Meretas Gerakan Literasi Warga

Leave a comment

April 29, 2015 by kamalfuadi


Studi dan survei mengenai tingkat literasi dan minat membaca di Indonesia telah beberapa kali dilakukan. Studi dan survei tersebut hampir selalu menunjukkan hasil yang sama, memosisikan Indonesia dalam peringkat rendah.

Dalam rilis hasil survei terakhir Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS) tahun 2011, disebutkan bahwa Indonesia menempati posisi 41 dari 45 negara. Laporan studi Programme for International Student Assessment (PISA) 2012 menyatakan bahwa peringkat pendidikan Indonesia, terutama di bidang matematika, sains, dan membaca berada pada urutan ke-64 dari 65 negara. Statistik UNESCO tahun 2012 menyebutkan bahwa indeks minat baca di Indonesia baru mencapai 0,001. Artinya, setiap 1.000 penduduk, hanya 1 orang saja yang memiliki minat baca. Angka UNDP juga mengejutkan bahwa angka melek huruf orang dewasa di Indonesia hanya 65,5 persen saja. Sedangkan Malaysia sudah 86,4 persen.

Hasil studi dan survei tersebut masih belum ditambah dengan hasil studi lain seperti Human Development Index (HDI) dan Trends in International Mathematic and Science Study (TIMSS) yang secara tidak langsung juga dapat mendukung temuan mengenai rendahnya tingkat literasi dan minat membaca di Indonesia. Apakah memang benar tingkat literasi dan minat membaca di Indonesia sedemikian rendah?.

Literasi dan Perpustakaan

Literasi sering didefinisikan sebagai kegiatan membaca dan menulis. Definisi tersebut kini berevolusi menjadi tidak hanya berkutat pada persoalan mental dan keterampilan baca tulis, namun meluas menjadi praktik kultural yang berkenaan dengan persoalan sosial politik (Alwasilah: 2007). Pendidik cum filosof Brazil, Paulo Freire dalam ā€œLiteracy: Reading The Word and The Worldā€ (1987) membuktikan bahwa literasi tidak hanya merupakan kemampuan membaca kata-kata an sich namun juga kemampuan membaca dunia, dalam arti membaca hal-hal dan persoalan-persoalan yang ada di dunia di mana manusia berada.

Begitu pentingnya kegiatan literasi sehingga konon Pergerakan Budi Utomo pada masa pra kemerdekaan mencantumkan pembangunan perpustakaan untuk masyarakat sebagai poin ke 14 dari 16 poin program mereka (Nagazumi: 1972). Tokoh bangsa Indonesia seperti Bung Hatta dan Tan Malaka juga dikenal sangat intim dengan buku dan aktivitas literasi. Dalam sejarah Islam sendiri, perpustakaan Baitul Hikmah pada masa Khalifah Harun Al Rasyid juga menjadi corong kemajuan peradaban Islam.

Aktivitas literasi memang memiliki kaitan erat dengan keberadaan perpustakaan. Tingkat literasi dan minat membaca di suatu negara dapat meningkat jika, salah satunya, didukung oleh keberadaan perpustakaan yang mudah diakses oleh seluruh lapisan masyarakat.

Namun demikian, secara umum, realitas perpustakaan di Indonesia masih jauh dari harapan. Keberadaan perpustakaan masih sangat sulit untuk dijangkau oleh seluruh masyarakat Indonesia. Jumlah perpustakaan umum di Indonesia menurut Data Badan Penelitian dan Pengembangan Perpustakaan Nasional hanya berjumlah 2.585 yang berarti bahwa 1 perpustakaan hanya sanggup melayani 85.000 penduduk. Kesulitan akses tersebut menjadikan masyarakat Indonesia jauh dari buku dan aktivitas membaca. Maka tidak heran jika tingkat literasi dan minat membaca berada dalam posisi rendah.

Gerakan Literasi Warga

Belakangan ini muncul gerakan literasi dalam bentuk pendirian perpustakaan yang diinisiasi masyarakat dengan harapan agar minat membaca masyarakat meningkat. Mereka ada yang menamakan diri sebagai Rumah Baca, Taman Baca, Taman Bacaan Masyarakat (TBM), Rumah Buku, dan lain-lain.

Sebuah studi (tesis) mengenai fenomena gerakan literasi di Indonesia yang disusun oleh Stian Haklev untuk University of Toronto pada 2008 bahkan menyimpulkan bahwa gerakan literasi di Indonesia sebenarnya sudah ada jauh sebelum masa kolonial. Fenomena tersebut menjamur seiring dengan kebutuhan masyarakat akan akses informasi dan kesadaran mereka bahwa kegiatan literasi dapat meningkatkan kualitas hidup.

Keberadaan perpustakaan masyarakat ini merupakan salah satu dari perpustakaan umum yang dapat diselenggarakan oleh masyarakat dalam rangka memfasilitasi terwujudnya masyarakat pembelajar sepanjang hayat sebagaimana disebutkan dalam Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan.

Di Kotamadya dan Kabupaten Tegal sendiri telah muncul gerakan literasi yang diinisiasi oleh masyarakat seperti Taman Baca Sakila Kerti di Kotamadya Tegal, perpustakaan Al-Hikam di Adiwerna, TBM Tiga Surau di Desa Tuwel Bojong, Rumah Baca Bumi Matahari di Desa Balapulang Wetan, Rumah Baca Sindang Dukuhwaru dan Rumah Baca Asmanadia di Slawi Kulon.

Memulai dan menjalankan sebuah perpustakaan masyarakat adalah upaya yang tidak mudah namun bukan berarti tidak mungkin. Anggota masyarakat yang mendirikan perpustakaan biasanya tidak memiliki keterampilan khusus dalam bidang perpustakaan, manajemen keuangan, dan manajemen organisasi. Mereka biasanya hanya berbekal niat dan semangat untuk ikut berpartisipasi mencerdaskan generasi bangsa. Belum lagi tidak adanya dukungan finansial dan kurangnya buku merupakan persoalan yang jamak terjadi. Dengan kenyataan ini perpustakaan masyarakat bisa jadi tidak akan bertahan lama.

Namun demikian pengalaman penulis dan teman-teman selama hampir 3 tahun mengelola taman baca menunjukkan bahwa minimnya kemampuan dan fasilitas tidak menghalangi niat dan semangat mendirikan dan mengelola perpustakaan masyarakat. Respon dan animo masyarakat yang tinggi semakin meneguhkan keyakinan penulis bahwa minat membaca masyarakat sebenarnya tidak rendah, hanya saja selama ini mereka sulit mengakses buku-buku berkualitas. Kini beberapa orang dan komunitas di Tegal sudah mendirikan perpustakaan masyarakat dan beberapa dari mereka berniat untuk mendirikan perpustakaan masyarakat di kampung di mana mereka tinggal.

Menggantungkan usaha meningkatkan kegiatan literasi dan minat baca masyarakat hanya kepada pemerintah dengan segala keterbatasan yang ada rasanya tidak akan cukup. Maka gerakan literasi dari, oleh, dan untuk masyarakat perlu terus digalakkan. Komunitas dan organisasi masyarakat bisa menjadi salah satu pintu masuk dalam upaya ini. Pemerintah perlu mendorong dan mendukung keberadaan perpustakaan masyarakat dengan misalnya memberikan fasilitasi pembinaan pustakawan serta kebutuhan lain yang diperlukan oleh perpustakaan-perpustakaan masyarakat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: