Menuju Miangas, Beranda Indonesia di Utara

3

September 20, 2014 by kamalfuadi


Di sela-sela proses penyelesaian tugas akhir (tesis) pada Program Pascasarjana Universitas Indonesia (UI), salah seorang teman kuliah, Ahmad Junaidi, mengabari saya mengenai rencana penelitian di Pulau Miangas, salah satu pulau Tertinggal, Terluar, dan Terdepan (3T) Indonesia di bagian utara. Saya langsung mengiyakan ajakan Jun, panggilan akrab Ahmad Junaidi. Jauh-jauh hari ia sudah menginformasikan rencana penelitian ini. Namun waktu keberangkatan belum pasti. Perjalanan menuju Miangas tentunya akan menjadi perjalanan yang menarik. Seketika terlintas di pikiran saya lirik jingle iklan mie instan Indomie “Dari Sabang sampai Merauke, Dari Miangas ke Pulau Rote”. (Tentunya tidak sambil makan Indomie).

miangasPulau Miangas termasuk ke dalam Kecamatan Khusus Kepulauan Miangas, Kabupaten Talaud, Provinsi Sulawesi Utara. Miangas berbatasan dengan negara tetangga Filipina. Miangas adalah salah satu pulau dari gugusan Kepulauan Nanusa. Pulau ini merupakan salah satu pulau terluar Indonesia sehingga rawan masalah perbatasan, terorisme serta penyelundupan. Belanda menguasai pulau ini sejak tahun 1677. Filipina sejak 1891 memasukkan Miangas ke dalam wilayahnya. Miangas dikenal dengan nama La Palmas dalam peta Filipina.

Perjalanan menuju Miangas dari Jakarta terlebih dahulu ditempuh dengan perjalanan udara menuju Manado dalam waktu 2 (dua) jam. Dari Manado perjalanan dilanjutkan melalui jalur laut. SediaIMG_20130428_110707nya kapal yang akan kami naiki adalah kapal Meliku Nusa. Namun karena salah informasi, rencana berubah. Dari pelabuhan Manado kami membeli tiket kapal ferry eksekutif menuju pelabuhan Tahuna. Tiket kapal kami tebus dengan harga Rp. 195.000,-. Kapal ini berangkat pukul 12.00 dan dijadwalkan tiba di pelabuhan Tahuna pukul 19.00. Sebenarnya kapal ini bisa menempuh perjalanan lebih cepat. Namun karena harus singgah di beberapa pulau, perjalanan menjadi lebih lambat. Kapal cepat ini membuat Jun mual. Mukanya tampak pucat. Rupanya ia mulai mabuk laut. (Saya pikir nenek moyangnya bukan pelaut).

Meraba IndonesiaKami tiba di pelabuhan Tahuna pukul 19.00. Berdasarkan informasi yang kami terima, kapal Perintis Meliku Nusa akan tiba di Tahuna pada pukul 23.00. Kami menghabiskan waktu di pelabuhan Tahuna untuk beristirahat dengan tidur di kursi ruang tunggu. Tak lama kemudian Meliku Nusa berlabuh. Saya baru sadar, Meliku Nusa adalah kapal yang membawa wartawan senior Farid Gaban dan Ahmad Yunus menuju Miangas sebagaimana mereka tuliskan dalam buku “Meraba Indonesia” terbitan Serambi tahun 2011. (Kami tidak “gila” sebagaimana kedua wartawan itu yang melakukan ekspedisi gila keliling nusantara menaiki sepeda motor WIN100 yang dimodifikasi menjadi motor trail).

Kami menyewa salah satu kamar Anak Buah Kapal (ABK). Kamar ini kami tebus dengan harga Rp. 300.000 (sudah termasuk tiket kapal untuk satu kali perjalanan). Kamar ini berisi 2 (dua) ranjang susun layaknya asrama pelajar atau mahasiswa. Kami sengaja menyewa kamar ABK agar dapat beristirahat. Penumpang lain, yang juga menuju Miangas dan pulau-pulau lain, memilih beristirahat di geladak kapal atau di kursi-kursi. Geladak kapal memang tak nyaman buat kami. Baunya tak sedap.

IMG_20130429_120409

Entah sudah berapa pulau yang kami singgahi. Meliku Nusa singgah selama 1-2 jam. Ada penumpang yang turun dan naik kapal. Mereka yang turun membawa barang belanja bulanan berupa beras, telur, bumbu, dan barang-barang kebutuhan mereka lainnya.

Saat baru bangun tidur di malam pertama perjalanan menuju Miangas saya gembira karena di awal perjalanan Jun mengatakan bahwa perjalanan menuju Miangas dengan kapal membutuhkan waktu sehari semalam. Saat bertanya kepada salah satu ABK yang kami kenal, ia menyatakan bahwa perjalanan menuju Miangas masih harus ditempuh sehari semalam lagi. Sehingga total perjalanan menuju Miangas dengan menggunakan Meliku Nusa membutuhkan waktu 2 (dua) hari 2 (dua) malam. (Sambil tertunduk lesu, saya memutuskan untuk tidur lagi).

Awalnya kami berencana untuk menginap di Miangas selama 2 (dua) atau 3 (tiga) hari. Rencana berubah karena ternyata kapal yang bisa membawa kami kembali dari Miangas menuju Manado hanya Meliku Nusa. Itu pun harus menunggu 1 (satu) atau 2 (dua) minggu tergantung kondisi cuaca. Kami langsung menghubungi nomor Camat Miangas bernama Steven. Beruntung kami langsung terhubung dengan Pak Steven. Kami menyampaikan maksud kedatangan ke Miangas. Pak Steven sedang berada di Kepulauan Talaud, sehingga keperluan kami akan ditangani oleh staf Kecamatan Khusus Pulau Miangas dan tokoh masyarakat Miangas.

Kami tiba di Miangas pukul 02.00 dini hari. Sejumlah staf Kecamatan Khusus Pulau Miangas menyambut kami. Penumpang Meliku Nusa bergegas menurunkan barang-barang belanja mereka. Masyarakat Miangas yang sebagian besar bekerja sebagai nelayan sudah mulai beraktivitas. ABK memberi tahu kami bahwa Meliku Nusa akan berangkat lagi dari Miangas pada pukul 06.00.

IMG_20130430_054431Setelah menginjakkan kaki di Pulau Miangas dan melakukan wawancara dengan staf Kecamatan dan tokoh masyarakat Miangas, kami jadi tahu bahwa fasilitas yang serba terbatas membuat Pulau Miangas yang terbentang jauh sekitar 320 mil laut dari Kota Manado, Sulawesi Utara, menjadi tertinggal. Harga BBM mahal, kapal yang hanya 1 (satu) atau 2 (dua) minggu sekali singgah, sinyal telepon yang tersendat-sendat, dan listrik yang belum 24 jam menyala adalah kondisi yang ada di sana. Pergerakan ekonomi warga di sana pun menjadi terseok-seok. Padahal, Miangas sangat berpotensi untuk menjadi tujuan wisata dan penghasil kopra.

Pulau Miangas memiliki masing-masing satu sekolah dasar, sekolah menengah pertama, dan sekolah kejuruan kelautan.
Namun tenaga pendidik dan kependidikan di Miangas sangat minim. Sebenarnya semangat pendidikan warga Miangas tinggi, hanya kendalanya sangat banyak.

Soal kesehatan juga mengalami kondisi yang tidak jauh berbeda. Fasilitas dan tenaga kesehatan yang minim menyebabkan masyarakat kesulitan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan saat mereka sakit. Bahkan banyak masyarakat yang meninggal di tengah perjalanan menuju Manado untuk mendapatkan pelayanan kesehatan.

IMG_20130430_054555Cuaca yang buruk memang kerap menjadi halangan yang menyebabkan kapal tidak bisa melaut. Angin kencang dan gelombang laut yang tinggi memang sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Miangas. Namun sebenarnya bukan itu yang mereka keluhkan. Bagi masyarakat Miangas, transportasi yang memadai adalah mimpi mereka untuk bisa merasa lebih dekat dengan wilayah Indonesia lainnya, bukan Filipina.

Secercah harapan dengan rencana dibangunnya bandara perintis pun bisa menjadi cambuk semangat masyarakat Miangas. Pembebasan lahan landasan perintis seluas 1200×175 meter persegi di atas areal kebun kelapa saat ini masih berlangsung. Namun hingga kedatangan kami di Miangas, pembebasan tanah menjadi persoalan yang kunjung belum terselesaikan.

Tak terasa, waktu menunjukkan pukul 06.00. Sirine Meliku Nusa sudah meraung tanda kami harus segera merapat.

IMG_20130430_055100Sesampai di kamar ABK yang sebelumnya kami sewa, kamar sudah dipenuhi tas dan penumpang lain. Kami lupa untuk menyewa kamar untuk perjalanan dari Miangas menuju Manado. Perjalanan yang membutuhkan waktu kurang lebih 3 (tiga) hari ini akhirnya harus kami lewatkan di dak kapal tanpa alas untuk tidur. Ini adalah pengalaman pertama tidur di dak kapal tanpa alas sambil memandangi laut lepas yang seolah tanpa ujung dan bintang-bintang bertebaran di langit. (Dalam perjalanan dari Miangas, kami tidak diminta biaya. Kami baru tahu saat sampai di Talaud bahwa kami dikira rombongan ekspedisi nusantara bersama anggota Kopassus, marinir, dan tentara PAMTAS (Pasukan Pengaman Perbatasan). Selama dalam perjalanan di kapal, kami memang lebih banyak mengobrol dengan rombongan mereka. Rupanya ini yang menyebabkan kami tidak perlu membayar tiket kapal).

IMG_20130430_122610Sebelum sampai di Kepulauan Talaud. Kami sempat singgah di pulau Marampit di seberang pulau tempat Meliku Nusa berlabuh. Kami sengaja singgah karena Meliku Nusa baru akan berangkat lagi pada pukul 18.00. Waktu saat itu menunjukkan pukul 12.00. Kami mengikuti salah satu anggota Kopassus bernama Kapten Yudha (belakangan kami akrab dan sampai sekarang masih menjalin komunikasi dengannya) menuju pulau Marampit. Kapten Yudha berencana mengunjungi pos PAMTAS dan mengambil sample hewan dan tanaman aneh di pulau itu.

Sampai di pos PAMTAS kami disambut rombongan tentara. Mereka mengajak kami keliling pulau. Di pulau ini kami diperkenalkan dengan salah satu spesies kepiting yang diberi nama kepiting Kenari. Kepiting ini memiliki warna unik dengan campuran warna hitam, biru, dan merah. Di pulau Marimpit ini kami bertemu dengan penduduk yang ramah. Tentara di pos PAMTAS mengatakan bahwa di seberang pulau sering terdapat rombonga lumba-lumba. Namun kami rupanya belum beruntung. Hari itu tidak ada satu lumba-lumba pun yang nampak.

IMG_20130501_051804Perjalanan 2 (dua) hari dari Miangas mengantarkan kami tiba di Kepulauan Talaud. Kami memutuskan untuk turun dari Meliku Nusa. Kami mengubah rencana. Talaud-Manado kami tempuh menggunakan jalur udara. Selain itu, kami juga berencana untuk menemui Pak Steven Camat Miangas di Talaud. Pertemuan yang sangat singkat dengan beliau menyebabkan kami tidak bisa banyak mengorek keterangan soal Miangas. Namun ternyata Bapak Camat menginformasikan bahwa 2 (dua) hari lagi ia akan berada di Manado untuk melaksanakan rapat koordinasi dengan Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara. Kami bersepakat untuk bertemu di Manado.

Tidak berlama-lama di Talaud, kami langsung menuju bandara untuk membeli tiket pesawat menuju Manado. Bandara di Kepulauan Talaud sangat kecil. Pesawat yang akan membawa kami adalah Wings Air berkapasitas penumpang sebanyak 80 orang. Perjalanan Talaud-Manado membutuhkan waktu 1 (satu) jam. Tiket pesawat kami tebus dengan harga Rp. 600.000,-.

Sampai di Manado, kami langsung menemui salah satu anggota tim yang ditugaskan untuk bertemu kami agar kami dapat menyampaikan hasil temuan kami di Miangas. Ia adalah Bapak Faisal, salah satu dosen di UI. Bersamanya kami merencanakan pertemuan dengan Camat Miangas.

IMG_20130501_091318Dari obrolan dengan Camat Miangas, kami jadi tahu bahwa pendekatan pembangunan daerah perbatasan yang selama ini ada di Miangas adalah pendekatan security, sehingga bidang sosial ekonomi menjadi terlupakan. Contoh bidang perikanan yang selama ini tidak tergarap dengan baik. Fasilitas penunjang untuk nelayan tidak ada sama sekali.

Bulan Mei tahun 2012 masyarakat Miangas mendapat hibah 10 pamboat (kapal) dari Filipina dan mendapat subsidi BBM (premium dan minyak tanah). Harga premium di Filipina Rp. 10.000,- dan harga minyak tanah Rp. 11.000,-. Bantuan dari pemerintah Indonesia hanya berupa tangki minyak dengan kapasitas 15.000 liter saja, sementara minyaknya sendiri tidak ada. Kapasitas tangki tersebut (seharusnya) dapat digunakan untuk kebutuhan minyak selama 2 (dua) bulan. Tangki tersebut sekarang sudah rusak terkena badai dan hanyut. Camat Miangas menganggap hal-hal seperti ini harus disikapi serius oleh pemerintah Indonesia. Jangan sampai masyarakat Miangas mengalami ketergantungan kepada negara tetangga.

Untuk mengatasi kebutuhan minyak, masyarakat Miangas mengusulkan agar ada satu unit pamboat yang berukuran 6-8 ton. BBM dapat diambil dari Melongoane. Nantinya BBM dapat disalurkan kepada masyarakat. 8 ton itu sama dengan 16.000 liter. Selain itu pamboat tadi dapat dijadikan moda transportasi untuk masyarakat. Selama ini kapal transportasi yang ada sudah memadai namun belum optimal. Harga pamboat sendiri ada di kisaran Rp. 100-150 juta (harga Filipina). Kapal tersebut dapat dijadikan sebagai alat transportasi untuk masyarakat yang sakit yang harus segera dirujuk dapat menggunakan pamboat.

Soal kesehatan, Camat Miangas sampai-sampai menyatakan bahwa hingga saat ini, ia belum mengajak anak-anaknya ke Miangas karena alasan kesehatan. Sudah 2 (dua) tahun ini tidak ada tenaga medis. Cuma ada mantri dan perawat. Ia sendiri mengusulkan agar dokter yang ditempatkan di daerah perbatasan adalah dokter-dokter ahli (dokter spesialis) yang diperhatikan kesejahteraannya. Alasan dokter-dokter yang tidak mau tinggal di Miangas adalah karena kesejahteraan mereka tidak diperhatikan. Selama ini, sebagian besar masyarakat Miangas saat sakit lebih memilih untuk berobat ke Dafao bahkan sampai ke Manila.

Soal keamanan di Miangas, selama ini tidak ada permasalahan yang terjadi antara Indonesia dan Filipina. Kondisi aman.

Masalah lain yang dihadapi masyarakat Miangas adalah tidak mampu menggali Sumber Daya Alam. Ikan berlimpah tetapi fasilitas tidak ada.

Soal listrik hingga kini juga belum terselesaikan. Listrik belum optimal karena baru berjalan 12 jam, padahal pemerintah menjanjikan listrik akan berjalan 24 jam. Listrik menggunakan PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya). Dengan kondisi listrik yang demikian aktivitas perkantoran sering dilakukan pada saat malam hari saat listrik menyala. Daya tenaga surya yang ada di Miangas tidak mencukupi karena kondisi alam tidak mendukung. Sering terjadi perubahan cuaca.

Hal-hal yang menurut Steven perlu menjadi prioritas masalah pendidikan, kesehatan, komunikasi, BBM, dan listrik. Kondisi pendidikan di Miangas sangat rendah. Tingkat kompetensi guru sangat rendah. Steven mengharapkan agar guru-guru di Miangas diberikan pelatihan agar memiliki kompetensi yang memadai.

Terkait infrastruktur, Miangas sudah jauh lebih baik dibanding dengan daerah lain. Mungkin daerah perbatasan yang memiliki infrastruktur bagus cuma Miangas. Steven sendiri tidak mengkhawatirkan soal pembangunan, ia lebih mengkhawatirkan persoalan Sumber Daya Manusia.

Steven berujar bahwa saat menginjakkan kaki di Miangas, sistem pemerintahan di sana masih didominasi sistem adat. Akhirnya sistem ini ia ubah karena Miangas dipimpin oleh Camat. Sudah 3 (tiga) orang Camat yang hanya bertahan selama 6 (enam) bulan. Steven beranggapan bahwa jika Miangas dipimpin oleh pemimpin adat tidak akan maju. Pimpinan adat hanya berkordinasi dengan Kepala Desa, misalnya dalam sosial budaya. Sementara Camat memiliki wewenang untuk mengambil keputusan.

Steven sendiri pernah ditegur masyarakat karena telah menentang adat, padahal ia cuma menginginkan perubahan di masa mendatang. Steven beranggapan jika Miangas tidak segera dibenahi dan selalu meminta kepada pemerintah pusat maka tidak akan ada kemajuan di Miangas. Steven memiliki visi agar Miangas dapat mengelola wilayahnya sendiri. Ibaratnya masyarakat Miangas harus diberikan ikan yang masih mentah agar mampu mengolahnya sendiri, bukan diberikan ikan yang sudah matang di meja.

Saat pertemuan kami dengan Steven, ia belum dapat menyampaikan data dalam angka mengenai realisasi anggaran untuk Miangas. Steven kaget saat membaca data dari Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal (KPDT) yang kami bawa dan data lain mengenai daerah terluar di Kabupaten Talaud. Steven melihat ada ketidaksesuaian antara data dari pusat dengan realisasi di Miangas. Steven tidak setuju jika Miangas, sesuai dengan kategori yang terdapat pada data, adalah daerah maju.

Masalah kesejahteraan masyarakat di Miangas juga tidak mengalami peningkatan. Pendapatan masyarakat di Miangas per hari Rp. 25.000,-. Hampir-hampir tidak ada pekerjaan yang dapat masyarakat geluti untuk waktu yang lama. Masyarakat bekerja hanya pada saat ada proyek. Itu pun hanya sebagian. Soal pembangunan fisik di Miangas sudah bagus. Namun soal kesejahteraan belum ada peningkatan sama sekali.

Steven punya mimpi agar Miangas dijadikan kota khusus perbatasan agar layak disebut sebagai beranda Indonesia. Bayangan Steven, Miangas akan jadi seperti Batam sekarang ini.

Pertemuan dengan camat Miangas menjadi akhir dari perjalanan kami di Manado. Kami harus segera kembali ke Jakarta. Saya teringat ucapan terakhir salah seorang penduduk Miangas dalam obrolan singkat kami di geladak Meliku Nusa menuju Miangas, “Sekalipun di ujung, kami tetap cinta Indonesia”.

Untuk foto-foto lebih lengkap silakan dilihat disini

3 thoughts on “Menuju Miangas, Beranda Indonesia di Utara

  1. Riani says:

    Mas bisa minta contact person pak Steven camat miangas…urgent

  2. widya oktaviana says:

    mau nanya untuk menuju ke kantor camat atau ketempat lainnya. kendaraan apa yang anda pakai? apakah berjalan kaki atau motor atau naik ojek or sebagainya?

  3. kamalfuadi says:

    Miangas pulaunya kecil. Ke kantor Camat atau yang lainnya bisa jalan kaki saja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: