Bank Sampah Nurul Hikmah Tuwel Bojong Tegal


Di tengah masyarakat baik di kota maupun di desa, jamak ditemukan mereka yang membuang sampah sembarangan seperti di kebun belakang rumah, tanah pekarangan yang tidak dipakai, dan yang paling sering di kali atau sungai. Perilaku membuang sampah sembarangan tersebut telah membudaya dan biasanya sulit untuk diubah. Sampah yang dibuang sembarangan terus menumpuk. Di kemudian hari, sampah akhirnya menjadi persoalan. Masyarakat kemudian cenderung menyalahkan satu sama lain. Sampah menjadi persoalan tak terpecahkan.

Persoalan serupa juga terjadi di Dukuh Tere Tuwel Kecamatan Bojong Kabupaten Tegal. Warga terbiasa membuang sampah di kebun dan kali jika tidak membakarnya. Berangkat dari adanya kesadaran bahwa sampah adalah persoalan dan perlunya pengelolaan sampah, warga Dukuh Tere berinisiatif untuk mengelola sampah dengan mendirikan Bank Sampah Nurul Hikmah pada akhir tahun 2013. Continue reading

Advertisements

Bakti Sosial SLKT untuk TBM Tiga Surau


Teman-teman grup Facebook Sisi Lain Kabupaten Tegal (SLKT) hari ini, Ahad, 12 Oktober 2014 berkunjung ke Taman Baca Masyarakat (TBM) Tiga Surau.

Mereka melaksanakan kegiatan Bakti Sosial dengan menyerahkan donasi buku, majalah, dan bahan bacaan lain. Selain itu, mereka juga membantu untuk bersih-bersih lingkungan serta membantu aktivitas Bank Sampah Majelis Ta’lim Nurul Hikmah.

Kunjungan dan donasi ini merupakan dukungan bagi kami dalam mengembangkan aktivitas literasi di tengah masyarakat Kabupaten Tegal.

Semoga semakin banyak anak-anak, remaja, pemuda, dan seluruh elemen masyarakat Tegal yang gemar membaca.

Salam literasi ūüôā

#TegalMembaca #IndonesiaMembaca

View on Path

Merebut Anggaran Publik*


*Dimuat di RADAR TEGAL, Senin, 25 Agustus 2014

Belakangan ini publik Kabupaten Tegal disuguhi polemik Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Perubahan (APBD-P) tahun 2014 antara anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Tegal Periode 2009-2014 dan Bupati Tegal. Anggota legislatif menyampaikan aspirasi agar ada porsi dana hibah dan bantuan sosial (bansos) yang perlu dialokasikan dalam APBD-P tahun 2014. Aspirasi tersebut ditentang oleh Bupati Tegal Enthus Susmono karena tidak memenuhi prosedur. Namun Bupati menjanjikan akan mengakomodasi aspirasi itu pada APBD-P tahun 2015 (Radar Tegal, 19-20 Agustus 2014).

Betul bahwa prosedur penganggaran dana hibah dan bansos pada APBD-P Kabupaten Tegal tahun 2014 tidak terpenuhi karena tidak diajukan sebelum sidang paripurna sehingga mendapat tentangan dari Bupati. Mengapa pengajuan aspirasi tersebut dilakukan setelah sidang paripurna?.

Hal yang juga perlu mendapat sorotan adalah urgensi dari alokasi dana hibah dan bansos yang diinginkan anggota legislatif. Anggota legislatif berargumen bahwa dana hibah dan bansos adalah bagian dari pokok-pokok pikiran DPRD yang tidak akan disalahgunakan untuk kepentingan pribadi atau kelompoknya (baca: partai). Fenomena yang sering mengemuka tentang dana hibah dan bansos tidak lain adalah mengenai penyelewengan dalam penggunannya. Continue reading

Pencurian di Bus Sinar Jaya Eksekutif


Sabtu, 16 November 2013 pukul 20.00 saya berangkat ke Jakarta bersama seorang teman naik bus Sinar Jaya Eksekutif bernomor polisi B 7328 HIS dari Terminal Slawi Kabupaten Tegal. Bus ini berhenti terakhir di Terminal Kampung Rambutan dan Terminal Lebak Bulus.

Saya tiba di Terminal Slawi pukul 19.00. Karena keberangkatan bus masih 1 jam lagi, saya mengajak teman saya untuk makan di area Taman Rakyat Slawi (TRASA). Masing-masing dari kami membawa 2 tas. 1 tas besar berisi pakaian kami letakkan di bawah jok. Sementara tas lain berisi laptop, charger laptop, charger handphone, hard disk eksternal, dan buku-buku saya bawa.

Menjelang pukul 20.00 kami langsung menuju bus. Tas berisi laptop saya letakkan di tempat tas tepat di atas kursi tempat kami duduk. Bus pun melaju menuju Jakarta.

Selama di perjalanan teman saya tertidur pulas. Saya pun akhirnya ikut tidur. Saat terjaga saya selalu memperhatikan posisi tas. Tas masih berada dalam posisi semula. Hingga bus berhenti di rumah makan tempat singgah untuk istirahat, tas masih berada dalam posisi yang sama. Selama istirahat  saya tidak turun dari bus. Saya juga tidak tidur. Hanya teman saya yang turun untuk makan. Sampai bus berangkat  kami masih dalam kondisi terjaga. Continue reading

Kunjungan Edi Dimyati (Kampung Buku) ke TBM Tiga Surau


Rabu, 14 Agustus 2013, Edi Dimyati (Pendiri Kampung Buku Cibubur, Redaktur Majalah HAI, Penulis Buku “47 Museum Jakarta”) berkunjung ke Taman Baca Masyarakat Tiga Surau Dukuh Tere Tuwel Kecamatan Bojong Kabupaten Tegal setelah sebelumnya berkunjung ke saudaranya di Kebumen dan temannya di Wonosobo. Kunjungan ini merupakan kunjungan balasan setelah beberapa bulan sebelumnya saya berkunjung ke Kampung Buku di Cibubur.

Pertemuan saya dengan Edi Dimyati di Taman Baca Masyarakat Tiga Surau adalah pertemuan kali ketiga. Pertemuan pertama saat saya berkunjung ke Kampung Buku di Cibubur. Pertemua kedua saat saya berkesempatan untuk menghadiri Olimpiade Taman Baca Anak-anak (OTBA) di Bumi Perkemahan Ragunan.

ImageDalam kunjungan ke Taman Baca Masyarakat Tiga Surau Edi Dimyati berbagi cerita dan pengalaman saat pertama kali mendirikan Taman Baca Masyarakat Kuartet yang merupakan cikal bakal Kampung Buku. Selain itu, Edi Dimyati juga berbagi tips yang dapat dilakukan untuk memotivasi masyarakat agar suka membaca. Di akhir pertemuan dengan teman-teman Kurator Taman Baca Masyarakat Tiga Surau, Edi Dimyati memperagakan trik sulap dan tebak-tebakan.

Keesokan harinya, saya mengantar Edi Dimyati untuk berjalan-jalan keliling Tegal. Tujuan utama Edi Dimyati tentu saja museum-museum yang ada di Tegal. Edi Dimyati sudah membuat daftar tempat mana saja yang akan dikunjungi. Selain museum, Edi Dimyati juga berkunjung ke lokasi-lokasi wisata di Tegal. Beberapa lokasi yang dikunjungi yaitu Obyek Wisata Air Panas Guci, Perpustakaan Daerah Tegal Soekarno-Hatta, Museum Sekolah, Rumah Wayang Ki Enthus Susmono, Taman Poci, Pantai Alam Indah (PAI), dan Waduk Cacaban. Beberapa lokasi tidak jadi dikunjungi karena keterbatasan waktu. Lokasi yang tidak jadi dikunjungi yaitu Museum Semedo, Goa Walet, dan Purwahamba Indah.

Ironi Negeri Hortikultura


GUNUNG SLAMET TUWEL

Di kaki Gunung Slamet ini, tepatnya di Desa Tuwel Kecamatan Bojong Kabupaten Tegal Propinsi Jawa Tengah, bawang putih pernah berjaya menjadi komoditas hasil pertanian yang dibanggakan petani hingga tahun 1997-1998. Sebagian besar petani menggantungkan hidupnya dari bawang putih. Data Kementerian Pertanian mencatat bahwa swasembada bawang putih nasional berlangsung hingga tahun 1998.

Kini saat harga bawang putih melambung tinggi, petani justru disalahkan karena mereka dianggap lebih memilih untuk menanam tanaman lain yang memiliki harga jual lebih mahal. Kabarnya di tahun 2013 ini, pemerintah berencana menggelontorkan bantuan bibit bawang putih sebanyak 60 ton untuk (kelompok) petani. Pemberian bibit tersebut diharapkan dapat memberikan stimulus bagi petani untuk kembali menanam bawang putih. Namun di sisi lain, pemerintah malah membuka kran impor bawang putih dengan begitu bebas. Bawang putih impor inilah yang selama ini menjatuhkan harga bawang putih lokal.

Kabupaten Tegal tidak lama lagi akan menggelar hajat besar pemilihan kepala daerah untuk periode 2013-2018. Dengan potensi pertanian Tegal, terutama hortikultura, yang besar, sudah seharusnya Tegal mendapatkan pemimpin baru yang memberikan atensi besar kepada sektor pertanian. Tegal membutuhkan pemimpin visioner yang memiliki perhatian terhadap masa depan pertanian Tegal.

Sekadar diingat, Menteri Pertanian Kabinet Jilid II SBY berasal dari Tegal.

Menyoal Pertanian Hortikultura di Tegal


Dimuat di RADAR TEGAL edisi Kamis, 28 Februari 2013

Kabupaten Tegal adalah wilayah pertanian. Sebanyak 45,84% dari 878,79 km persegi total luas wilayah Tegal adalah lahan sawah. Jumlah penduduk Tegal yang menggantungkan pencaharian dari pertanian berjumlah hampir 33%. Selain itu, perekonomian Tegal mendapat dukungan sebesar 14,12% ADHB atau 16,43% ADHK dengan pertumbuhan di sektor ini mencapai 10,02% ADHB atau 2,46% ADHK (BPS Kabupaten Tegal).

Kabupaten Tegal pernah dikenal sebagai salah satu daerah swasembada beras dan menjadi lumbung padi Provinsi Jawa Tengah bagian tengah. Selain itu, Kabupaten Tegal pernah juga dikenal sebagai daerah penghasil bawang putih. Namun hasil pertanian bawang putih kemudian menurun drastis karena adanya kebijakan kemudahan impor sehingga bawang impor dengan harga lebih rendah dan performa menarik leluasa masuk ke pasar domestik. Semenjak itu para petani banyak yang tidak lagi menanam bawang putih dan beralih menanam sayur. Tanaman sayur di kemudian hari menjadi salah satu komoditi ekspor yang disoroti pemerintah pusat. Continue reading