Perintah Nabi untuk Memperbanyak Kuah Saat Memasak Daging

2

November 5, 2014 by kamalfuadi


Hadis ini adalah hadis yang saya takhrij sebagai tugas akhir dalam penyelesaian studi di Pesantren Luhur Ilmu Hadis Darus Sunnah. Tulisan ini hanya semacam ringkasan singkat dari takhrij hadis berbahasa Arab yang versi lengkapnya dapat diunduh di sini. Takhrij hadis tentang perintah nabi untuk memperbanyak kuah saat memasak daging ini baru bisa ditampilkan di sini karena file takhrij hilang bersama dengan notebook saya yang dicuri tahun 2010. Alhamdulillah ternyata saya masih menyimpan file takhrij hadis ini di email. Semoga bermanfaat 🙂

Hadis Tentang Memasak Daging dan Perintah untuk Memperbanyak Kuah

Teks Hadis

Hadis yang penulis takhrij adalah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dalam kitabnya Al Musnad. Teks hadis tersebut adalah sebagai berikut:

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ الْأُمَوِيُّ حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ قَالَ بَلَغَنِي عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا طَبَخْتُمْ اللَّحْمَ فَأَكْثِرُوا الْمَرَقَ أَوْ الْمَاءَ فَإِنَّهُ أَوْسَعُ أَوْ أَبْلَغُ لِلْجِيرَانِ

Telah meriwayatkan kepada kami Yahya bin Sa’id Al Umawi, dia berkata telah meriwayatkan kepada kami Al A’masy, dia berkata telah sampai kepada kami berita dari Jabir bin Abdillah, dia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Jika kalian memasak daging maka perbanyaklah kuah atau airnya, yang demikian itu lebih cukup bagi tetangga”.

Hadis mengenai memasak daging dan perintah memperbanyak kuah ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya dengan jalur periwayatan berbeda dari Abu Dzar Al Ghifari. Imam Muslim juga meriwayatkan hadis yang senada dengan lafadz dan periwayatan yang berbeda dalam kitab Shahihnya. Selain itu, hadis tersebut juga diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi (Sunan At Tirmidzi), Imam Ibnu Majah (Sunan Ibni Majah), dan Imam Al Humaidi (Musnad Al Humaidi) dengan lafadz dan jalur yang berbeda-beda.

Periwayat Hadis

Jabir bin Abdillah

Dalam kitab Asadul Ghaabah Ibn Al Atsir menyatakan bahwa nama lengap dari Jabir bin Abdillah adalah Jabir bin Abdillah bin ‘Amr bin Haram bin Tsa’labah. Dari referensi yang ditemukan penulis, terdapat perbedaan mengenai tahun wafat Jabir bin Abdillah. Ibnu Hibban misalnya menyatakan bahwa Jabir meninggal tahun 77 H. Sedangkan menurut keterangan lain disbutkan bahwa Jabir meninggal tahun 73, 73 dan ada juga yang menyatakan tahun 68 H.

Jabir bin Abdillah meriwayatkan dari Rasulullah SAW., Khalid bin Walid dan Ali bin Abi Thalib. Berdasarkan penelusuran penulis, Jabir bin Abdillah tidak pernah memiliki satu muridpun yang bernama Al A’masy.

Jabir bin Abdillah adalah sahabat Rasulullah SAW yang tidak perlu diragukan lagi kredibilitasnya karena semua sahabat dalam disiplin ilmu hadis adalah adil.

Al A’masy

Nama asli dari Al A’masy adalah Sulaiman bin Mahran Al Asadi Al Kahili. Beliau dilahirkan pada tahun dimana Husain bin Ali terbunuh, yaitu tahun 61 H. Ada juga pendapat yang mengatakan bahwa Al A’masy meninggal dua tahun sebelum peristiwa terbunuhnya Husain bin Ali. Al A’masy meninggal pada tahun 147 H. menurut pendapat Abu ‘Awanah dan Abdullah bin Daud. Adapun Waki’, Abu Na’im, Muhammad bin ‘Abdillah bin Numair dan Ahmad bin Abdullah Al ‘Ijli menyatakan bahwa Al A’masy meninggal pada tahun 148 H. Abu Nu’aim menambahkan bahwa Al A’masy meninggal pada usia 88 tahun di bulan Rabi’ul Awal.

Dari biografi Al A’masy yang penulis telusuri dari beberapa referensi, tidak ada penjelasan yang menyatakan bahwa Al A’masy pernah meriwayatkan dari Jabir bin Abdillah.

Meriwayatkan dari Al A’masy, yaitu Ibrahim bin Thahman, Abu Ishaq Ibrahim bin Muhammad Al Fazari dan Yahya bin Sai’d Al Umawi.

Mayoritas ulama berpendapat bahwa Sulaiman Al A’masy adalah tsiqah. Imam As Suyuthi mengatakan dalam Asma Al Mudallisiin bahwa Sulaiman Al A’masy merupakan perawi yang dikenal sebagai mudallis. Ibnu Hajar sendiri menempatkan Al A’masy sebagai mudallis yang masuk dalam kategori  thabaqah kedua dalam kitab Ta’rif Ahli At Taqdiis bi Maraatiib Al Maushuufiin bi At Tadliis. Mengenai thabaqah kedua ini Ibnu Hajar menyatakan bahwa perawi yang termasuk ke dalam thabaqah kedua adalah perawi yang melakukan tadlis hanya dari perawi yang tsiqah.

Yahya bin Sa’id Al Umawi

Nama asli beliau yaitu Yahya bin Sa’id bin Abaan bin Sa’id bin Al ‘Ash Al Qurasyi Al Umawi. Ia meninggal pada tahun 194 H.

Beliau meriwayatkan dari Isma’il bin Abi Khalid, Abi Bardah bin ‘Abdillah bin Abi Bardah dan Sulaiman Al A’masy.

Meriwayatkan dari Yahya yaitu Ahmad bin Hanbal, Ishaq bin Rahuyah, dan Daud bin Rasyid.

Mayoritas ulama menyatakan bahwa Yahya bin Sa’id adalah perawi yang La ba’sa bihi. Artinya hadis yang diriwayatkan oleh perawi yang termasuk ke dalam kategori ini perlu dilakukan ikhtibar (diuji) dengan cara membandingkan hadis yang serupa yang diriwayatkan oleh perawi yang memiliki kredibilitas tinggi sebagaimana disebutkan Mahmud Thahan dalam Taysiir Mushtalah Al Hadis. Mahmud Thahan menyatakan jika term La ba’sa bihi dinyatakan oleh Ibnu Ma’in, maka yang dimaksud dengan term tersebut oleh beliau adalah tsiqah.

Ketersambungan Sanad

Ketersambungan sanad dalam hadis dapat diketahui dengan tiga cara:

Dengan mengetahui tahun wafat perawi. Dari keterangan yang didapatkan penulis berdasarkan referensi didapatkan tahun wafat masing-masing perawi sebagai berikut:

  1. Jabir bin Abdillah wafat tahun 77 H menurut salah satu pendapat
  2. Al A’masy wafat tahun 148 H
  3. Yahya bin Sai’d wafat tahun 194 H

Dari keterangan mengenai tahun wafat diatas dapat disimpulkan bahwa jarak tahun wafat dari masing-masing perawi tidak terlalu jauh sehingga pertemuan dari masing-masing perawi dimungkinkan terjadi. Namun setelah dilakukan penelusuran dalam beberapa referensi disebutkan bahwa Al A’masy tidak pernah mendapatkan hadis dari Jabir bin Abdillah. Al A’masy juga bukan salah satu dari murid Jabir bin Abdillah walaupun pertemuan antara keduanya dimungkinkan terjadi.

Dari hubungan guru dan murid. Sebagaimana keterangan sebelumnya, Al A’masy tidak pernah mendengar hadis dari Jabir bin Abdillah karena Al A’masy bukan salah seorang murid Jabir bin Abdillah. Adapun antara Al A’masy dan Yahya bin Sa’id memang terdapat hubungan guru dan murid.

Dari bentuk penyampaian atau kata yang digunakan perawi dalam meriwayatkan hadis. Dari aspek ini terlihat bahwa dalam hadis yang diriwayatkan Imam Ahmad terdapat dua kalimat yang digunakan oleh para periwayat hadis yaitu حدثناdan بلغنى. Dalam disiplin ilmu hadis disebutkan bahwa penggunaan kata حدثنا menunjukkan adanya ketersambungan dalam periwayatan. Sedangkan kata بلغنى menurut salah satu pendapat menunjukkan bahwa hadis yang diriwayatkan adalah mu’dhal. Pendapat ini terdapat dalam kitab Tadriib Ar Raawi. Sehingga penggunaan term tersebut tidak berarti menunjukkan adanya ketersambungan dalam periwayatan.

Kualitas Hadis

Berdasarkan keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa hadis mengenai memasak daging dan perintah untuk memperbanyak kuah yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam kitab Al Musnad adalah dla’if. Hal ini disebabkan adanya keterputusan periwayatan antara Al A’masy dan Jabir bin Abdillah. Dalam literatur ilmu hadis keterputusan periwayatan yang demikian diistilahkan sebagai inqitha’. Sehingga hadis berdasarkan periwayatan Imam Ahmad disebut sebagai hadis munqathi’. Pendapat senada juga disampaikan oleh Syekh Ahmad Syakir dalam tahqiq atas hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Al Bushiri sendiri menyatakan bahwa hadis ini dla’if karena terdapat jahalah at tabi’i. Pun pendapat dari Syu’aib Al Arnaut yang menyatakan bahwa hadis melalui periwayatan Imam Ahmad ini terdapat inqitha’. Namun hadis dengan lafadz berbeda yang memiliki arti senada diriwayatkan juga oleh Imam Muslim, Imam At Tirmidzi, Imam Ibnu Majah dan Imam Al Humaidi. Sehingga hadis ini sebagaimana dinyatakan juga oleh para ulama yang lain termasuk dalam hadis shahih.

Kontribusi Hadis dalam Khazanah Islam

Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad memang memiliki kualitas yang lemah karena terdapat keterputusan periwayatan. Namun hadis ini juga memiliki jalur periwayatan lain dengan kualitas yang lebih kuat. Kita juga dapat melihat bahwa matan atau isi kandungan hadis ini memiliki pelajaran yang sangat berharga dalam urusan bertetangga. Hadis ini mengandung perintah untuk memperbanyak kuah saat memasak daging, karena hal ini akan cukup membantu tetangga kita. Perintah ini mengandung pengertian bahwa kita harus berbuat baik terhadap tetangga kita dengan cara apapun termasuk dengan memperbanyak kuah saat memasak daging. Berbuat baik terhadap tetangga dapat dilakukan, sebagaimana isi hadis ini, dengan melebihkan kuah dan memberikannya kepada tetangga. Dalam Al Quran sendiri disebutkan perintah untuk berbuat baik kepada tetangga:

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ )النساء: 36.(

Dalam beberapa hadis riwayat Imam Al Bukhari juga disebutkan:

حدثنا قتيبة بن سعيد حدثنا أبو الأحوص عن أبي حصين عن أبي صالح عن أبي هريرة قال: قال رسول الله صلى الله عليه و سلم: من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فلا يؤذ جاره ومن كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليكرم ضيفه ومن كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليقل خيرا أو ليصمت.

وحدثنا محمد بن منهال حدثنا يزيد بن زريع حدثنا عمر بن محمد عن أبيه عن ابن عمر رضي الله عنهما قال: قال رسول الله صلى الله عليه و سلم: ما زال جبريل يوصيني حتى ظننت أنه سيورثه.

وحدثنا عاصم بن علي حدثنا ابن أبي ذئب عن سعيد عن أبي شريح: أن النبي صلى الله عليه و سلم قال: والله لا يؤمن والله لا يؤمن والله لا يؤمن. قيل ومن يا رسول الله ؟ قال: الذي لا يأمن جاره بوائقه.

Perintah yang terdapat dalam Al Quran surat An Nisa ayat 36 dan beberapa hadis di atas merupakan perintah yang senada dengan hadis memasak daging dan perintah memperbanyak kuah untuk para tetangga. Semuanya menunjukkan keutamaan menghormati tetangga dan berbuat baik kepada mereka. Al ‘Alai sendiri menyatakan bahwa perintah yang terkandung dalam hadis riwayat Ahmad merupakan perintah yang sederhana karena perintahnya adalah untuk memperbanyak kuah bukan memperbanyak daging. Berbuat baik kepada tetangga bisa dengan hal yang kecil namun bermanfaat.

2 thoughts on “Perintah Nabi untuk Memperbanyak Kuah Saat Memasak Daging

  1. edofaqeeh says:

    ciyee.. takhrij..

  2. kamalfuadi says:

    Harus diabadikan do kenangan dan ilmu dari pak kyai 😊

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: