Bank Sampah Nurul Hikmah Tuwel Bojong Tegal


Di tengah masyarakat baik di kota maupun di desa, jamak ditemukan mereka yang membuang sampah sembarangan seperti di kebun belakang rumah, tanah pekarangan yang tidak dipakai, dan yang paling sering di kali atau sungai. Perilaku membuang sampah sembarangan tersebut telah membudaya dan biasanya sulit untuk diubah. Sampah yang dibuang sembarangan terus menumpuk. Di kemudian hari, sampah akhirnya menjadi persoalan. Masyarakat kemudian cenderung menyalahkan satu sama lain. Sampah menjadi persoalan tak terpecahkan.

Persoalan serupa juga terjadi di Dukuh Tere Tuwel Kecamatan Bojong Kabupaten Tegal. Warga terbiasa membuang sampah di kebun dan kali jika tidak membakarnya. Berangkat dari adanya kesadaran bahwa sampah adalah persoalan dan perlunya pengelolaan sampah, warga Dukuh Tere berinisiatif untuk mengelola sampah dengan mendirikan Bank Sampah Nurul Hikmah pada akhir tahun 2013. Continue reading

Menuju Miangas, Beranda Indonesia di Utara


Di sela-sela proses penyelesaian tugas akhir (tesis) pada Program Pascasarjana Universitas Indonesia (UI), salah seorang teman kuliah, Ahmad Junaidi, mengabari saya mengenai rencana penelitian di Pulau Miangas, salah satu pulau Tertinggal, Terluar, dan Terdepan (3T) Indonesia di bagian utara. Saya langsung mengiyakan ajakan Jun, panggilan akrab Ahmad Junaidi. Jauh-jauh hari ia sudah menginformasikan rencana penelitian ini. Namun waktu keberangkatan belum pasti. Perjalanan menuju Miangas tentunya akan menjadi perjalanan yang menarik. Seketika terlintas di pikiran saya lirik jingle iklan mie instan Indomie “Dari Sabang sampai Merauke, Dari Miangas ke Pulau Rote”. (Tentunya tidak sambil makan Indomie).

miangasPulau Miangas termasuk ke dalam Kecamatan Khusus Kepulauan Miangas, Kabupaten Talaud, Provinsi Sulawesi Utara. Miangas berbatasan dengan negara tetangga Filipina. Miangas adalah salah satu pulau dari gugusan Kepulauan Nanusa. Pulau ini merupakan salah satu pulau terluar Indonesia sehingga rawan masalah perbatasan, terorisme serta penyelundupan. Belanda menguasai pulau ini sejak tahun 1677. Filipina sejak 1891 memasukkan Miangas ke dalam wilayahnya. Miangas dikenal dengan nama La Palmas dalam peta Filipina.

Perjalanan menuju Miangas dari Jakarta terlebih dahulu ditempuh dengan perjalanan udara menuju Manado dalam waktu 2 (dua) jam. Dari Manado perjalanan dilanjutkan melalui jalur laut. SediaIMG_20130428_110707nya kapal yang akan kami naiki adalah kapal Meliku Nusa. Namun karena salah informasi, rencana berubah. Dari pelabuhan Manado kami membeli tiket kapal ferry eksekutif menuju pelabuhan Tahuna. Tiket kapal kami tebus dengan harga Rp. 195.000,-. Kapal ini berangkat pukul 12.00 dan dijadwalkan tiba di pelabuhan Tahuna pukul 19.00. Sebenarnya kapal ini bisa menempuh perjalanan lebih cepat. Namun karena harus singgah di beberapa pulau, perjalanan menjadi lebih lambat. Kapal cepat ini membuat Jun mual. Mukanya tampak pucat. Rupanya ia mulai mabuk laut. (Saya pikir nenek moyangnya bukan pelaut). Continue reading

Memaknai Kunjungan SBY ke Tegal*


*Dimuat di RADAR TEGAL edisi Jum’at 8 Februari 2013

Pada bulan Februari ini, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dijadwalkan akan melaksanakan kunjungan kerja ke Kabupaten Tegal. SBY berencana melihat potensi hortikultura berkualitas ekspor dan melakukan dialog dengan petani di Desa Tuwel Kecamatan Bojong. Selain itu, sesuai konsep acara, presiden terlebih dahulu akan berkunjung ke Puskesmas Adiwerna dan menginap di area Obyek Wisata Air Panas Guci. Acara juga akan disemarakkan dengan pameran produk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di desa setempat.

Bukan hal yang aneh bila seorang Presiden melakukan kunjungan ke daerah. Di masa Orde Baru kita sering menyaksikan di televisi kunjungan Presiden Soeharto ke daerah-daerah untuk melakukan panen raya bersama petani atau kehadiran beliau pada acara Kelompencapir (Kelompok Pendengar, Pembaca, dan Pemirsa) yang mengikutkan petani-petani berprestasi dari berbagai daerah. Mereka diadu kepintaran dan pengetahuannya seputar pertanian, antara lain soal cara bertanam yang baik dan pengetahuan tentang pupuk dengan model mirip cerdas cermat.

Peluang Bagi Tegal

Kunjungan Presiden SBY sebagai Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan ke Tegal merupakan suatu kehormatan sekaligus peluang. Sebagai tuan rumah tentu diperlukan beberapa persiapan khusus yang cukup merepotkan seperti perbaikan jalan sepanjang jalur menuju daerah kunjungan dan akomodasi para tamu VIP/VVIP dan pengamanannya.

Ada beberapa peluang yang bisa dimanfaatkan dalam kunjungan kerja Presiden SBY dan rombongannya. Pertama, potensi pertanian, khususnya sayuran yang belakangan mendapat sorotan karena berhasil menembus pasar ekspor. Potensi hortikultura di Tegal dapat dikembangkan melalui intensifikasi dan ekstensifikasi agar Tegal dapat menjadi “Kabupaten Sayur” atau “Kabupaten Hortikultura” karena hasil pertanian yang dapat menjadi produk unggulan. Pemerintah pusat dapat membantu penyediaan bibit unggul, tenaga-tenaga ahli, dan bantuan permodalan bagi petani, serta pemasarannya.  Continue reading

Menggugat Relasi Negara dengan Masyarakat dalam Pendidikan


Pendidikan Berbasis MasyarakatSebagai sebuah sistem, pendidikan meniscayakan adanya relasi antara Negara (baca: pemerintah) dengan masyarakat. Relasi itu terbangun karena Negara adalah pihak yang berkewajiban sebagai penyelenggara sekaligus pihak yang bertanggung jawab terhadap setiap aktivitas pendidikan. Sedangkan masyarakat adalah pihak yang berhak menerima pendidikan sebagaimana tercantum dalam konstitusi tertinggi Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Relasi Negara dengan masyarakat hampir-hampir selalu dipandang sebagai relasi antara Negara sebagai penguasa dan masyarakat sebagai yang dikuasai. Ujung-ujungnya, berdasarkan pandangan tersebut, masyarakat diposisikan sebagai subordinat dari Negara.

Dalam ranah pendidikan, Indonesia mengalami kondisi di mana masyarakat sering hanya menjadi objek. Negara bertindak dominan dan mengatur pendidikan. Walaupun pendidikan dimasukkan sebagai salah satu bidang yang harus didesentralisasikan, pada kenyataannya negara memiliki peran yang sangat dominan. Contoh paling baik untuk menggambarkan kondisi tersebut misalnya pada pelaksanaan Ujian Nasional (UN).

Praktik pendidikan dengan peran negara yang dominan disebut penulis buku sebagai praktik pendidikan yang menerapkan prinsip pendidikan berbasis negara (state-based education). Menurut penulis, praktik tersebut hanya melahirkan partisipasi masyarakat yang semu (quasi participation). Inilah kritik yang penulis paparkan dalam buku ini. Continue reading

Menentukan Arah dan Masa Depan Pendidikan Nasional*


*Dimuat di Koran Jakarta, Selasa 20 November 2012

Banyak tokoh di negeri ini yang memiliki konsen serius tentang pendidikan. Salah satunya HAR Tilaar. Untuk menghormatinya, sejumlah tokoh menulis artikel dalam rangka ulang tahun dasawindunya. Mereka mengupas situasi belajar-mengajar yang sampai dewasa ini belum menemukan titik jelas arah.

Dalam buku ini termuat karya 26 artikel tentang arah dan masa depan pendidikan nasional. Secara umum, para penulis melihat bahwa pendidikan nasional hingga saat ini berada di persimpangan jalan. Mereka mencoba memberi alternatif solusi bagi persoalan tersebut.
Tulisan-tulisan dalam buku dibagi ke dalam dua kelompok, yakni tentang hidup dan pemikiran Tilaar yang banyak didedikasikan untuk pendidikan dan persoalan-persoalan pendidikan yang ditelaah dari berbagai perspektif.

Walaupun terdapat penulis yang pesimistis, di sisi lain ada juga pandangan yang optimistis tentang masa depan pendidikan Indonesia. Di tengah berbagai persoalan yang menerpa dunia pendidikan, para penulis mengkritik dan memberi solusi konstruktif.

Mengenai hidup dan pemikiran Tilaar, Darmaningtyas menyajikan satu-satunya tulisan dalam buku ini sebagai hasil diskusi langsung dengan Tilaar. Darmaningtyas menemukan arus pemikiran yang berbeda pada diri Tilaar, yang dimulai dari konservatif, konstruktif, dan kemudian (saat ini) berada pada arus kritis (halaman 39-58). Continue reading

Dari Pusat Menuju Perbatasan


Akhir tahun 2011 saya mendatangi Entikong, salah satu wilayah Indonesia yang berbatasan langsung dengan negara tetangga Malaysia. Kedatangan saya ke Entikong merupakan bagian dari tugas penelitian “Madrasah di Daerah Khusus” Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan Balitbang dan Diklat Kementerian Agama RI. (Mengenai hasil penelitian Madrasah di Daerah Khusus saya sajikan dalam tulisan lain).

Perjalanan menuju Entikong saya tempuh melalui perjalanan udara dari Bandara Internasional Soekarno Hatta menuju Bandara Supadio Pontianak. Perjalanan udara Jakarta-Pontianak memakan waktu kurang lebih 1 jam. Dari Bandara Supadio menuju hotel terdekat menempuh waktu perjalanan 30 menit menggunakan taksi. Dari Pontianak menuju Entikong, perjalanan ditempuh dengan jalur darat menggunakan jasa travel (di Pontianak, mobil yang digunakan untuk travel juga disebut taksi). Perjalanan Pontianak-Entikong juga dapat ditempuh dengan menggunakan angkutan umum berupa bis. Dengan waktu perjalanan yang lumayan lama, sekitar 7 jam, perjalanan dari Pontianak menuju Entikong lebih nyaman menggunakan jasa travel.

Suasana Pontianak tidak jauh dari Jakarta, sama-sama panas tetapi tidak macet. Pontianak dibelah olah salah satu sungai terbesar di Kalimantan, yaitu Sungai Kapuas. Sungai-sungai di Kalimantan cukup banyak. Maka tak heran jika Kalimantan mendapat sebutan “Pulau Seribu Sungai”. Continue reading

Membangun Kampus Inklusif, Menuju Kampus Ramah dan Non-Diskriminatif bagi Penyandang Disabilitas*


*Meraih Juara Pertama dalam Lomba Menulis untuk Mahasiswa Se-Jabodetabek yang diselenggarakan oleh Yayasan Mitra Netra dan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Indonesia (FISIP UI) serta didukung oleh DPP Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni), The International Council of Education for People with Visual Impairment (ICEVI) dan The Nippon Foundation (TNF)

Dimuat di KOMPAS

Oleh: Kamal Fuadi (Mahasiswa KI-Manajemen Pendidikan FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)

Pendahuluan

Indonesia merupakan negara yang memiliki komitmen tinggi dalam pendidikan. Komitmen tersebut dibuktikan dengan pencantuman upaya pencerdasan bangsa dalam konstitusi tertinggi negara. Sebagai manifestasi komitmen, pemerintah menyelenggarakan pendidikan untuk semua warga dari mulai jenjang pendidikan dasar hingga perguruan tinggi.
Pemerintah mengupayakan penyelenggaraan pendidikan agar dapat berjalan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural dan kemajemukan bangsa. Dalam kerangka tersebut, pemerintah menyelenggarakan pendidikan yang memperhatikan perbedaan-perbedaan yang terdapat pada individu-individu. Warga negara normal (baca: tidak menyandang disabilitas) diberikan akses untuk mengenyam pendidikan. Pun dengan warga negara yang tidak normal (baca: penyandang disabilitas) diberikan akses serupa. Namun demikian, warga negara penyandang disabilitas belum diberi akses mengenyam pendidikan tinggi secara maksimal. Untuk itulah tulisan singkat ini menelaah tentang penyelenggaraan pendidikan pada jenjang perguruan tinggi bagi penyandang disabilitas serta strategi mewujudkan kampus yang ramah dan non-diskriminatif bagi penyandang disabilitas. Continue reading