masih mirip dengan model pendidikan madrasah reguler, dan ini tidak menjadi tugas Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan, maka MTs Cicakal Garang, berdasarkan hasil diskusi dan perumusan, menetapkan diri menjadi MTs berbasis kealaman alias madrasah alam. (Mengenai MTs Alam Cicakal Garang akan saya sampaikan dalam tulisan lain).

Kamis, 28 April 2011, pukul 22.00

Sebagian anggota tim beristirahat di rumah Bapak Ahmad. Saya sendiri bersama dengan mas Khamami memilih untuk beristirahat di rumah Bapak RT Cicakal Garang sambil mengadakan wawancara singkat mengenai konflik yang selama ini terjadi antara masyarakat Baduy dengan masyarakat Cicakal Garang. Banyak cerita menarik dari Bapak RT. Mulai dari pelarangan sekolah bagi masyarakat Baduy (dalam hal ini masyarakat Baduy membolehkan belajar, tapi tidak untuk sekolah), pelarangan untuk memakai barang pecah belah (dulu, kata Bapak RT, ada razia ke setiap rumah di Baduy untuk memecahkan semua barang pecah belah), pelarangan memakai kendaraan bermotor dan kendaraan yang tidak bermotor, hingga pelarangan membangun rumah dengan tembok. (Cerita tentang Baduy mungkin lain waktu akan saya sampaikan dalam tulisan lain).   

Jum’at, 29 April 2011, pukul 07.00   

Hari kedua di Cicakal Garang, Tim Puslitbang mengadakan pertemuan dengan 2 (dua) orang pendidik yang selama ini sudah melaksanakan pendidikan informal lewat program Keaksaraan Fungsional di Kampung Balimbing Baduy Dalam. Kedua orang tersebut adalah Bapak Sarpin dan Bapak Ustadz Kasja. Bapak Sarpin datang dengan pakaian serba hitam a la orang Baduy. Sedangkan Bapak Ustadz Kasja datang dengan pakaian rapi layaknya guru yang mau mengajar.

Bapak Sarpin mulai bercerita mengenai proses pendidikan yang selama ini berjalan di Kampung Balimbing. Adat Baduy sampai saat ini masih melarang masyarakat untuk mengenyam bangku sekolah. Aktivitas pendidikan yang diperbolehkan di antara mereka yaitu belajar. Maka selama 6 (enam) bulan di tahun 2010, Bapak Sarpin bersama dengan Ibu Dewi melaksanakan aktivitas pendidikan lewat program Keaksaraan Fungsional. Peserta yang mengikuti program tersebut berjumlah 120 orang yang tergabung ke dalam 12 kelompok belajar. (Aktivitas pendidikan di Kampung Balimbing akan saya sampaikan dalam tulisan lain).  

Bersama dengan Tim Puslitbang, Bapak Sarpin, Bapak Ustadz Kasja, Bapak Ahmad, dan Ibu Dewi, mulai melakukan pemetaan problem pelaksanaan pendidikan yang selama ini telah dilaksanakan di Kampung Balimbing. Hasil pemetaan menyepakati bahwa masyarakat Baduy masih perlu untuk mendapatkan pendidikan dalam bentuk belajar bersama, bukan sekolah. Untuk itu, di samping akan mendampingi masyarakat Cicakal Garang dalam melaksanakan pendidikan model madrasah alam, tim Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan akan berupaya menyelenggarakan pendidikan keaksaraan fungsional di Kampung Balimbing Baduy Dalam.                  

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: