Sertifikasi, Uji Kompetensi Berkala, dan Punishment bagi Guru

Leave a comment

November 10, 2012 by kamalfuadi


Menurut Undang-Undang Republik Indonesia No 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen, sertifikasi adalah proses pemberian sertifikat pendidik untuk guru dan dosen. Sertifikasi pendidik adalah bukti formal sebagai pengakuan yang diberikan kepada guru dan dosen sebagai tenaga professional. Berdasarkan pengertian tersebut, sertifikasi guru dapat diartikan sebagai suatu proses pemberian pengakuan bahwa seseorang telah memiliki kompetensi untuk melaksanakan pelayanan pendidikan pada satuan pendidikan tertentu.

Sertifikasi guru merupakan amanat Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sisdiknas dalam Pasal 61 yang menyatakan bahwa sertifikat dapat berbentuk ijazah dan sertifikat kompentensi yang diperoleh dari penyelenggaraan pendidikan dan lembaga pendidikan setelah lulus uji terakreditasi yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan yang terakreditasi atau lembaga pelatihan. Hakikat dari sertifikasi guru adalah untuk mendapatkan guru yang baik dan profesional, yang memiliki kompetensi untuk melaksanakan fungsi dan tujuan sekolah khususnya serta tujuan pendidikan pada umumnya sesuai kebutuhan masyarakat dan tuntutan zaman.

Program sertifikasi guru mulai digulirkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sejak tahun 2006, yang pelaksanaannya mulai dilakukan tahun 2007, sebagai impelementasi dari pelaksanaan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen. Kemendikbud sendiri menargetkan bahwa seluruh guru sudah bersertifikasi profesi pendidik pada tahun 2005.

Namun demikian, data NUPTK tahun 2011 menunjukkan bahwa total guru di Indonesia dari tingkat TK hingga SMA/SMK berjumlah 2.791.204. Sekitar 800.000 guru lainnya berada dalam binaan Kementerian Agama. Secara kualifikasi akademik, dari 2.791.204 guru binaan Kemdiknas, sebanyak 1.540.413 atau sekitar 55,19% belum memiliki kualifikasi akademik S1 atau D-IV. Sedangkan guru yang sudah memiliki sertifikasi pendidik baru sebanyak 746.727 orang atau sekitar 27%.

Mengacu pada Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) dan UU Guru dan Dosen, untuk menegakkan standar kompetensi guru, pemerintah menyelenggarakan program sertifikasi guru. Secara lebih rinci acuan pelaksanaan sertifikasi guru itu dituangkan dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru.

Dalam PP tersebut disebutkan bahwa sertifikasi guru bertujuan untuk 1) menentukan kelayakan guru dalam melaksanakan tugas sebagai agen pembelajaran dan mewujudkan tujuan pendidikan nasional; 2) peningkatan proses dana mutu hasil pendidikan; dan 3) peningkatan profesionalitas guru. Sejumlah manfaat pelaksanaan sertifikasi guru di antaranya adalah 1) melindungi profesi guru dari praktik-praktik yang tidak kompeten, yang dapat merusak citra profesi guru; 2) melindungi masyarakat dari praktik-praktik pendidikan yang tidak berkualitas dan tidak profesional; 3) menjaga LPTK dari keinginan internal dan tekanan eksternal yang menyimpang dari ketentuan-ketentuan yang berlaku; dan 4) meningkatkan kesejahteraan guru.

Pada tahap awal, pelaksanaan sertifikasi guru dilakukan melalui penilaian protofolio dan PLPG (Pendidikan dan Latihan Profesi Guru). Namun karena sejumlah penelitian membuktikan bahwa guru-guru yang lulus portofolio ternyata tidak memberikan peningkatan kinerja yang signifikan, maka mulai tahun 2011, sekitar 99% pelaksanaan sertifikasi guru dilakukan melalui PLPG. Hanya sekitar 1% yang dilaksanakan melalui penilaian portofolio dan PSPL (Pemberian Sertifikat Pendidik secara Langsung), yang terutama disediakan bagi guru-guru berprestasi dan guru-guru yang berkinerja baik. Selain itu, untuk menjunjung tinggi transparansi dan akuntabillitas, mulai tahun 2011 proses penetapan dan pendaftaran peserta melalui sistem NUPTK online.

Pusat Pengembangan Profesi Pendidik Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menetapkan 3 (tiga) pola sertifikasi guru, yaitu Penilaian Portofolio (PF), Pemberian Sertifikat Pendidik Secara Langsung (PSPL), dan Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG). Sertifikasi guru pola PF diperuntukkan bagi guru dan guru yang diangkat dalam jabatan pengawas satuan pendidikan yang 1) memiliki prestasi dan kesiapan diri untuk mengikuti proses sertifikasi melalui pola PF, 2) tidak memenuhi persyaratan dalam proses PSPL.

Penilaian portofolio dilakukan melalui penilaian terhadap kumpulan berkas yang mencerminkan kompetensi guru. Komponen penilaian portofolio meliputi 1) kualifikasi akademik, 2) pendidikan dan pelatihan, 3) pengalaman mengajar, 4) perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran, 5) penilaian dari atasan dan pengawas, 6) prestasi akademik, 7) karya pengembangan profesi, 8) keikutsertaan dalam forum ilmiah, 9) pengalaman organisasi di bidang kependidikan dan sosial, dan 10) penghargaan yang relevan dengan bidang pendidikan.

Pola PSPL untuk guru dan guru yang diangkat dalam jabatan pengawas satuan pendidikan yang memiliki 1) kualifikasi akademik magister (S2) atau doktor (S3) dari perguruan tinggi terakreditas dalam bidang kependidikan atau bidang studi yang relevan dengan mata pelajaran yang diampunya, atau guru kelas dan guru bimbingan dan konseling atau konselor, dengan golongan sekurang-kurangnya IV/b atau yang memenuhi angka kredit kumulatif setara dengan golongan IV/b; 2) golongan serendah-rendahnya IV/c atau memenuhi angka kredit kumulatif setara golongan IV/c.

Sedangkan sertifikasi guru pola PLPG diperuntukkan bagi guru dan guru yang diangkat dalam jabatan pengawas satuan pendidikan yang 1) memilih langsung mengikuti PLPG; 2) tidak memenuhi persyaratan PSPL dan memilih PLPG; dan 3) tidak lulus penilaian portofolio. PLPG harus dapat memberikan jaminan terpenuhinya standar kompetensi guru. Beban belajar PLPG sebanyak 90 jam pembelajaran. Model Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, dan Menyenangkan (PAIKEM) disertai workshop Subject Specific Pedagogic (SSP) untuk mengembangkan dan mengemas perangkat pembelajaran.

Kendati secara konsep program sertifikasi guru sudah dirancang dengan baik, namun dalam pelaksanaannya memunculkan sejumlah masalah yang bisa mendegradasi esensi dan tujuan program mulia tersebut. Beberapa persoalan yang menonjol antara lain belum terjadinya peningkatan kinerja yang siginifikan guru yang sudah bersertifikat, pola rekrutmen di tingkat daerah yang cenderung tebang pilih alias tidak transparan, dan tidak terpenuhinya persyaratan minimal jam mengajar tatap muka minimal 24 jam per minggu.

Kinerja guru-guru bersertifikat ini, menurut penulis, harus diawasi dan bila perlu diuji secara berkala. Karena tidak menutup kemungkinan guru-guru yang sudah bersertifikat malah mengalami penurunan kinerja. Proses pengawasan dan ujian ini akan membantu agar guru-guru bersertifikat tetap menjaga kinerjanya agar stabil atau bahkan terus meningkat.

Mengenai adanya sebagian tunjangan profesi yang justru digunakan untuk hal-hal yang bersifat konsumtif, bukan untuk pengembangan kompetensinya, menurut hemat penulis hal itu manusiawi karena guru pun memiliki kebutuhan hidup yang harus dipenuhi. Hal yang menurut penulis penting adalah bagaimana hal-hal yang konsumtif tersebut tidak menutupi kinerja pasca guru-guru tersebut tersertifikasi. Justru dengan terpenuhinya kebutuhan hidup guru, seharusnya mereka semakin terpacu untuk meningkatkan kuliatas kinerjanya.

Selain adanya proses pengawasan dan uji berkala, perlu ada semacam punishment bagi guru yang kualitas kinerjanya menurun setelah bersertifikat. Jangan sampai guru-guru memiliki pandangan bahwa sertifikasi dan kesejahteraan berupa besaran tunjangan menjadi tujuan mereka. Kesejahteraan hanyalah konsekuensi dari adanya profesionalisme yang ditunjukkan melalui unjuk kerja yang baik. Bentuk punishment yang dapat diterapkan misalnya dengan pengurangan besaran tunjangan dan bentuk kesejahteraan lainnya bagi guru yang mengalami penurunan kinerja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: