Wajah Tegal dalam Kartu Pos

Leave a comment

September 4, 2015 by kamalfuadi


image1 (1) image1

Pada Juni 2015 terbit buku berjudul “Kota di Djawa Tempo Doeloe” karya Olivier Johannes Raap yang diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia (KPG).  Kelahiran buku ini didasari oleh koleksi kartu pos pribadi milik Olivier pada periode1900-1950. Pada 2013 telah terbit 2 buku berjudul “Pekerdja di Djawa TempoDoeloe” dan “Soeka Doeka di Djawa Tempoe Doeloe” yang juga menggunakan kartu pos sebagai media dokumentasi.

Kartu-kartu pos milik Olivier didapatkan dari berbagai sumber. Ada yang didapatkan dari hasil tukar menukar dengan kolektor lain, pasar loak, toko barang bekas, pasar buku, bursa filateli, lelang internet, dan pedagang khusus. Buku setebal 340 halaman ini menampilkan sebanyak 277 kartu pos koleksi Olivier akan mengajak pembaca pada sejarah 44 kota di Jawa. Kartu pos yang ditampilkan dalam buku disertai dengan penjelasan singkat foto.

Salah satu kota yang disebutkan dalam buku ini adalah Tegal. Dalam buku ini Tegal ditampilkan sebanyak 3 kali. Lokasi di Tegal yang disebutkan dalam buku ini yaitu Benteng Tegal, Pasar Sore, dan Kantor Tol. Secara berurutan ketiga lokasi tersebut, sebagaimana ditulis Olivier, adalah sebagai berikut:1)     BentengTegal

Tahun : Sekitar 1900

Lokasi : Jalan Yos SudarsoTegal

Judul   : Gevangenis Tegal(Penjara Tegal)

Benteng Tegal dibangun oleh VOC pada awal 1700-an. Tegal adalah salah satu kota pelabuhan di Pantura di mana kongsi dagang itu membangun pos perdagangan berbenteng. Wilayah pedalaman di kota pelabuhan ini merupakan pemasok beras,merica, dan kayu. VOC memilih lokasi yang cukup strategis, dekat pelabuhan dan di tepi Sungai Gung yang menghubungkan pelabuhan dengan pedalaman. Pintu utama menghadap ke selatan ke arah kota. Pada awalnya benteng dikelilingi parit pertahanan dan bastion pada sudutnya. Akhir abad ke-19, fungsi militer ketinggalan zaman dan bekas benteng dijadikan penjara.

Di depan pintu tampak sekelompok orang berseragam yang berpose untuk pemotretan. Mereka tampaknya para sipir. Di atas fronton (bagian segitiga di atas pintu) terlihat lonceng besar yang didentangkan dengan menarik tali yang menjulur sebagai tanda apel, jalan di depan pintu merupakan bagian dari Jalan Raya Pos, yaitu jalan trans Jawa yang dibangun pada 1808. Di permukaan jalan tampak rel trem uap dari jalur Cirebon-Semarang, yang dibangun pada 1897.

Saat itu,kehidupan tahanan di penjara agak berbeda dengan tahanan sekarang. Pada awal abad ke-20 begitu banyak maling divonis, sehingga kapasitas penjara terlalu kecil dan tidak semua tahanan bisa bermalam di sana. Sebagian tahanan diizinkan bermalam di rumah mereka sendiri, dengan syarat, mereka lapor ke penjara saatjam makan. Alasan sistem lapor dengan cara demikian karena kontraktor penjara dibayar oleh pemerintah per porsi makanan saja, tidak per “tamu’ yang menginap (Prinsen 1935:20). Sampai sekarang gedung ini berfungsi sebagai penjara dengan nama resmi Lembaga Pemasyarakatan Kelas II B Tegal.

2)     Pasar Sore

Tahun : sekitar 1900

Lokasi : Jalan Gajah MadaTegal

Judul   : Passar Sore Tegal

Perempatan Jalan Gajah Mada dengan Jalan Suprapto di Tegal juga dikenal sebagai “Perempatan Pasar Sore”. Di sebelah barat laut perempatan tersebut terdapat Pasar Sore, dengan beberapa los panjang yang di peta Tegal 1918 menghadap ke timur, menuju ke Jalan Gajah Mada sekarang. Indikasinya, foto mengarah ke barat. Terlihat dari arah bayangan matahari, jepretan terjadi di siang hari. Tak heran Pasar Sore masih sepi.

Tampak los pasar semacam pendopo yaitu atap dibangun di atas tiang. Diperkirakan airnya dari sumur bor dengan tekanan alaminya cukup tinggi, maka air memancar keluar tanpa harus dipompa. Keran air untuk umum: pedagang, pembeli, termasuk untukair minum bagi kuda penghela kendaraan. Pada zaman itu kecepatan rana kameramasih sangat rendah, sehingga model harus berpose tanpa bergerak beberapa detik agar tidak kabur. Di sisi kanan foto ada orang yang berjalan agak cepat, hasilnya terlihat seperti hantu.

Sayangnya tidak terlihat barang jualan. Selain masakan tradisional, di sebuah pasar sore biasanya dijual baju, mainan anak, alat rumah tangga, alat pertukangan dan pertanian, dan di sebuah kota maritim seperti Tegal pasti tersedia peralatan nelayan. Pada umumnya sebuah pasar sore tidak berpotensi seperti pasar pagi yang sering tumbuh besar menjadi pasar grosir. Pasar Sore di Tegal hanya berubah menjadi barisan ruko. Namanya hanya hidup terus dalam julukan Perempatan Pasar Sore.

3)     Kantor Tol

Tahun             : Sekitar1900

Lokasi             : Pelabuhan Lama, Tegal

Judul               : Tolkantoor Tegal (Kantor Tol Tegal)

Tegal adalah kota pelabuhan di muara Kali Gung. Sungai ini dinamakan demikian karena berhilir di Gunung Agung yakni sebuah nama kuno dari Gunung Slamet. Agar pelabuhan tidak mendangkal, pada abad ke-19 sungai dibendung beberapa ratus meter dari ujungnya dan aliran air dialihkan lewat jalur alternative ke arah timur (Blink:1905: 144). Muara sungai aslinya kemudian dikeruk dan digunakan sebagai kali pelabuhan. Pelabuhan ini hanya bisa menerima kapal kecil. Kapal besar membuang sauh di tengah lautan di depan pelabuhan. Penumpang dan barang ditransitkan ke kapal kecil untuk mendarat.

Di tepi barat (sebelah kanan) kali pelabuhan ada tiang bendera dan kantor pabean, di mana semua barang dagangan diperiksa dan pajak dibayar. Pengenaan pajak pada barang dagangan di pelabuhan sudah dilakukan oleh pemimpin pribumi sebelum VOC dating(Boeke 1936: 29). Dalam bahasa Belanda aktivitas ini disebut dengan kata tol yang sebenarnya berarti tempat yang hanya dapat dilewati dengan membayar uang. Kata Belanda tersebut berasal lewat kata Latin toloneum dari kata Yunani kuno telos yang berarti kontribusi wajib.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: