Tan Hong Boen: Penulis Seribu Wajah*

2

April 1, 2012 by kamalfuadi


Tulisan ini pernah dimuat dalam “Dari Penjaja Tekstil Sampai Superwoman; Biografi Delapan Penulis Peranakan” yang ditulis oleh Myra Sidharta. Dimuat kembali di sini untuk keperluan pendidikan.

Bila disimak dalam buku Literature in Malay by the Chinese of Indonesia karya Claudine Salmon, hanya ada satu karya yang ditulis Tan Hong Boen dengan nama aslinya: karya itu adalah Orang Tionghoa yang Terkemoeka di Jawa (Who’s who), kumpulan data pribadi sejumlah orang Tionghoa Indonesia. Karya ini, yang diselesaikan pada 1935, sampai kini masih dianggap sebagai dokumen penting mengenai orang Tionghoa Indonesia pada masa itu, karena buku itu juga memaparkan latar belakang pendidikan dan keberhasilan mereka dalam masyarakat.

Tan Hong Boen (THB) suka memakai macam-macam nama samaran yang ia pilih menurut jenis tulisannya. Dengan nama Ki Hadjar Dharmopralojo ia telah menulis beberapa karya terutama adaptasi beberapa legenda Indonesia, seperti hikayat Raden Patah, putra seorang putri Tionghoa yang mendirikan kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa. Dalam karya lain, suatu roman mengenai gadis pribumi, ia mencantumkan nama samaran yang eksotis: Madame d’Eden Lovely (dalam karya ini ia memasukkan syair yang ditulis oleh Tu Fu, pujangga terkenal yang sudah ia terjemahkan). Tetapi nama pena favoritnya adalah Im Yang Tjoe, yang sering dipakai untuk novel-novelnya.

THB mulai menulis dengan nama pena tersebut sejak 1925 hingga 1950an, ketika ia berhenti menulis novel, dan mengkhususkan diri pada cerita wayang. Ia juga menggunakan nama samaran Ki Hadjar Sukowiyono menjelang akhir hidupnya. Waktu itu ia sudah tidak banyak menulis lagi dan menghabiskan waktu di rumahnya, yang berdekatan dengan pabrik farmasi yang didirikannya. Pada masa itu ia pun sangat tekun bermeditasi.

Dari dokumen yang ditemukan di Slawi, tempat tinggalnya, diketahui ia adalah putra Tuan dan Nyonya Tan Boen Keng dan dilahirkan pada 27 Februari 1905. Pendidikan formal yang pernah dikenyamnya tidak banyak diketahui. Meskipun demikian rupanya ia fasih berbahasa Tionghoa, Melayu, dan beberapa bahasa Barat seperti Inggris dan Belanda. Hal ini bisa dilihat dari seringnya ia mengutip karya-karya besar pujangga Eropa, seperti Shakespeare, Dante, dan Goethe. Pada waktu itu karya-karya tersebut belum diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu. Ia pun pernah berusaha menulis syair dan beberapa di antaranya dapat ditemukan dalam cerita-ceritanya.

Di samping itu ia pernah bekerja sebagai wartawan. Karena pekerjaannya itu ia sering mengembara ke Jawa dan Bali sambil mengumpulkan bahan untuk surat kabar dan cerita-ceritanya. Setelah kembali ke rumah, ia menyelesaikan ceritanya dan mengirimkan ke majalah-majalah Liberty dan Penghidoepan. Mungkin ia juga pernah tinggal di beberapa tempat lain pada awal karir kewartawanannya, karena dalam buku-buku yang ditulisnya tercantum alamat-alamat, seperti Yogyakarta, Wonosobo, Salatiga, bahkan Kediri, dan di lereng Gunung Wilis Jawa Timur.

Pada 1929 ia membuat majalah sastra di Semarang dengan nama Boelan Purnama. Setiap bulan tanggal lima belas penanggalan Imlek, saat bulan purnama, ia menerbitkan roman. Dalam pengantar untuk penerbitan ini ia menjelaskan tujuannya, yaitu memberi bacaan yang terbaik kepada masyarakat. Kebanyakan roman ini ditulis oleh THB sendiri, tetapi ada juga beberapa pengarang terkenal lain, seperti Njoo Cheong Seng yang menulis dengan nama pena Monsieur d’Amour, dan Tan King Tjan. Bahkan ada penulis pribumi RP Tjondrowinoejoeng dan seorang Jepang dengan nama Harakawa Mashida.

Setelah satu tahun, alamat Boelan Poernama pindah ke Bandung tanpa alasan yang jelas. Membaca surat-surat pembaca yang datang dari Makassar dan Palembang, bahkan sampai Irian, popularitas majalah tersebut tampaknya menanjak.

Meskipun demikian, publikasi terbitan itu berhenti sesudah nomor 4 tahun 1932, sekalipun ada pemberitahuan di salah satu nomor bahwa oplah majalah telah bertambah menjadi 10.000 eksemplar. Tampaknya ada alasan-alasan lain di luar urusan keuangan yang biasanya menamatkan riwayat publikasi berkala.

Salah satu alasan lain adalah kurangnya naskah yang diterima redaksi. Kalau disimak, empat nomor terakhir memang hanya memuat cerita pendek yang semua ditulis oleh THB sendiri dengan nama samaran Im Yang Tjoe dan Ki Hadjar Dharmopralojo. Alasan lain mungkin adalah keterlibatan THB dalam urusan politik.

Kemudian THB menjadi Pemimpin Redaksi Harian Soemanget di Bandung antara 1929 dan 1932. Pada saat bersamaan ia juga sebagai ketua The Biographical Publishing Centre di Solo. Pada 1932 ia dipenjara oleh pemerintah kolonial bersama Ir. Soekarno di Sukamiskin Bandung.

Pada 1933 ia menerbitkan biografi Ir. Soekarno, yang ditawan oleh Belanda karena aktivitasnya yang antipemerintah. Pada 1935 namanya muncul untuk yang terakhir kali dalam terbitan sebelum PD II, yaitu Orang-orang Tionghoa Terkemoeka di Java (Who’s Who) yang diterbitkan di Solo.

Sesudah PD II THB mencoba untuk kembali menjadi novelis dengan menerbitkan cerita-ceritanya dalam bulanan sastra seperti Goedang Tjerita, Tjilik’s Romans, dan Tjantik, bersama dengan Njoo Cheong Seng dan Tan Liep Poen, dua pengarang peranakan yang terkenal pada masa itu. Beberapa cerita pendeknya kemudian muncul di Star Weekly, majalah yang terkemuka pada saat itu. Karyanya yang terakhir adalah cerita wayang. Cerita ini mula-mula dimuat di Pantjawarna dan kemudian dibukukan dan diterbitkan sendiri atau melalui penerbit di Surabaya.

Pada masa itu, THB terkenal sebagai orang bijak yang sering menghabiskan waktu untuk bersemadi. THB juga gemar berolahraga dan sering dijumpai bersepeda dengan mengenakan short dan t-shirt putih, berkunjung ke Solo dan Yogyakarta. Kadang-kadang ia berjalan-jalan pagi dengan seorang teman di kebun the di Slawi, sambil berdiskusi tentang isu-isu penting pada masa itu. Sering juga ia menantang pemuda-pemudi di Slawi untuk bermain badminton. Dia juga pandai mengisahkan cerita wayang, yang dikumpulkan dari hasil kunjungannya ke seluruh tanah air.

Pernikahannya dengan perempuan pilihan orang tua sangt harmonis. Istrinya sangat setia, tetapi mereka tidak dikaruniai anak. THB mempunyai pengetahuan tentang obat-obatan tradisional Indonesia. Salah satunya, yang dijual dengan nama Pil Kita, sangat populer, terutama setelah PD II, ketika permintaan untuk obat tradisional bertambah banyak. Pil Kita adalah sejenis vitamin yang sangat laris di kampung-kampung, pembelinya terutama para pengemudi truk, yang merasa kuat setelah meminumnya.

Pada akhir 1970-an, untuk memenuhi permintaan konsumen ia mendirikan pabrik dengan nama PT Marguna Tarulata APK Farma. Pabrik ini dilengkapi dengan mesin-mesin modern untuk pembuatan obat dan kemasannya. Sampai sekarang pabrik itu masih berdiri di Slawi.

Ketika wafat THB meninggalkan surat wasiat untuk saudara-saudaranya dan teman-temannya agar mendirikan suatu yayasan. Yayasan ini akan memberikan beasiswa kepada anak-anak muda pilihan yang berbakat dari semua suku bangsa agar bisa melanjutkan pendidikan. Yayasan itu, yang dikelola oleh dua keponakannya (yang satu telah meninggal), dibiayai lewat 40 persen keuntungan saham pabriknya.

September 1984, satu tahun setelah THB meninggal, yayasan ini telah memberikan beasiswa kepada 45 murid sekolah dasar 17 murid SMP dan 8 murid SMA dari Slawi dan sekitarnya. Angka-angka 17, 8, dan 45 ini bermakna untuk memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.

Pada 1933 THB bertemu dengan Ir. Soekarno ketika mereka bersama-sama dipenjara karena soal politik. THB sangat mengagumi idealisme dan tujuan perjuangan Soekarno, yaitu kemerdekaan Indoenesia dari penjajahan Belanda. THB memutuskan untuk menulis biografi tokoh yang luar biasa ini, suatu keputusan yang sangat berani, mengingat buku ini diterbitkan sesudah Ir. Soekarno meniggalkan Penjara Sukamiskin dan masih diawasi oleh Pemerintah Hindia Belanda. THB tidak menulis banyak tentang keterlibatan politik Soekarno, kecuali pidato pembelaan dirinya di depan pengadilan. Meskipun  pembelaan ini sangat cerdas, Soekarno tetap dijatuhi hukuman empat tahun.

THB adalah pengarang seribu wajah (serba bisa). Ia menulis banyak karya dengan jenis yang berbeda-beda, seperti novel, cerita pendek, biografi, dan cerita wayang. Dalam cerita-cerita ini ia sering menulis syair-syair, baik yang diterjemahkan dari bahasa Tionghoa atau Inggris maupun yang diciptakan sendiri. Cerita-ceritanya sering merupakan cerita cinta yang dihalangi orang tua karena salah satu pihak berasal dari keluarga miskin. Tetapi cerita-cerita itu mencerminkan kedalaman, karena kecenderungannya untuk berfilsafat dan mencari makna hidup. THB berhenti menulis pada 1950-an, seperti banyak pengarang peranakan yang lain, karena minat masyarakat terhadap tulisan mereka mulai memudar. Ia menghabiskan sisa hidup di pabrik farmasinya.

2 thoughts on “Tan Hong Boen: Penulis Seribu Wajah*

  1. dyah says:

    Informasi yg cukup lengkap u memperkenalkan sosok THB, dua jempol, izin share di medsos ya…terimakasih

  2. kamalfuadi says:

    Silakan mbak🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: