Ivan Illich dan Deschooling Society (Part 3)


“Ivan Illich dan Deschooling Society” (Part 3)

4 hari yang lalu saat masih di Makassar ada seseorang yang saya tidak kenal mengirim pesan via inbox di salah satu media sosial. Dia berasal dari Yogyakarta. Dia berujar bahwa adiknya yang saat ini sedang menyelesaikan penulisan skripsi membutuhkan terjemahan buku “Deschooling Society” (1971) karya Ivan Illich yang diterjemahkan oleh A. Sonny Keraf dan diterbitkan oleh Yayasan Obor Indonesia dengan judul “Bebaskan Masyarakat dari Belenggu Sekolah”. Dia berinisiatif menghubungi saya setelah membaca salah satu tulisan di blog saya.

Saya sampaikan bahwa buku tersebut saya dapatkan tahun 2006 dari penerbit Obor dan saat ini sudah susah mendapatkannya karena sudah tidak (atau mungkin belum) diterbitkan lagi. Saat ada perhelatan Jakarta Book Fair, kalau tidak salah, saya mendapati buku ini terpajang di stand penerbit Obor.

Mendapati respon saya, dia langsung menghubungi Obor. Pihak Obor menyampaikan bahwa buku Ivan Illich sudah tidak ada dan belum diterbitkan ulang.

Akhinya saya sampaikan jika memang benar-benar membutuhkan buku tersebut bisa saya bantu untuk memfotokopikan.

Semalam kopian buku “Deschooling Society” saya ambil di tempat fotokopi. Tadi pagi buku saya kirim ke sebuah alamat di Surabaya Jawa Timur.

Menjelang Dzuhur HP saya berbunyi. Ada salah seorang teman mengirim BBM. Dia berniat mengirimkan 1 dus buku untuk didonasikan ke Taman Baca Masyarakat (TBM) Tiga Surau. Tidak lama setelah itu saya mendapati pesan di inbox salah satu media sosial. Si pengirim yang saya tidak kenal menulis pesan bahwa dia akan mendonasikan beberapa buku untuk TBM Tiga Surau.

Alhamdulillah 😊

View on Path

Bakti Sosial SLKT untuk TBM Tiga Surau


Teman-teman grup Facebook Sisi Lain Kabupaten Tegal (SLKT) hari ini, Ahad, 12 Oktober 2014 berkunjung ke Taman Baca Masyarakat (TBM) Tiga Surau.

Mereka melaksanakan kegiatan Bakti Sosial dengan menyerahkan donasi buku, majalah, dan bahan bacaan lain. Selain itu, mereka juga membantu untuk bersih-bersih lingkungan serta membantu aktivitas Bank Sampah Majelis Ta’lim Nurul Hikmah.

Kunjungan dan donasi ini merupakan dukungan bagi kami dalam mengembangkan aktivitas literasi di tengah masyarakat Kabupaten Tegal.

Semoga semakin banyak anak-anak, remaja, pemuda, dan seluruh elemen masyarakat Tegal yang gemar membaca.

Salam literasi 🙂

#TegalMembaca #IndonesiaMembaca

View on Path

Paket Misterius


Tiba-tiba kemarin siang ada kiriman paket satu dus ukuran besar dialamatkan kepada saya. Setelah dicek nama dan alamat pengirim, saya sama sekali tidak mengenalnya. Maula Ali, nama pengirim paket itu. Kedawung Cirebon Jawa Barat alamat yang ia cantumkan. Beruntung pengirim mencantumkan nomor yang bisa dihubungi. Saya mengirim pesan singkat untuk memastikan apakah paket tersebut memang betul untuk saya. Maula Ali menjawab bahwa paket itu berisi buku dan memang dialamatkan kepada saya. Akhirnya saya tahu paket itu adalah bantuan untuk Taman Baca Masyarakat (TBM) Tiga Surau.

Malam hari saat anak-anak sedang belajar bersama di TBM Tiga Surau, kardus dibuka. Ternyata isi kardus penuh buku, majalah, dan boneka.

Terima kasih saya sampaikan kepada Maula Ali atas kirimannya. Ia telah ikut membantu saya dan teman-teman mengembangkan aktivitas literasi di tengah masyarakat melalui TBM Tiga Surau.

Saat saya tanya dari mana Maula Ali mengenal dan tahu alamat saya, ia cuma menjawab: “Wallaahu a’lam. Semoga antum tetap istiqomah berjuang demi agama Allah, Rasulullah, beserta Ahlul Bayt. Aamiin yaa Rabb.”

View on Path

Pencurian di Bus Sinar Jaya Eksekutif


Sabtu, 16 November 2013 pukul 20.00 saya berangkat ke Jakarta bersama seorang teman naik bus Sinar Jaya Eksekutif bernomor polisi B 7328 HIS dari Terminal Slawi Kabupaten Tegal. Bus ini berhenti terakhir di Terminal Kampung Rambutan dan Terminal Lebak Bulus.

Saya tiba di Terminal Slawi pukul 19.00. Karena keberangkatan bus masih 1 jam lagi, saya mengajak teman saya untuk makan di area Taman Rakyat Slawi (TRASA). Masing-masing dari kami membawa 2 tas. 1 tas besar berisi pakaian kami letakkan di bawah jok. Sementara tas lain berisi laptop, charger laptop, charger handphone, hard disk eksternal, dan buku-buku saya bawa.

Menjelang pukul 20.00 kami langsung menuju bus. Tas berisi laptop saya letakkan di tempat tas tepat di atas kursi tempat kami duduk. Bus pun melaju menuju Jakarta.

Selama di perjalanan teman saya tertidur pulas. Saya pun akhirnya ikut tidur. Saat terjaga saya selalu memperhatikan posisi tas. Tas masih berada dalam posisi semula. Hingga bus berhenti di rumah makan tempat singgah untuk istirahat, tas masih berada dalam posisi yang sama. Selama istirahat  saya tidak turun dari bus. Saya juga tidak tidur. Hanya teman saya yang turun untuk makan. Sampai bus berangkat  kami masih dalam kondisi terjaga. Continue reading

Kunjungan Edi Dimyati (Kampung Buku) ke TBM Tiga Surau


Rabu, 14 Agustus 2013, Edi Dimyati (Pendiri Kampung Buku Cibubur, Redaktur Majalah HAI, Penulis Buku “47 Museum Jakarta”) berkunjung ke Taman Baca Masyarakat Tiga Surau Dukuh Tere Tuwel Kecamatan Bojong Kabupaten Tegal setelah sebelumnya berkunjung ke saudaranya di Kebumen dan temannya di Wonosobo. Kunjungan ini merupakan kunjungan balasan setelah beberapa bulan sebelumnya saya berkunjung ke Kampung Buku di Cibubur.

Pertemuan saya dengan Edi Dimyati di Taman Baca Masyarakat Tiga Surau adalah pertemuan kali ketiga. Pertemuan pertama saat saya berkunjung ke Kampung Buku di Cibubur. Pertemua kedua saat saya berkesempatan untuk menghadiri Olimpiade Taman Baca Anak-anak (OTBA) di Bumi Perkemahan Ragunan.

ImageDalam kunjungan ke Taman Baca Masyarakat Tiga Surau Edi Dimyati berbagi cerita dan pengalaman saat pertama kali mendirikan Taman Baca Masyarakat Kuartet yang merupakan cikal bakal Kampung Buku. Selain itu, Edi Dimyati juga berbagi tips yang dapat dilakukan untuk memotivasi masyarakat agar suka membaca. Di akhir pertemuan dengan teman-teman Kurator Taman Baca Masyarakat Tiga Surau, Edi Dimyati memperagakan trik sulap dan tebak-tebakan.

Keesokan harinya, saya mengantar Edi Dimyati untuk berjalan-jalan keliling Tegal. Tujuan utama Edi Dimyati tentu saja museum-museum yang ada di Tegal. Edi Dimyati sudah membuat daftar tempat mana saja yang akan dikunjungi. Selain museum, Edi Dimyati juga berkunjung ke lokasi-lokasi wisata di Tegal. Beberapa lokasi yang dikunjungi yaitu Obyek Wisata Air Panas Guci, Perpustakaan Daerah Tegal Soekarno-Hatta, Museum Sekolah, Rumah Wayang Ki Enthus Susmono, Taman Poci, Pantai Alam Indah (PAI), dan Waduk Cacaban. Beberapa lokasi tidak jadi dikunjungi karena keterbatasan waktu. Lokasi yang tidak jadi dikunjungi yaitu Museum Semedo, Goa Walet, dan Purwahamba Indah.

Dari Pusat Menuju Perbatasan


Akhir tahun 2011 saya mendatangi Entikong, salah satu wilayah Indonesia yang berbatasan langsung dengan negara tetangga Malaysia. Kedatangan saya ke Entikong merupakan bagian dari tugas penelitian “Madrasah di Daerah Khusus” Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan Balitbang dan Diklat Kementerian Agama RI. (Mengenai hasil penelitian Madrasah di Daerah Khusus saya sajikan dalam tulisan lain).

Perjalanan menuju Entikong saya tempuh melalui perjalanan udara dari Bandara Internasional Soekarno Hatta menuju Bandara Supadio Pontianak. Perjalanan udara Jakarta-Pontianak memakan waktu kurang lebih 1 jam. Dari Bandara Supadio menuju hotel terdekat menempuh waktu perjalanan 30 menit menggunakan taksi. Dari Pontianak menuju Entikong, perjalanan ditempuh dengan jalur darat menggunakan jasa travel (di Pontianak, mobil yang digunakan untuk travel juga disebut taksi). Perjalanan Pontianak-Entikong juga dapat ditempuh dengan menggunakan angkutan umum berupa bis. Dengan waktu perjalanan yang lumayan lama, sekitar 7 jam, perjalanan dari Pontianak menuju Entikong lebih nyaman menggunakan jasa travel.

Suasana Pontianak tidak jauh dari Jakarta, sama-sama panas tetapi tidak macet. Pontianak dibelah olah salah satu sungai terbesar di Kalimantan, yaitu Sungai Kapuas. Sungai-sungai di Kalimantan cukup banyak. Maka tak heran jika Kalimantan mendapat sebutan “Pulau Seribu Sungai”. Continue reading

Kesulitan Akses Pendidikan di Negeri Kita (Sekelumit Cerita dari Baduy)


Kamis, 28 April 2011, pukul 06.00

HP saya berbunyi. Tampak di layar nama penelfon, mas Khamami Zada, salah seorang “guru” yang saya kenal lewat tulisan-tulisan dan diskusi-diskusi mengenai gerakan fundamental dan radikal dalam Islam. Beliau adalah dosen Syari’ah UIN Jakarta dan salah seorang pakar Islam radikal. Sewaktu aktif di Forum Diskusi Lintas Perspektif RASIONALIKA Pesantren Luhur Ilmu Hadis Darus Sunnah Ciputat, saya pernah mengundang beliau untuk berbicara mengenai gerakan Islam radikal.

Kali ini pembicaraan via HP bukan mengenai gerakan Islam radikal, melainkan pogram Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan Balitbang dan Diklat Kementerian Agama RI mengenai model pengembangan pendidikan di daerah khusus. Daerah khusus yang dimaksud yaitu daerah terpencil Cicakal Garang Kampung Baduy yang terletak di Kabupaten Lebak Provinsi Banten. Program tersebut memang sudah sejak beberapa bulan lalu disampaikan secara langsung oleh mas Khamami kepada saya. Maksud beliau agar saya turut serta dalam program tersebut. Continue reading