Madrasah Alam Cicakal Garang

4

June 15, 2011 by kamalfuadi


Latar Belakang

Pembukaan UUD 1945 Negara Republik Indonesia Tahun 1945 mengamanatkan kepada sistem Pemerintahan Negara untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tanah air – tumpah darah – Indonesia serta untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dengan melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Pemerintah mengusahakan, menyelenggarakan dan memfasilitasi terbinanya suatu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimananan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.

Pendidikan nasional di samping menjamin keadilan dan pemerataan kesempatan pendidikan, perlu meningkatkan mutu dan efisiensi sistem pendidikan serta relevansinya dalam menghadapi tantangan sesuai dengan tuntutan dinamika kehidupan lokal, nasional, dan global. Untuk itulah, perlu diadakan pembaharuan pendidikan secara terencana, terarah, dan berkesinambungan.

Pendidikan nasional juga bertujuan untuk mengembangkan aspek jasmaniah dan rohaniah dari warganya. Di samping itu penyempurnaan penyelenggaraan pendidikan diperlukan dalam upaya mewujudkan pembangunan nasional secara keseluruhan. Pendidikan nasional akan sangat menentukan keberhasilan upaya memantapkan ketahanan nasional serta mewujudkan masyarakat maju yang berakar pada kebudayaan bangsa, persatuan nasional dan kemanusiaan yang universal.

Hal-hal tersebut menunjukkan adanya amanat dan komitmen tinggi pemerintah terhadap upaya pencerdasan bangsa. Komitmen ini dibuktikan dengan pencantuman upaya pencerdasan bangsa dalam konstitusi negara sebagai salah satu hal paling mendasar yang perlu dibangun dan dikembangkan pasca kemerdekaan Indonesia. Realisasi komitmen yang tercantum dalam konstitusi ini diupayakan dengan menyelenggarakan pendidikan yang terdiri dari beberapa jalur, jenjang dan jenis mulai dari taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi di seluruh Indonesia.

Pendidikan tersebut diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, dan kemajemukan bangsa[1]. Salah satu prinsip ini mendorong pemerintah untuk secara adil dan merata berupaya mengadakan pembukaan dan pelayanan akses pendidikan untuk daerah-daerah terpencil.

Sebagai salah satu upaya melayani pendidikan dasar, Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan Balitbang dan Diklat Kementerian Agama RI telah merintis satuan pendidikan berupa MTs di Cicakal Garang. Dengan berdirinya MTs tersebut, masyarakat Cicakal Garang dan sekitarnya dapat menikmati akses pendidikan lanjutan dari pendidikan tingkat dasar yang selama ini sulit mereka dapatkan.

Pada tahun pertama berdiri, MTs Cicakal Garang telah melaksanakan aktivitas pendidikan mulai dari rekrutmen guru, siswa, tenaga kependidikan, penyiapan perlengkapan, sarana dan prasarana madrasah, kurikulum, dan pembelajaran. MTs ini dirancang untuk mengembangkan model pendidikan Islam formal yang berbasis pada nilai-nilai masyarakat Baduy, terutama pada aspek kurikulum, sarana parasarana, pendidik, dan tenaga kependidikan.

Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan berupaya mengembangkan model pendidikan yang khas. Kekhasan itu terletak pada nilai-nilai adat yang melekat pada kurikulum pendidikan dan berbasis pada kondisi objektif masyarakat di daerah tertinggal.

Tahun kedua, MTs Cicakal Garang mulai menemukan model khas yang selama setahun sudah mulai dirancang. Model khas tersebut merupakan model yang dirancang bersama antara Tim Pusat Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan dengan Tim Pelaksana di daerah. Model pendidikan khas itu diberi nama Madrasah Tsanawiyah (MTs) Alam Cicakal Garang.

Kerangka Model Penyelenggaraan Pendidikan

Konsep Dasar dan Strategi

MTs Cicakal Garang merupakan akses pendidikan dasar dalam masyarakat Kanekes dan sekitarnya. Keberadaan MTs ini merupakan kebutuhan masyarakat terhadap pendidikan lanjutan bagi anak-anak mereka yang telah selesai mengenyam pendidikan dasar di Madrasah Ibtidaiyah (MI). Selama ini masyarakat Cicakal Garang mendapat kesulitan dalam mengakses pendidikan lanjutan bagi anak-anak mereka. Jarak yang jauh dan medan daerah Cicakal Garang menjadi kendala bagi masyarakat.

Madrasah Tsanawiyah di Cicakal Garang dikelola oleh masyarakat sebagai bagian dari partisipasi masyarakat dalam pelayanan pendidikan dasar. Guru-guru direkrut dari masyarakat Cicakal Garang dan masyarakat di sekitarnya. Penyelenggaraan MTs di Cicakal Garang dilakukan dengan strategi melibatkan tokoh adat Baduy (Kepala Desa Kanekes), tokoh masyarakat, dan tokoh agama.

Penyelenggaraan pendidikan di MTs Cicakal Garang merupakan model pendidikan berbasis masyarakat dimana pendidikan berdasarkan kekhasan agama, sosial, budaya, aspirasi, dan potensi masyarakat sebagai perwujudan pendidikan dari, oleh, dan masyarakat[2]. Penyelenggaraan pendidikan berbasis masyarakat tersebut merupakan bagian dari hak yang dimiliki masyarakat. Masyarakat berhak menyelenggarakan pendidikan berbasis masyarakat pada pendidikan formal dan nonformal sesuai dengan kekhasan agama, lingkungan sosial, dan budaya untuk kepentingan masyarakat[3].

Masyarakat merupakan sumber daya pendidikan yang memiliki potensi besar untuk mewujudkan pendidikan yang diinginkan. Sebagai sumber daya pendidikan, maka masyarakat perlu mendapatkan porsi yang sepadan dengan potensi yang dimilikinya. Potensi tersebut meliputi potensi agama, sosial, dan budaya, aspirasi, dan keterlibatan masyarakat dalam pendidikan.

Pemberian hak kepada masyarakat merupakan upaya pemerintah mengangkat harkat dan martabat masyarakat akan kekhasan agama, sosial, budaya, aspirasi, dan potensi masyarakat dengan harapan hasil pendidikan adalah pendidikan yang memasyarakat. Pendidikan yang memasyarakat yaitu hasil pendidikan yang sesuai dengan falsafah masyarakat, sumber daya alam, sumber daya manusia, dan kebutuhan masyarakat setempat sehingga pendidikan bukan merupakan suatu proses dan hasil yang tidak sesuai dan mengakar dengan nilai-nilai masyarakat setempat.

Selain itu, pendidikan yang memasyarakat mengindikasikan bahwa pendidikan harus bersendikan pada kekuatan yang berasal dari dan untuk masyarakat. Dilihat dari sisi proses, pelaksanaan pendidikan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki oleh masyarakat. Dengan demikian proses pendidikan tersebut bukan merupakan proses yang membebani masyarakat. Dilihat dari sisi hasil, hasil pendidikan yang berbasiskan pada masyarakat benar-benar menjadi sesuatu yang dihasilkan masyarakat.

Sebagai pendidikan yang berbasis masyarakat, maka MTs Alam Cicakal Garang selalu sadar, bertanggung jawab, dan konsen terhadap kebutuhan dan aspirasi masyarakat. Berkenaan dengan kontribusi masyarakat, semua potensi masyarakat yang memungkinkan untuk dimasukkan dalam upaya pengembangan madrasah selalu menjadi prioritas utama dalam setiap program pendidikan madrasah[4].

Di samping berupaya untuk melaksanakan model pendidikan berbasis masyarakat, MTs Alam Cicakal Garang, sesuai dengan namanya, juga selalu mengintegrasikan diri dengan memanfaatkan alam lingkungan Cicakal Garang sebagai sumber belajar utama dalam setiap aktivitas pendidikan. Kondisi alam Cicakal Garang dan tradisi masyarakat yang cinta dengan alam menjadikan MTs Alam Cicakal Garang tidak berupaya menjauhkan diri dari alam dengan selalu melaksanakan pendidikan hanya di dalam kelas atau sekolah saja sebagaimana sekolah pada umumnya.

Upaya mengakrabkan pendidikan dengan alam merupakan upaya untuk membendung perubahan perilaku sosial masyarakat tradisional yang jamak terjadi hampir di seluruh pelosok Nusantara. Termasuk dalam perubahan tersebut adalah kehancuran dan upaya penghancuran aset budaya lokal. Masyarakat di daerah pedalaman banyak yang mulai meremehkan tradisi yang selama ini mereka bela dan pelihara. Ekspansi pasar bebas dan modal asing yang masuk ke Indonesia telah mendorong terjadinya penjarahan kekayaan alam di daerah-daerah pedalaman, sementara tradisi-tradisi setempat tidak dilindungi, bahkan terkena dampak negatif[5]. Untuk itulah, pengambilan model pendidikan sekolah alam pada MTs Alam Cicakal Garang menemukan relevansinya sebagai salah satu upaya memelihara tradisi lokal agar tidak pudar dari masyarakat.

Selain sebagai upaya pemeliharaan tradisi, pendidikan sendiri merupakan entitas yang tidak dapat dilepaskan dari kebudayaan suatu masyarakat. Tidak ada masyarakat tanpa budaya. Demikian pula tidak ada budaya yang statis tanpa gerak. Kebudayaan di mana pun adalah kebudayaan yang hidup dan berkembang melalui proses pendidikan. Tanpa pendidikan maka tidak mungkin suatu kebudayaan dapat bergerak atau berubah[6].

Di kalangan masyarakat sendiri, kebudayaan cenderung diartikan secara sempit. Kebudayaan tidak lebih dari kesenian,tari-tarian, seni pahat, seni batik, dan sebagainya. Dengan kata lain kebudayaan telah direduksi hanya mengenai nilai-nilai estetika. Selain itu, pendidikan sendiri sangat intelektualistis, artinya hanya mengenai satu unsur saja dari kebudayaan[7]. Dengan kata lain, keberadaan pendidikan yang selama ini berlangsung, tidak lagi terintegrasi sebagai bagian dari kebudayaan. Pendidikan yang kembali ke dan terintegrasi dengan alam di MTs Alam Cicakal Garang berusaha untuk terintegrasi dengan budaya lokal sebagai upaya pemeliharaan budaya.

Namun demikian, perlu diingat bahwa kebudayaan bukan merupakan sesuatu untuk diwariskan secara generatif, melainkan hanya mungkin diperoleh dengan cara belajar. Cara belajar yang berarti proses belajar terangkum dalam pendidikan. Demikian juga dengan pendidikan, tanpa melakukan kompromi dengan kebudayaan, maka pendidikan seakan tidak membumi. Sebab pada dasarnya dalam proses pendidikan terdapat tatanan nilai budaya masyarakat yang hendak diwariskan pada generasi yang akan datang[8].

Hanya saja pendidikan tidak hanya dijadikan sebagai media reproduksi atau pemeliharaan suatu kebudayaan saja. Namun lebih jauh pendidikan merupakan media pembudayaan atau pengembangan suatu kebudayaan dalam menghadapi perubahan-perubahan yang melingkupi kebudayaan tersebut. Zaman modern menuntut indvidu-individu dalam masyarakat untuk dapat aktif, kreatif, dan terbuka. Untuk itulah pendidikan yang dilaksanakan di MTs Alam Cicakal Garang berusaha memberdayakan individu-individu yang mampu memelihara budaya lokal, mentransformasikan nilai-nilai budaya lokal, dan melakukan aktivitas pembudayaan. MTs Cicakal Garang berusaha mengambil posisi sebagai media transmisi kebudayaan Baduy dari generasi ke generasi. Untuk itulah aspek kekhasan dalam semua aktivitas pendidikan di MTs Cicakal Garang mendapat penekanan yang lebih.

Jalur Pendidikan

Jalur pendidikan yang dipilih untuk merealisasikan pendidikan berbasis masyarakat dan terintegrasi dengan alam tersebut yaitu jalur pendidikan formal.

Jenjang Pendidikan

Jenjang pendidikan pada MTs Alam Cicakal Garang adalaha jenjang pendidikan dasar. Jenjang pendidikan ini dilaksanakan sebagai jenjang pendidikan lanjutan bagi siswa-siswa yang telah menyelesaikan Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) namun mengalami kesulitan dalam hal akses dikarenakan faktor jarak dan biaya.

Model Pendidikan

Model pendidikan di MTs Cicakal Garang dilaksanakan dengan model sekolah alam. Model pendidikan pada sekolah alam memandang lingkungan pendidikan terdiri dari lingkungan alam dan lingkungan manusia[9]. Proses pendidikan tidak hanya memerlukan lingkungan manusia dan terlepas dari lingkungan alam. Untuk itulah kedua lingkungan tersebut harus diintegrasikan dalam suatu proses bernama pendidikan.

Kedua lingkungan tersebut saling mengisi satu sama lain dan merupakan manifestasi kombinasi antara teori dengan praktik. Hal-hal yang dipelajari siswa sebagai suatu pengalaman belajar di dalam kelas harus benar-benar dirasakan melalui pengalaman belajar di luar kelas. Bahkan siswa harus lebih banyak belajar dari alam dengan lebih banyak melaksanakan pembelajaran langsung di alam terbuka. Dengan demikian pembelajaran siswa tidak lagi terisolasi di dalam ruang-ruang kelas saja.

Hal-hal yang menjadi pertimbangan pemilihan model sekolah alam adalah sebagai berikut:

  1. Lingkungan alam Cicakal Garang sangat mendukung dan dapat dimanfaatkan dalam pelaksanaan model pendidikan sekolah alam
  2. Masyarakat Cicakal Garang memiliki kedekatan dengan budaya Baduy yang sangat mencintai alam sekitar
  3. Sumber daya masyarakat Cicakal Garang mampu memanfaatkan alam sekitar
  4. Siswa MTs Alam Cicakal Garang sudah sangat akrab dengan alam

Dengan mempertimbangkan hal-hal tersebut, maka MTs Cicakal Garang menerapkan model pendidikan sekolah alam yaitu model pendidikan yang melibatkan alam sebagai faktor utama dalam pendidikan dan kehidupan. Alam dipandang sebagai suatu syarat mutlak terjadinya suatu kehidupan. Alam semesta atau bagian-bagiannya seperti gunung, laut, langit, bintang,dan lain-lain dalam suatu tahap perwujudannya menunjukkan fakta-fakta dan fenomena yang menarik untuk dikaji. Alam pikiran dan logika manusia dapat berkembang pesat dengan mengikuti fakta dan fenomena-fenomena semesta. Lebih dari itu, pengajaran tentang alam semesta adalah sesuatu yang sangat penting bagi manusia karena nilai praktis fungsional dan estetis alam semesta bagi kelangsungan hidup manusia[10].

Sekolah alam adalah salah satu bentuk pendidikan alternatif yang menggunakan alam sebagai media utama sebagai pembelajaran siswa didiknya. Tidak seperti sekolah biasa yang lebih banyak menggunakan metode belajar mengajar di dalam kelas, para siswa belajar lebih banyak di alam terbuka. Di sekolah alam metode belajar mengajar lebih banyak menggunakan aktif atau action learning dimana anak belajar melalui pengalaman (anak mengalami dan melakukan langsung) . Dengan mengalami langsung anak atau siswa diharapkan belajar dengan lebih bersemangat, tidak bosan, dan lebih aktif. Penggunaan alam sebagai media belajar diharapkan agar kelak anak atau siswa jadi lebih aware dengan lingkungannya dan tahu aplikasi dari pengetahuan yang dipelajari. Tidak hanya sebatas teori saja.

Konsep sekolah alam adalah konsep belajar aktif, menyenangkan dengan menggunakan alam sebagai media langsung untuk belajar. Sekolah Alam berusaha menciptakan suasana belajar mengajar yang menyenangkan, dimana atmosfer belajar tidak menegangkan, komunikasi antara guru dan siswa juga hangat dan juga mementingkan pada active learning dimana siswa tidak berfokus pada buku-buku pelajaran saja tapi mengalami langsung apa yang mereka pelajari, bisa lewat percobaan, observasi dan lain sebagainya.

Sekolah alam membuat anak tidak terpaku hanya pada teori saja. Namun mereka dapat mengalami langsung pengetahuan yang mereka pelajari di alam. Karena diakui saat ini sekolah-sekolah biasa lebih banyak menggunakan sistem belajar mengajar konvensional dimana guru menerangkan, siswa hanya mendapat pengetahuan dengan mengandalkan buku panduan saja, dan siswa jarang diberikan kesempatan untuk mengalami langsung atau melihat langsung bentuk pengetahuan yang mereka pelajari. Di sekolah alam, biasanya aturan yang diberlakukan tidak seketat sekolah biasa dimana siswa harus duduk mendengarkan gurunya atau mendapatkan hukuman jika tidak mengerjakan tugas.

Sekolah alam adalah sebuah impian yang jadi kenyataan bagi mereka yang mengangankan dan menginginkan perubahan dalam dunia pendidikan. Sekolah alam dapat menjadi alternatif sekolah yang bisa membawa anak menjadi lebih kreatif, berani mengungkapkan keinginannya dan mengarahkan anak pada hal-hal yang positif. Belajar di alam terbuka, secara naluriah akan menimbulkan suasana ‘fun’, tanpa tekanan dan jauh dari kebosanan. Dengan demikian akan tumbuh kesadaran pada anak bahwa ‘learning is fun’ dan sekolah identik dengan kegembiraan.

Waktu Belajar

Pembelajaran di MTs Alam Cicakal Garang dilaksanakan selama 5 hari dalam satu minggu, yaitu dari hari Senin-Jum’at. Waktu pembelajaran dimulai dari pukul 13.00-16.30.

Kurikulum

Kurikulum MTs Alam Cicakal Garang merupakan kurikulum yang dikembangkan dengan mengacu pada standar nasional pendidikan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Kurikulum ini dikembangkan dengan prinsip diversifikasi satuan pendidikan, potensi daerah Cicakal Garang, dan peserta didik.

Sebagai madrasah yang lebih banyak mengambil sumber belajar dari alam dan masyarakat, MTs Alam Cicakal Garang perlu:

  1. Memasukkan semua dimensi alam dan masyarakat Baduy dalam semua mata pelajaran di semua kelas. Hal ini dimaksudkan sebagai upaya pengintegrasian materi di kelas dengan kondisi alam dan masyarakat Baduy Cicakal Garang.
  2. Menyesuaikan pendidikan dengan kebutuhan dan kompetensi individu
  3. Menyeimbangkan antara aktivitas individual dengan aktivitas kelompok
  4. Mengarahkan siswa untuk melakukan identifikasi masalah, menyusun strategi penyelesaian, mengumpulkan informasi, menyusun hipotesis, dan menyajikan temuan-temuan agar mereka mendapatkan pengalaman sendiri dari alam sebagai sumber belajar dan mereka pun dapat membagikan temuan-temuan tersebut kepada orang lain[11].

Dengan mengacu pada prinsip di atas, kurikulum MTs Alam Cicakal Garang terdiri dari:

  1. Kurikulum reguler/standar nasional, yaitu kurikulum yang terdiri atas:

–       Kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia;

–       Kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian;

–       Kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi;

–       Kelompok mata pelajaran estetika;

–       Kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga, dan kesehatan[12]

  1. Muatan lokal yang berisi:

–       Wawasan Ke-Baduy-an (sejarah, budaya, dan bahasa). Materi ini diajarkan pada tahun pertama (kelas 1)

–       Keterampilan khas Baduy seperti pembuatan gelang dari kulit kayu (teureup), hiasan asbak dari batok kelapa, dan hiasan dinding berbentuk bintang dari bambu. Materi ini diajarkan pada tahun kedua (kelas 2)

–       Keterampilan khas alam Cicakal Garang seperti pembuatan hiasan bingkai dari batu-batuan yang diambil dari alam Cicakal Garang. Materi ini diajarkan pada tahun ketiga (kelas 3)

  1. Pengembangan Diri. Materi ini dibagi menjadi:

–       Akademis dalam bentuk keterampilan menulis

–       Keagamaan dalam bentuk praktik ceramah dan khutbah

–       Seni budaya dalam bentuk keterampilan memainkan angklung Baduy

–       Olahraga dalam bentuk sepakbola dan voli

Kurikulum pada MTs Alam Cicakal Garang disusun dalam rangka mewujudkan tujuan dan standar pendidikan nasional dengan memperhatikan tahap perkembangan peserta didik dan kesesuaiannya dengan lingkungan alam Cicakal Garang, kebutuhan pembangunan nasional, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kebudayaan dan kesenian. Setiap kelompok mata pelajaran tersebut diajarkan secara holistik sehingga pembelajaran masing-masing kelompok mata pelajaran mempengaruhi pemahaman dan penghayatan peserta didik.

Untuk memotivasi sikap dan perilaku siswa, pengertian dasar tentang pendidikan yang kembali ke alam harus diintegrasikan ke dalam keseluruhan kelompok mata pelajaran tersebut yang mengacu pada proses pembelajaran “student centered learning” yang mengarah pada kepentingan masa depan siswa sewaktu berkecimpung dalam pengabdian pada masyarakat. Jadi perlu dilengkapi dengan “community centered orientation”. Proses pembelajaran mengacu pada proses yang menyenangkan seluruh peserta didik dan berhasil guna melalui tingkat peran serta (partisipasi) seluruh pihak baik guru yang memberi maupun siswa yang menerima bekal bagi pengabdian yang mengarah pada falsafah kebangsaan dan kemanusiaan.

Dengan isi kurikulum yang merupakan susunan bahan kajian dan pelajaran untuk mencapai tujuan penyelenggaraan MTs Cicakal Garang, diharapkan dapat tercapai pula tujuan pendidikan nasional.

Pembelajaran

Metode pembelajaran yang dilaksanakan di MTs Alam Cicakal Garang sepenuhnya diserahkan kepada guru dengan mengacu kepada kondisi alam Cicakal Garang dan sekitar, budaya Baduy, dan buku ajar. Guru MTs Alam Cicakal Garang dituntut untuk dapat secara kreatif mengkombinasikan model pembelajaran reguler di kelas dengan model pembelajaran di luar kelas. Pelaksanaan proses pembelajaran lebih banyak dilaksanakan di luar kelas dengan prosentase 60% di luar kelas dan 40% di dalam kelas.

Media pembelajaran di MTs Alam Cicakal Garang disesuaikan dengan tema/pokok bahasan yang berasal dari alam Cicakal Garang dan sekitar.

Sumber belajar di MTs Alam Cicakal Garang diambil dari:

  1. Alam Cicakal Garang dan sekitar
  2. Buku Ajar

Salah satu strategi pembelajaran di madrasah alam adalah pembelajaran kooperatif dimana siswa dilibatkan bekerja secara berkolaborasi untuk mencapai tujuan bersama. Pembelajaran ini disusun dalam sebuah usaha untuk meningkatkan partisipasi siswa, memfasilitasi siswa dengan pengalaman sikap kepemimpinan, dan membuat keputusan dan kelompok, serta memberikan kesempatan kepada siswa untuk berinteraksi dan belajar bersama-sama siswa yang berbeda latar belakangnya. Jadi, dalam pembelajaran kooperatif, siswa berperan ganda yaitu berperan sebagai siswa dan juga berperan sebagai guru. Untuk mencapai tujuan bersama, maka siswa akan mengembangkan keterampilan berhubungan dengan sesama manusia yang akan bermanfaat bagi kehidupan di luar sekolah[13].

Pembelajaran di madrasah alam dapat dilakukan dengan mengacu kepada prinsip belajar untuk semua, fun learning, dan spider web[14].

Belajar dari Semua

Di Sekolah Alam, tidak hanya murid yang belajar. Gurupun belajar dari murid. Bahkan orang tua juga belajar dari guru dan anak-anak.
Di Sekolah Alam anak-anak tidak hanya belajar di kelas. Mereka belajar di mana saja dan pada siapa saja. Mereka belajar tidak hanya dari buku tapi dari apa saja yang ada di sekelilingnya. Dan yang jelas mereka belajar tidak untuk mengejar nilai, tapi untuk bisa memanfaatkan ilmunya dalam kehidupan sehari-hari. Dan di Sekolah Alam keseragaman bukan pada apa yang dikenakan, tapi pada akhlaknya.

Fun Learning

Belajar di alam terbuka, secara naluriah akan menimbulkan suasana ‘fun’, tanpa tekanan dan jauh dari kebosanan. Dengan demikian akan tumbuh kesadaran pada anak bahwa ‘learning is fun’ dan sekolah identik dengan kegembiraan. Namun sebagus apapun konsep yang disusun, tidak akan sempurna hasilnya tanpa guru yang berkualitas dan berdedikasi. Menjaga kualitas dan dedikasi hanya bisa dilakukan bila sang guru mempunyai visi pendidikan yang jelas dan memahami prinsip dasar bahwa setiap anak adalah individu yang unik. Untuk mencapai itu semua, Sekolah Alam menempatkan kesejahteraan guru sebagai prioritas utama.

Spider Web

Dalam pembelajaran di sekolah digunakan sistem Spider Web, di mana suatu tema diintegrasikan dalam semua mata pelajaran. Dengan demikian pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran bersifat integratif, komprehensif dan aplikatif. Sekaligus juga lebih ‘membumi’. Kemampuan dasar yang ingin dibangun adalah kemampuan anak untuk membangun jiwa keingintahuan, kemampuan melakukan observasi dan membuat hipotesa, serta kemampuan menerapkan metode berpikir ilmiah. Sehingga pengetahuan yang didapat bukan sekedar hafalan, tetapi hasil pengalaman dan penemuan mereka sendiri. Di sini anak juga diarahkan untuk memahami potensi dasar dirinya. Dan di sini, berbeda dengan guru itu bukan tabu.

Model pembelajaran kembali ke alam merupakan konsep baru tentang pendidikan yang menyatakan bahwa pendidikan berarti mengajarkan peserta didik bagaimana belajar, berbuat, berfikir, dan menyelidiki dengan langsung memanfaatkan alam sebagai salah satu sumber belajar. Berpijak pada pemikiran ini, maka posisi pendidik berada di tengah diantara peserta didik dan sumber belajar. Dalam sistem ini pendidik dipandang bukan sebagai satu-satunya sumber belajar. Peserta didik dituntut untuk dapat mencari sumber belajar sendiri baik dari teknologi maupun dari alam lingkungan belajar.

Dengan kata lain, model ini menekankan pada aspek kinerja siswa (contextual teaching and learning), maksudnya fungsi dan peran guru hanya sebagai mediator, siswa lebih proaktif untuk merumuskan sendiri tentang fenomena yang berkaitan dengan fokus kajian secara kontekstual bukan tekstual[15]. Konsep ini membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapan dalam kehidupan mereka sehari-hari. Konsep ini diharapkan dapat mengembangkan potensi peserta didik secara alamiah.

Sarana Pembelajaran

Sarana pembelajaran MTs Alam Cicakal Garang pada dasarnya sama dengan sekolah-sekolah pada umumnya. Gedung MTs dibangun sesuai dengan bangunan khas masyarakat yaitu berupa kelas panggung. Hal ini merupakan bagian dari titik tekan kekhasan yang melekat pada MTs Alam Cicakal Garang sehingga proses pendidikan dan pembelajaran akan selalu bernuansa alam, tradisi, dan budaya masyarakat Baduy Cicakal Garang.

Di samping dilaksanakan di dalam kelas penggung, proses pendidikan dan pembelajaran juga dilaksanakan di luar kelas. Tempat belajar siwa MTs Alam Cicakal Garang tersebar di 10 (sepuluh) titik, yaitu:

  1. Sampala
  2. Lapangan Binglu (lapangan di bawah pohon Binglu)
  3. Kebun Cengkeh
  4. Sawah Rancak Bodaan
  5. Gunung Bodaan
  6. Rumah Singgah
  7. Kampung  Baduy Cipiit
  8. Masjid
  9. Kobong

Saung


[1]Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab III Pasal 14 Ayat 1

[2]Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab I Ketentuan Umum Pasal 1

[3]Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab XV Peran Serta Masyarakat dalam Pendidikan Pasal 55

[4]John Watts, The School Within The Community, dalam Nicholas Foskett, Managing External Relations In Schools: A Practical Guide, London: Routledge, 1992, h. 147

[5]Komaruddin Hidayat, Merawat Keragaman Budaya, dalam Pendidikan Manusia Indonesia, Tonny D. Widiastono, Jakarta: Kompas, 2004, h. 97-99

[6]H.A.R. Tilaar, Pendidikan dan Kekuasaan: Suatu Tinjauan dari Perspektif Studi Kultural, Magelang: IndonesiaTera, 2003, h. 310. Lihat juga H.A.R. Tilaar, Pendidikan, Kebudayaan, dan Masyarakat Madani Indonesia: Strategi Reformasi Pendidikan Nasional, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1999.

[7]Tilaar, Pendidikan, Kebudayaan, …h. 67

[8]Maslikhah, Quo Vadis Pendidikan Multikultur: Rekonstruksi Sistem Pendidikan Berbasis Kebangsaan,diterbitkan atas kerjasama STAIN SALATIGA PRESS dengan JP BOOKS, 2007, h. 25-26

[9]H.A.R. Tilaar, Manifesto Pendidikan Nasional: Tinjauan dari Perspektif Postmodernisme dan Studi Kultural, Jakarta: Kompas, 2005, h. 122

[10]Suharsono, Mencerdaskan Anak, Melejitkan Dimensi Moral, Intelektual, dan Spiritual dalam Memperkaya Khasanah Batin dan Motivasi Kreatif Anak (IQ, IE, SQ), Depok: Inisiasi Press, 2003, h. 103.

[11]Watts, The School…, h. 147

[12]Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan Bab III Standar Isi Pasal 6 Ayat 1

[13]Trianto, Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik, Jakarta: Prestasi Pustaka, 2007, Cet. I, h. 5

[15]Trianto, Model-Model, …h. 101

4 thoughts on “Madrasah Alam Cicakal Garang

  1. Arie Kuncoro says:

    Pak, namanya mts cicakal girang bukan c.garang. Sukses pak, saya termasuk bagian dr sekolah tsb.

  2. Artikel menarik dan blog yang sangat edukatif plus bermanfaat..pokoknya T O P deh…
    Saya Kak Zepe…Salam Kenal…
    Saya juga punya tisp pendidikan kreatif…
    banyak lagu anak yang bisa dipakai untuk gerak
    dan lagu..dan masih banyak lagu anak-anak lainnya..
    Lagu2 saya sudah banyak dpakai di TK dan PAUD seluruh Indonesia..
    Mari berkunjung di blog saya
    Di http://lagu2anak.blogspot.com
    Kalau mau bertukar link, silakan lho…

  3. kamalfuadi says:

    Terima kasih sudah berkunjung ke blog saya. Salam kenal Kak Zepe. Kreatif sekali menciptakan lagu-lagu anak. Saya perlu banyak belajar dari anda. Mari berbagi Kak Zepe.

  4. kamalfuadi says:

    Mas Arie Kuncoro nyasar juga ke blog saya. Mungkin ada salah ketik. Naskah ini saya tulis untuk saya serahkan ke Puslitbang Pendidikan Keagamaan via Mas Khamami Zada. Seharusnya beberapa bulan yang lalu tim Puslitbang sudah berkunjung ke Cicakal Garang. Kabar dari Mas Khamami, katanya ada beberapa kendala teknis yang belum terselesaikan sehingga sampai sekarang belum ada kesempatan untuk berkunjung ke Cicakal Garang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: