Mengkritisi Kurikulum 2013

5

April 26, 2013 by kamalfuadi


ImagePemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengambil keputusan untuk mengubah (lagi) kurikulum pendidikan dari Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) menjadi Kurikulum 2013. KTSP yang mulai diterapkan tahun 2006 sebagai hasil evaluasi atas Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang diterapkan tahun 2004 secara resmi akan diganti pada tahun ajaran baru.

Sebagai salah satu perangkat atau instrumen pendidikan, kurikulum bukan harga mati. Evaluasi dan perubahan atas kurikulum adalah suatu keniscayaan bahkan keharusan. Setiap kurikulum pasti dilakukan penggantian, perubahan, perbaikan, pengembangan, penyempurnaan, atau apa pun namanya. Kalau ada kurikulum yang tidak pernah dikembangkan sudah dapat dipastikan akan “ditinggal” oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Jika menilik sejarah pembentukan kurikulum sejak tahun 1945 sampai sekarang (67 tahun), kurikulum pendidikan Indonesia telah berganti sebanyak sembilan kali. Kalau direrata, pergantian kurikulum terjadi setiap 7,5 tahun. Di zaman Orde Lama terdapat tiga kurikulum; tahun 1947, tahun 1952, dan tahun 1964. Di zaman Orde Baru lahir empat kurikulum; tahun 1968, tahun 1975, tahun 1984, dan tahun 1994. Pada masa reformasi lahir dua kurikulum; tahun 2004 dan tahun 2006.

Pada masa Orde Lama, kurikulum menjadi manifestasi kebijakan negara. Sifatnya patriotik dan politis, sejalan dengan kondisi masa itu di mana politik sebagai panglima. Di masa Orde Baru kurikulum ditekankan lebih pada penciptaan lapangan kerja atau pabrik sumber daya manusia. Kurikulum menjadi faktor penunjang ekonomi stabilitas politik dan keamanan, sejalan dengan penegasan pemerintah  di mana pertumbuhan ekonomi sebagai panglima. Di masa reformasi, kurikulum kehilangan arah, bahkan terasa serba mendua (halaman 129).

Keputusan pemerintah untuk mengubah kurikulum dari KTSP menjadi Kurikulum 2013 telah mengundang reaksi banyak pihak. Untuk mendalami perubahan kurikulum ini, Forum Mangunwijaya ke-7 menggelar diskusi di Yogyakarta yang dihadiri oleh para pakar dan praktisi pendidikan. Tulisan-tulisan yang dipaparkan dalam diskusi tersebut bersama dengan tulisan-tulisan lain yang menyoroti perubahan kurikulum dikumpulkan dalam satu buku dalam rangka menyambut pemberlakuan kurikulum baru bernama Kurikulum 2013.

Buku ini memuat karya 32 artikel tentang diskursus perubahan kurikulum pendidikan di Indonesia. Secara umum, tulisan-tulisan dalam buku ini dibagi menjadi dua. Pertama, artikel yang ditulis saat Kurikulum 2013 masih menjadi wacana. Kedua, artikel yang ditulis pascaselesainya penyusunan Kurikulum 2013 dan masa uji coba kurikulum baru.

Perubahan kurikulum pada tahun ajaran baru 2013 nanti dipandang terlalu terburu-buru karena dalam kurun waktu kurang dari sepuluh tahun terjadi tiga kali pergantian kurikulum. KTSP yang sudah berjalan selama enam tahun pun belum menunjukkan hasil yang menggembirakan. Alih-alih menunjukkan hasil, jika mengacu kepada hasil survey internasional peringkat pendidikan Indonesia berada pada posisi yang rendah. Berdasarkan data TIMSS (Trends in International Math and Science Survey) hanya 1% siswa Indonesia yang memiliki kemampuan berpikir advanced (mengolah informasi, membuat generalisasi, menyelesaikan masalah non rutin, mengambil kesimpulan data). Bandingkan dengan siswa Taiwan, Korea Selatan, dan Singapura yang mencapai rata-rata di atas 40%. Sedihnya, 78% siswa Indonesia memiliki kemampuan berpikir rendah dan di bawah minimal atau Lower Thinking Order Skills (LOTS) (halaman 17).

Proses belajar yang ada di sekolah-sekolah di Indonesia selama ini terlalu berorientasi akademik melalui hafalan, latihan berulang/drilling, instruksi terstruktur, dan pengajaran satu arah. Orientasi ini mengarahkan siswa hanya untuk mendapat nilai bagus. Artinya sejak kecil kemampuan berpikir manusia Indonesia dibentuk hanya untuk berpikir rendah; tepatnya, keterampilan memori jangka pendek (lupa setelah ujian). Kondisi ini tergambarkan dalam praktik Ujian Nasional (UN). Jika kurikulum berubah namun praktik UN masih berjalan sebagaimana sekarang, maka hampir dapat dipastikan jika hasil dari proses pembelajaran akan sama saja.  

Jika pemerintah sering disebut tidak mengungkapkan hasil evaluasi KTSP sebagai bahan kebijakan penyusunan Kurikulum 2013, para pakar dan praktisi pendidikan dalam buku ini dengan begitu jeli mengungkapkan berbagai pandangan evaluatif mereka mengenai KTSP. Pelaksanaan KTSP di lapangan masih jauh panggang dari api. Banyak sekolah yang memiliki format KTSP sangat bagus, sangat ideal, dan juga lengkap, namun di lapangan KTSP ini hanya menjadi sekadar pajangan. KTSP hanya menjadi dokumen tertulis pelengkap administrasi atau untuk keperluan akreditasi sekolah. Dari sini dapat dipahami jika KTSP yang begitu baik isinya dan memang di berbagai sekolah ditulis dengan baik, tetapi tidak banyak mengubah perkembangan mutu pendidikan. Masalah lain yang banyak mendapat sorotan adalah masalah mengenai guru sebagai penerjemah kurikulum di sekolah. Sebaik apa pun kurikulum disusun jika tidak ditangani oleh guru yang baik akan menjadi percuma. Maka kompetensi dan kualitas guru patut menjadi perhatian, bahkan harus terlebih dahulu diperhatikan sebelum kurikulum.

Perubahan pada kurikulum yang banyak mendapat sorotan para pakar dan praktisi pendidikan di buku ini adalah struktur kurikulum 2013 yang lebih ramping dengan mengurangi jumlah mata pelajaran untuk tingkat SD di mana IPA, IPS, Muatan Lokal, dan Kepribadian tidak lagi tercantum sebagai mata pelajaran, tetapi kontennya diorganisasikan dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia, PPKn, Matematika, dan Agama. Pengintegrasian ini dinilai hanya akan mengaburkan substansi dari mata pelajaran IPA dan IPS yang seharusnya menjadi dasar bagi siswa dalam menumbuhkan budaya menalar secara saintifik sejak dini. Selain itu, pemerintah juga berencana mewajibkan kegiatan Pramuka sebagai ekstrakurikuler wajib, baik di SD, SMP maupun SMA. Mewajibkan Pramuka ini bertentangan dengan sifat sukarela yang tercantum dalam Pasal 20 Ayat 1 UU No. 12 Tahun 2010 Tentang Gerakan Pramuka.

Sebenarnya tidak menjadi soal bahwa kurikulum setiap sekian waktu harus dilihat dan dikritisi apakah sungguh masih mengembangkan pendidikan atau tidak. Bila tidak maka perlu diubah sehingga menjadi cocok. Karena tidak ada kurikulum yang sekali jadi untuk selamanya, tetapi selalu berubah karena siswa berubah, zaman berubah, kepentingan orang berubah, dan politik pemerintah pun berubah. Hal yang perlu mendapat perhatian adalah perubahan kurikulum itu harus ke mana? Apa yang harus dibenahi? Pembenahannya harus ke arah mana?. Di sini diperlukan penelitian dan diskusi agar mendapat banyak masukan dan perubahannya memenuhi harapan bersama.

Terlepas dari berbagai kesalahan pengetikan yang cukup mengganggu, di tengah berbagai persiapan pelaksanaan Kurikulum 2013, buku ini menjadi semacam kajian penyeimbang bagi siapa saja yang memiliki concern dengan dunia pendidikan. Buku ini memberikan sumbangsih pemikiran bagi para pemangku kebijakan dan para guru di lapangan agar tetap memperhatikan hal-hal yang substansial dari kemunculan kurikulum baru. Hal-hal teknis dari kurikulum yang selama ini menyita perhatian guru di lapangan semestinya tidak lagi mengalihkan para guru untuk dapat menjadi garda terdepan yang mampu menerjemahkan isi kurikulum dengan baik.

Judul               : Menyambut Kurikulum 2013

Editor             : A. Ferry T. Indratno

Penerbit         : Kompas

Terbit             : Maret 2013

Tebal              : xix+246 halaman

Harga              : Rp. 54.000,-

ISBN                : 978-979-709-699-1

5 thoughts on “Mengkritisi Kurikulum 2013

  1. Nah, kuntuk para guru perlu memahami kurikulum nih, terutama anak tarbiyah ya h suhu pendidikan ka kamal.
    Jadi evaluasi KTSP belum di share ya ka?
    Menarik untuk dibaca,

  2. kamalfuadi says:

    tentu, mereka garda terdepan yang akan menerjemahkan formulasi kurikulum

  3. sampean pasti garda terdepan,

  4. pheeby1972 says:

    ijin pasang link gan

  5. Assalamualaikum,ya benar sekali apa anda tulis tersebut,sebenarnya untuk kurikulum itu tidak perlu adanya perubah tetapi kurikulum yang ada sekarang seharusnya lebih dikonsep kepada seorang pendidik agar konsep itu dapat dijalankan,akan tetapi apabila semua itu tidak dapat dijalankan sama saja antara satu kurikulum yang satu dengan yang lainnya akan menjadi kurikuluim yang belum beruntung saja,dalam implementasi nya,jadi ringkasnya bahwa gurulah yang menjadi penunjang keberhasilaan suatu kurikulum bukan dari kurikulumnya…sekali lagi bukan dari kurikulumnya,semuanya tergantung dari guru atau pendidiknya,dan pemerintah yang berwenag juga melihat apa yang meneybabkan kurikulum tersebut tidak terlaksana dengan baik…maaf apabila ada salah2 kata..Wassaallamaulaikum wr.wb

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: